
Deburan ombak memecah di pantai. Kepiting- kepiting kecil berlari karena pasir tempat sembunyinya tersaput ombak. Aku tersenyum kecil melihat tingkah kepiting mungil itu. Dengan latahnya aku mengikuti mereka berlarian, persis anak kecil saja.
Bapak dan Mak tengah bermain pasir bersama kedua cucunya Devan dan Mitha, anakku. Sedang aku asyik sendiri menyusuri pantai. Entahlah, hatiku memang lagi galau. Ingin rasanya aku bercerita pada kepiting lucu itu, tapi setiap kali aku mendekatinya mereka malah ketakutan dan sembunyi di dalam pasir.
Tanpa sadar langkahku makin menjauh, aku baru terhenti ketika sebuah suara memanggilku. Aku menoleh ternyata Dion? Ah, lagi, lagi dia. Bisa- bisanya dia muncul di sini? Disaat aku menghindar dan ingin mencari jawaban dari hatiku, dia malah muncul seenaknya. Kini sosok itu berlari menghampiriku, ingin kuacuhkan tapi mataku malah menghitung langkahnya dengan seksama, menikmati setiap geraknya hingga dia kini berdiri menjulang di hadapanku
Sesempit inikah dunia, sehingga ruang gerakku tak lepas dari keberadaannya? Mata elangnya kini menghujam wajahku. Mencoba menelisik setiap lekuknya dengan netranya yang tajam seolah menghukumku, karena ada bara terpatri cukup jelas di sana. Aku paham arti pandangan itu, tatapan mata tanpa aksara karena sudah lebih seminggu aku menghindarinya.
Aku mencari sosok lain, siapa tau ada yang mengikutinya. Sekalian menghindar dari hukuman, bila mungkin.
"Kamu liatin siapa?" ucapnya mengikuti arah mataku. Nada suaranya yang penuh tekanan, sudah mampu mengintimidasiku. Sejenak aku menggigil.
"Raisa mana?" tanyaku gelagapan.
"Raisa di rumah, bersama pengasuhnya!" ucapnya dingin sedingin angin yang berkesiur.
"Kamu dengan siapa?" lanjutnya lagi, maju satu langkah, dan aku mundur dua langkah. Agak ngeri juga aku melihat rahang yang terkatup tegang itu, sepertinya menahan amarah.
"Bapak dan Mak, semalam mereka datang berkunjung." Aku berusaha bersikap tenang. Bagaimanapun, aku terlibat dalam sikapnya. Seminggu ini aku menghindarinya tanpa alasan, ponselku selalu ku silent. Tidakkah sikap itu naif dan kekanakan?
"Pada akhirnya semua memang menjadi baik bagimu, Reny," ucap Dion tak lampias. Dia mengarahkan pandangannya ke laut lepas, kedua tangannya dimasukan ke kantong celana jinsnya. T-shirt yang dia kenakan membalut pas tubuhnya yang kukuh. Rambutnya berkeriap-keriap di permainkan angin yang seketika membuatku cemburu. Tanganku terasa gatal untuk merapikannya! Duh pikiran apa pula ini.
Hatiku sungguh tak bisa memungkiri, dalam pose seperti itu semakin membuatku mengaguminya. Ingin aku abadaikan dalam sebuah foto. Norak! Hardik batinku. Aku sudah meraba ponsel di kantongku untuk diam-diam mencuri fotonya. Saat tiba-tiba dia berbalik dan melontarkan sebuah tanya.
"Kenapa Reny?" tatapnya menghujam ke arahku.
__ADS_1
"Apa?" jawabku gamang dan nampak bodoh karena telah terperangkap oleh netranya. Aku tak mampu menghindar bahkan untuk sekedar berkedip.
"Kukira kamu tidak akan sebodoh itu, Reny, untuk tidak mengerti sinyal yang aku tunjukkan selama ini. Kamu membuatku merasa panas dan dingin dalam waktu bersamaan." Hujamnya seraya mencengkram lenganku. Aroma napasnya menyapu wajahku, kilatan di matanya seolah meluluhkan tubuhku. Aku merasakan kakiku gemetar, sehingga tak mampu menyangga tubuhku sendiri.
"A-aku, Aku minta maaf. Kamu jangan salah serpaham," lenguhku, susah payah menarik napas. Ternyata akuntidak sekuat yang aku kira. Melihat Dion yang tertekan seperti itu melumpuhkan egoku sendiri. Aku sama menderitanya dengan dirinya.
Aku memang sengaja menghindarinya, mengubah jadwal kerjaku diam-diam hanya untuk meminimalisir pertemuan antara kami. Tak kusangaka akibatnya sekacau ini. Aku malah tak fokus bekerja, bahkan sudah mendapat terguran dari papa. Karena itulah aku mengajak liburan ke pantai ini, untuk membuang rasa suntuk serta rasa aneh yang tidak kemengerti yang menyungkupi hati beberapa hari ini.
