Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Bab 74


__ADS_3

"Kamu benar-benar lalai, bagaimana bisa ibu sampai terjatuh," sentak Doly geram pada Sarah, setelah ia datang ke rumah sakit tempat ibunya di rawat. Saat itu keadaan Bu Henny masih kritis. Dia belum sadar juga meski para dokter telah memberi pengobatan. Kemungkinan ibunya. mengalami gegar otak ringan, semoga ibunya mampu bertahan melewati masa kritisnya.


"Tengah malam itu ibu terbangun dan haus, ibu pergi ke dapur dan menyenggol termos. Saat itu aku sudah tidur dan terjaga karena mendengar suara ribut. Saat membersihkan serpihan beling, ibu mau balik lagi ke kamar dan terjatuh," jelas Sarah.


"Sudah tau Ibu sakit, kenapa malah dibiarkan sendiri ambil minum, itu berarti kamu tidak merawat ibu. Dokter, bilang sakit ibu sudah lama dan sama sekali tidak ada obat yang masuk. Ibu kekurangan vitamin dan nutrisi. Tidak mungkin ibu tidak mengeluhkan penyakitnya. Kondisi gizi ibu juga sangat buruk. Kamu benar-benar telah mengabaikan Ibu. Padahal, ibu punya uang kan? Jangan- jangan uang ibu telah habiskan kau gunakan untuk kepentingan dirimu sendiri," cecar Doly emosi karena dokter telah memberitahukan kepadanya keadaan ibunya yang sebenarnya.


Sarah sangat ketakutan menghadapi kemarahan Doly.


"Selama ini aku diam akan sikap dan prilakumu terhadap keluarga kami, tapi tidak dengan ibu. Jika terjadi sesuatu pada ibu, awas kamu! Aku tidak akan tinggal diam. Pada Bram, mungkin kamu bisa menipu dan menyitirnya tapi tidak denganku. Berdoalah kamu semoga ibu cepat sadar biar jelas persoalannya, apa yang terjadi pada Ibu." ancam Doly lagi pada Sarah.


Sarah diam saja menanggapi setiap ucapan, Doly. Percuma saja membantah ucapannya, bisa-bisa malah menambah kemarahannya nanti. Sikap tenag Sarah malah memicu emosi Doly. Namun, berusaha ia tahan. Doly tak ingin nantinya, Sarah, malah berbuat nekad sama ibunya.


Doly akan mengawasi setiap tindak tanduk Sarah, selama ibunya dirawat. Setelah hampir seminggu dirawat akhirnya Bu Henny sadar dari komanya.


Tapi kondisinya tidak seperti dulu lagi. Bagian tubuh sebelah kiri Bu Henny mengalami kelumpuhan, dia juga kesulitan saat berbicara. Jadi saat berkomunikasi harus fokus mendengar suaranya yang terputus-putus.


Melihat keadaan mertuanya itu, Sarah, merasa bersyukur juga karena kondisi itu menguntungkannya. Ibu mertuanya jadi kesulitan untuk berbicara dan lawan bicaranya juga susah mengerti apa yang dibicarakan.

__ADS_1


Saat Bu Henny sadar dari komanya, beliau sangat senang ketika melihat Doly putra bungsunya. Bu Henny hendak bicara agar Doly membawanya pulang.


"Puji Tuhan, ibu telah sadar," ucap Doly lirih saat ibunya membuka matanya. Doly meraih lengan ibu yang bebas dari selang infus, menciuminya penuh haru. "Bagaimana perasaan, ibu? Ibu, baik- baik 'kan?"


Bu Henny hendak menyahut, tapi lidahnya terasa berat sekali. Jangankan untuk bicara, menelan salivanya saja dia tak mampu. Lehernya terasa kaku dan lidahnya seakan tertarik ke dalam. Bu Henny meneteskan air matanya, untuk mengekspresikan emosinya. Melihat itu, Doly, merasa trenyuh. Doly tau kondisi fisik ibunya tidak seperti dulu lagi.


Dokter telah menceritakan semua, kemungkinan ibunya akan lumpuh paska koma. Separuh dari tubuh ibunya kini tidak berfungsi lagi alias lumpuh, permanen.


"Aaapa yyaang terjaaadi, sssaaama iibu?" ucap Bu Henny tersendat. Susah payah beliau akhirnya berhasil melontarkan kalimat itu.


