
Agina keluar dengan perasaan marah bercampur bahagia. Marah karena Agra yang menciumnya. Bahagia karena telah berhasil menghentikan rencana tuan Johan.
Dering ponsel menghentikan Agina menaiki motornya. Segera ia angkat tapi ponselnya ia masukkan ke dalam helm. Agina menaiki motornya.
"Aku dengar dari pengawal, si tua itu datang ke perusahaan Agra." Sahut dari seberang sana. "Pengawal tidak bisa masuk ke dalam jadi dia hanya menunggu di luar."
"Tenang saja, aku mengikutinya ke ruangan Agra." Agina menyalakan motornya dan menjalankannya dengan kecepatan sedang.
"Apa yang mereka bicarakan?"
"Dia mengubah topik pembicaraan. Dia malah membahas tentang kapan menikahi putrinya."
"Si tua itu pandai sekali mengarang." Tertawa.
"Aku merekam pembicaraan mereka. Akanku kirim kepadamu nanti."
Sebenarnya jam tangan Agina di rancang khusus dengan alat merekam di dalamnya. Bukan hanya dapat mereka suara tapi juga gambaran melalui kamera kecil. Saat Agra dan Johan bicara, ia mengarahkan jam tangannya ke arah mereka. Jadi Agina tidak perlu memasang telinganya untuk menguping.
Agina mematikan ponselnya setelah memberi tau Stiffen. Ia memasukkannya ke dalam saku celana jinsnya. Menambah kecepatan motornya. Tujuannya kali ini perusahaan Army Group.
......................
Agina memasuki perusahaan. Kedua tangannya berada dalam saku. Wajahnya yang datar serta jalannya yang tegas membuat semua orang menunduk melihatnya. Siapa yang tidak mengenal Agina di perusahaan ini. Teman dari sang pemilik perusahaan Army Group.
"Sudah lama kau tidak ke sini Agina." Ujar seorang laki laki mendekat ke arahnya.
"Erwin!" Serunya. Erwin memeluknya yang langsung di balas Agina. Erwin mengakhiri pelukannya.
"Heh, ternyata kau sangat mengingat peraturan itu." Sinis Agina. Karena tau Erwin melakukannya selama lima menit.
"Tentu saja. Lagi pula aku juga sudah memiliki pacar." Ucap Erwin.
Agina memerhatikan gadis di samping Erwin. "Kenapa menatapku begitu?" Tanya Agina karena gadis itu menatapnya dari atas sampai bawah.
Tiba tiba gadis itu menatap tajam ke arah Agina. Agina menaikkan sebelah alisnya bingung. Pacar Erwin aneh sekali pikirnya.
"Kau Agina yang di kabarkan kejam itu kan?" Tanya gadis itu penuh selidik. Erwin menelan salivanya mendengar pertanyaan kekasihnya.
"Iya. Kenapa?" Tidak peduli. Wajahnya tetap datar tidak tersinggung dengan kalimat itu. Erwin lega karena Agina tidak marah.
Gadis itu mendekati Agina dan menangkup tangannya. "Kau sangat cantik!" Dengan mata berbinar.
"Eh!"
"Meskipun wajahmu datar, tapi itu tidak menghilangkan kecantikanmu. Malahan kau tampak anggun dan elegan." Ucap gadis itu dengan semangat.
Agina mengelus dadanya mendengar pernyataan gadis di depannya. Erwin melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Dari mana kau mendapatkan pernyataan seperti itu?" Agina masih syok.
Gadis itu melepas tangan Agina. Ia tersenyum. "Perkenalkan, namaku Tamaki. Seperti yang kau ketahui, aku kekasih Erwin." Tamaki mengulurkan tangannya.
Agina menerimanya. "Aku mengenal dirimu. Senang berkenalan denganmu."
Mereka melepas jabatan tangan.
Erwin merangkul pundak kekasihnya. "Ada apa kau mencariku?"
"Aku butuh bantuanmu?" Serius.
Tamaki menelan salivanya. Wajah Agina membuatnya takut sekarang. Kabar angin yang mengatakan Agina si gadis menyeramkan rupanya benar.
Agina melirik ke arah Tamaki yang pucat. "Kenapa? kau ingin menarik ucapanmu tadi?"
"Tidak, tidak. Kau memang sangat cantik." Tamaki nyengir.
Agina menatap Erwin. "Ini tentang tuan Agra."
"Aku tau." Erwin menjawab malas. Ia sudah terbiasa dengan Agina yang selalu berkaitan dengan Agra.
"Kalau begitu, aku pamit ya." Tamika melambai tangan. Tapi sebelum itu Erwin mengecup keningnya dan membalas lambaian kekasihnya.