Dion menyangga tubuhku yang gemetaran dalam pelukannya. Otakku hendak menolak, tapi tubuhku malah merespon. Aku tak bisa menahan emosiku, dan menangis dalam pelukannya. Sepertinya aku telah terlalu jauh berlari, tapi aku selalu kembali ke titik awal yang membuatku lelah. dan putus asa.
"Jika kamu tidak suka, katakan saja, Ren. Tapi jangan menghindariku seperti ini. Itu membuatku gila dan tidak tau mau berbuat apa. Raisa sangat merindukanmu, dan selalu meminta untuk bertemu kamu." tuturnya membuatku semakin merasa bersalah. "Aku mohon, Reny, kamu boleh menolaku, tapi jangan menolak Raisa, dia sangat sayang sama kamu," lanjutnya seraya melepas pelukan kami.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menghindar. Kupikir, aku harus menjaga jarak, karena aku merasa semua itu tak layak aku miliki, a-aku...." Aku tak bisa melanjutkan kata-kataku, karena tiba- tiba Dion telah membungkam mulutku, dengan ciu***nya. Aku tak berdaya menolak, aku merasa itu adalah luapan hasratnya sekaligus hukuman atas diriku.
"Maafkan aku, Reny, aku sangat sayang dan takut kehilanganmu lagi," Dion kembali membawaku dalam pelukannya. Dadaku terasa sesak saat terbenam dalam pelukan dadanya yang bidang. Ah, rasaku yang hilang seolah perlahan mulai kembali. Kubalas pelukan Dion. Ingin kureguk keindahan yang dia tawarkan, semoga semua ini bukan mimpi ketika berakhir membuatku makin terluka.
"Siapa dia, kak," seru Tono dengan tatap penuh curiga. Wajahku memerah saking malunya, karena Tono tengah memergokiku berpelukan dengan Dion. Lidahkau terasa kelu untuk menjawab pertanyaan Tono.
"Aku, Dion Bimantara, calon suaminya," ucap dengan tegas. Mataku terbeliak mendengar ucapan Dion. Tono juga, kaget. Tentu saja dia kaget, karena aku belum pernah cerita apa-apa soal Dion pada keluargaku. Tiba-tiba dia mengaku sebagai calon suamiku.
"Benarkah itu? Kenapa kakak tidak pernah cerita?" tatap Tono kebingungan. Aku menggangguk dan menghindar dari tatapan itu.
Dalam hati aku merutuk mendengar jawaban Dion. Tapi Dion malah tersenyum saat mataku melabraknya.
"Ya, udah. Kakak dicari sedari tadi. Gak taunya ada di sini." Tono segera berbalik, pergi. Aku harus memberi penjelasan padanya nanti, panjang kali lebar soal siapa Dion.
__ADS_1
"Apa-apaan sih, tadi?" protesku pada Dion atas ucapannya tadi setelah Tono pergi.
"Aku bukan pria pengecut, apa salah aku jawab begitu?"
"Ih, tapi tidak dengan jawaban itu kali, banyak kata yang lain."
"Maaf kukira itu jawaban yang paling sempurna, supaya aku terhindar dari bogem adikmu," ucapnya licik seraya mengedipkan matanya.
"Iih, licik kali kamu, Harusnya aku teriak tadi biar kamu kena bogem. Aku berhutang penjelasan pada adikku itu. Sepulang dari sini akan ada sidang di gelar." ucapku mendramatisir situasi.
"Sidang? Sidang apaan?" tanyanya bodoh. Aku merasa lucu melihat paras Dion yang kebingungan.
"Ya, itu tadi. Karena kamu ngaku calon suamiku, aku akan disidang dalam keluarga," ucapku.
"Oh, soal itu aku siap menghadirinya. Sekalian saja aku melamarmu di hadapan orang tua kamu." ucapnya tegas .
"E-eh, tunggu dulu. Tidak semudah itu." Teriakku ketika Dion berlari ke arah perginya Tono.
"Saat ini juga aku akan lakukan, melamarmu Reny Theresa...." Teriaknya. Aku mengejar langkah Dion, sampai napasku terengah. Langkah Dion makin jauh, aku yakin pasti dia akan lebih dulu sampai di tempat Bapak dan Mak. Bisa saja dia akan nekad bicara pada Papa dan mama juga Bapak dan Mak.
Padahal aku belum pernah cerita apa- apa tentang dirinya pada keluargaku.
Lelah tak bisa mengejarnya, kujatuhkan saja diriku di atas pasir. Dion melihat langkahku yang terhenti, sehingga berbalik arah dan menemuiku.
"Jangan konyol kamu, ya. Papa dan mama juga Bapak dan Mak akan pingsan dengan ulahmu itu nanti," seruku begitu Dion menghenyakkan pantatnya di sisiku.
__ADS_1
"Kalau begitu, jangan tolak aku, aku bisa kehilangan otak warasku karena kamu, Reny." ucapnya disela napasnya yang masih terengah, sehabis lari. Aku hanya menatap Dion dengan pandangan melongo.
Tak kusangka Dion Bimantara, pengacara handal dan angkuh bisa sebucin ini. *****