"Ibu, sakit. Ibu harus kuat, supaya sembuh," ucap Doly tersenyum lembut. Menyesal sekali dia karena selama ini membiarkan saja ibunya tinggal bersama.Sarah. Tidak pernah menghubunginya karena terbawa emosi. Ibunya memang pernah menghubunginya sesekali, tapi karena dia acuh tak pernah mengangkat teleponnya, akhirnya mereka lost kontak beberapa bulan terakhir ini.


Kenyataan itu tentu saja mengagetkan Doly, karena selama ini ibunya adalah sosok yang peduli dengan kesehatannya. Bagaimana bisa sakit mendadak dan parah pula. Jadi wajar saja jika Doly curiga pada kakak iparnya.


Siapa tau kakak iparnya telah menelantarkan ibunya selama ini, sampai bisa mengalami sakit berat. Tqpi untuk menuduh kakak iparnya begitu saja juga tidak mungkin, kecuali ada bukti atau saksi yang pernah melihat perlakuan Sarah pada ibunya.


"Dooly, baawaa, iiibu puulaaang, nak," ucap Bu Henny dengan susah payah. Butuh beberapa menit bagi Doly untuk menyimak ucapan ibunya.

__ADS_1


"Baiklah Bu, Doly akan bawa ibu pulang. Ibu, tinggal bersama Doly saja." Doly mengusap air mata ibunya yang merebak di kedua pipinya. Dari sini Doly meyakini kalau Sarah pasti telah berbuat kasar pada ibunya.


"Apa Sarah telah menyakiti hati, Ibu? Ibu jangan takut, Doly, akan melindungi ibu," bujuk Doly. Tangis Bu Henny makin terdengar memilukan. Bu Henny hanya mengangguk, susah sekali baginya untuk menceritakan semua perlakuan menantunya, selalma ini padanya.


Menantu yang ia bela selalu, ternyata malah tega mengabaikan dirinya. Menjadikannya seperti seorang pembantu. Mengurus segala keperluan rumah tak kenal waktu. Sedikit saja pekerjaannya salah, Sarah akan merepet sepanjang hari.


Di saat-saat seperti ini, Bu Henny teringat akan perlakuannya pada menantunya Reny. Bagaimana dulu dia dengan kejam dan tanpa belas kasih, memnghasut Reny pada Bram anaknya. Semua hanya karena dia lebih menyayangi Sarah.


Padahal, Sarah adalalh menatunya yang tidak punya moral, tapi malah dia lindungi. Seharusnya waktu itu dia turuti saja perkataan Rio, untuk membatalkan pernikalhan itu. Hanya karena tidak ingin nama keluarga besarnya tercoreng, malah menjadikan Sarah istri kedua Bram. Awalnya cuma diatas kertas. Tapi lama kelamaan Sarah dan Bram malah kebablasan.


Saat Reny mengutarakana kecurigaannya, kalau Sarah telah selingkuh dengan Bram, Sarah mengaku terus terang saat dia meminta kejujuran Sarah.


Namun saat mendapatkan pengakuan itu, bukannya marah dia malah seolah mendukung perselingkuhan itu. Karena dia kesal pada Reny, karena tidak setuju Bram memberi uang pada ibunya sendiri.


Mungkin ini adalah azab yang dia terima atas perlakuannya pada menantunya itu. Dia saat Reny mantan menantunya menemukan kebahagiannya karena telah bertemu dengan orang tua kandungnya. Dia sendiri justru harus merasakan sebagai orang tua lumpuh yang tak berdaya. Hanya berharap belas kasihan dari anaknya untuk merawatnya.


Perlahan dia.melihat kehancuran keluarganya. Anak yang selama ini dia bangga banggakan kini telah mendekam dalam penjara. Rio yang yang kecewa atas perbuatan adiknya, Bram, juga telah lama pergi dan tak peduli padanya lagi.

__ADS_1


Hanya anak bungsunya, Doly, yang bisa ia harapkan untuk merawatnya. Entah, apa nanti menantunya Ines, setuju. Karena selama ini hubungannya dengan Ines, terbilang tidak akrab. Lagi-lagi itu karena ulah Sarah juga. Sekarang, Bu Henny makin manyadari, kalau Sarah membawa pengaruh buruk pada keluarganya. Sayangnya, baru sekarang ia sadari, setelah segalanya terlanjur hancur.*****


__ADS_2