"Kita bicarakan di ruanganku." Ucap Erwin.
Erwin menyilangkan kakinya."Kau butuh bantuan apa?"
"Kau terbiasa melihat orang berhubungan intim 'kan?"
"Maksudmu s***?" Agina mengangguk. "Siapa yang ingin foto?"
Agina tersenyum miring, ia tau Erwin mengerti maksudnya. Agina melempar selembar foto ke meja yang menjadi penghalang.
Erwin mengambilnya. "Olivia Dreandara, model yang sedang naik daun itu kan. Bukankah dia itu kekasih Agra?"
Agina mengangguk. "Aku ingin kau pergi ke Club, dan memotret segala kegiatannya di sana."
"Apa dia pecandu s*** atau dia wanita penghibur di sana." Erwin menopang wajahnya dengan satu tangan. "Atau dia menjadi model papan atas karena berhasil memuaskan hasrat pria tua."
"Sebuah kejadian yang menimpa Olivia di masa lalu, membuatnya jadi pecandu s***. Soal menjadi model papan atas, cukup menggunakan label kekasih tuan Agra." Jelas Agina.
"Jadi kau ingin aku memotret artis itu saat melakukan kegiatan intimnya?" Agina mengangguk. "Menarik! Apa yang aku dapatkan jika membantumu?"
Agina menyeringai. "Anjing mana yang kau inginkan?"
Agina cukup mengenal teman masa kecilnya ini sangat menyukai anjing. Bahkan semua anjing langka dia mempunyainya. Tapi itu tidak sebanding dengan anjing kesayangannya.
__ADS_1
"Tidak, kali ini aku tidak meminta anjing. Anjing di rumahku sudah terlalu banyak."
"Lalu, apa yang kau inginkan?"
"Berkumpul bersama!"
"Hah!"
Erwin tersenyum. "Aku ingin kita semua berkumpul bersama seperti dulu."
Agina menghembuskan nafasnya. "Apa benar itu yang kau inginkan?"
"Aku merindukan masa masa itu. Sekarang kita sudah dewasa, mempunyai kesibukan masing masing. Tidak punya waktu untuk berkumpul lagi." Erwin tersenyum getir. "Tapi di antara kita, kau dan kak Stif lah yang paling sibuk. Kalian tidak punya waktu untuk untuk bersenang senang."
"Kak Stif membantuku, akulah yang membuatnya menjadi sibuk." Agina menatap lantai.
"Kau tidak perlu merasa bersalah. Kakakku membantumu karena menyayangimu. Lagipula menyamar jadi pelayan pasti banyak rintangan, itu bisa menjadi pelatihannya sebelum meneruskan bisnis keluarga." Erwin mencoba menghibur Agina.
"Dasar kau!" Agina menggeleng kepalanya.
"Bagaimana keadaan kakak Stif?"
"Kau tidak pernah menghubungi kakakmu?" Erwin nyengir. Agina sudah menduga jawabannya. "Dia baik baik saja. Sekarang dia sudah melakukan semuanya, kurasa sudah waktunya dia kembali ke tempat asal."
Agina menghela nafas melihat kelakuan kakak dan adik ini. Saat bertemu pasti ada perdebatan. Tapi di balik itu semua, Agina tau mereka peduli satu sama lain dan saling menyayangi.
"Syukurlah. Kau tau, dia lebih cocok jadi pelayan dari pada mafia." Seloroh Erwin sambil tertawa. Agina menatap datar. "Ibu menanyakanmu dan kakak?"
"Eum, kenapa tidak telepon?"
"Dia takut menelpon di saat yang tidak tepat." Erwin menghela nafas.
"Saat kalian menelpon aku dan kak Stif, pasti yang kalian pikirkan takut menelpon di saat tidak tepat."
"Takutnya mengganggu."
Agina bangkit dari duduknya. "Sudah sore, aku pulang dulu. Tugas itu kuserahkan kepadamu. Dan soal permintaanmu, kau akan mendapatkannya."
"Permintaanku kau lupakan saja. Aku mengetesmu saja."
"Janji adalah janji!" Setelah itu Agina pergi.
"Ya aku tau kau orang yang menepati janji, bahkan karena janji kau jadi seperti ini sekarang." Ucap Erwin sendu.
......................
...INGAT KATAKU,SETIAP KATA DAN KALIMAT HARUS KALIAN PERHATIKAN KARENA ITU KUNCI MEMECAHKAN MISTERI DALAM NOVEL INI....
__ADS_1
......TERIMA KASIH SUDAH BACA DAN LIKE, KOMEN.......