Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
35.Di bawah langit senja.


__ADS_3

Bukan dia yang merebut mu dariku. Tapi akulah yang sejak awal kehilangan timing ku.


***Bagas Aditama***.


Dari kejauhan juga ada seorang laki-laki yang meneteskan air mata. Sekarang semua sudah usai, dia benar-benar kehilangan perempuan yang di cintai nya.


Semua orang yang ada di pesta tersebut memberi selamat kepada kedua mempelai. Begitupun dengan laki-laki tersebut dia berjalan mendekat ke arah pasangan yang sudah sah menjadi suami istri tersebut.


Sebuah kotak berwarna biru muda dia genggam erat. Biru adalah warna kesukaan Lisa.


"Bagas?" Lala menghentikan Bagas yang akan menemui Lisa.


"Hai La."


"Kau baru datang?."


Bagas hanya menganggukkan kepala nya sebagai jawaban atas pertanyaan Lala.


Saat Bagas berbalik menuju ke arah Lisa. Dia tidak melihat perempuan tersebut di tempatnya semula.


"Kau ingin menemui Lisa? mungkin dia di taman belakang. Ayo aku antar!."


Mereka berjalan beriringan. Lala Pamit kepada sang suami terlebih dulu karena ingin mengantar Bagas kepada Lisa. Lala merasa sedih melihat laki-laki yang berjalan bersama nya saat ini. Lala adalah orang yang paling tahu bagaimana hubungan keduanya. Mereka sama-sama suka dalam diam. Dan saat Bagas siap mengungkapkan semuanya perempuan yang dia cintai sudah menerima perjodohan dari orang tuanya.


Lisa duduk di bangku panjang berbahan kayu trembesi. Ia tadi berpamitan kepada Sakti untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Mungkin lebih tepatnya hatinya lah yang lelah.


"Lisa!" panggilan seseorang yang sangat dia hafal betul. Hatinya bergemuruh ingin menangis ingin memeluk laki-laki yang memanggil namanya saat ini. Tapi apa kata orang nanti. Seorang perempuan yang sudah bersuami menangisi laki-laki lain. Mungkin Ia tidak perduli lagi omongan orang.Mungkin ini adalah saat terakhir dia ingin memeluk laki-laki tersebut.


Lisa berbalik badan dia lihat Bagas begitu tampan hari ini. Laki-laki tersebut tersenyum lembut ke arah Lisa. Satu senyum yang menutupi sejuta luka. Membawa kado berbungkus kertas warna biru,warna kesukaannya. Kenapa Bagas tahu banyak hal tentang dirinya? kenapa Lisa tidak memperjuangkan cintanya kepada laki-laki yang ada di hadapan nya saat ini. Apa dia sekarang menyesal.

__ADS_1


"Aku tinggal dulu ke toilet sebentar ya?." Lala pergi meninggalkan Bagas dan Lisa di halaman belakang.


Kini mereka berdua duduk berhadapan. Meja berbahan kayu trembesi panjang dan tebal menjadi pembatas keduanya. Tidak ada kata yang keluar dari mulut keduanya. Hanya diam dan saling memandang satu sama lain.


"Ini untukmu?." Di serahkan kotak berwarna biru tersebut.


"Apa ini? kenapa kau membawa ini segala?."


"Sesuatu yang akan membuatmu senang." Bagas tersenyum membayangkan reaksi Lisa kalau mengetahui apa isi di dalamnya.


Perlahan Lisa membuka kertas pembungkus kado tersebut. "Kau masih ingat soal ini?" Lisa mengangkat hadiah tersebut.


"Tentu saja aku ingat, dan apapun itu tentang dirimu aku akan mengingat nya."


Kado itu adalah snowball Lisa begitu ingin memiliki itu tapi harus beli di Bandung.


"Bukankah sama saja, entah dari Jakarta atau Bandung apa bedanya?"


"Beda, pokoknya nanti kapan-kapan kita ke Bandung harus beli itu ya?."


"Iya nanti aku belikan."


Sekilas potongan ingatan saat mereka mengobrol soal snowball. Lisa begitu ingin memiliki benda itu tapi harus yang dari Bandung. Buliran bening menetes begitu saja tanpa permisi dari kedua sudut mata Lisa. Lagi-lagi Bagas menyentuh hatinya.


"Dulu ada salah satu teman ku memberikan ini saat kami tour wisata ke Bandung. Tapi pecah saat terjatuh karena aku tidak hati-hati saat membawanya. Itu adalah hadiah dari temanku yang waktu itu akan pindah ke kota lain. Dan sampai sekarang aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. " Lisa berucap dengan penuh penyesalan.


" Sudahlah, Kau tidak sengaja menjatuhkannya bukan?. " Tanpa di sengaja tangan Bagas terulur ke depan untuk menghapus air mata Lisa.


" Terimakasih."

__ADS_1


" Iya, berbahagia lah?"


" Banyak orang yang menyukai langit senja. Tapi entahlah aku tidak menyukai nya."


"Kenapa?."


"Aku seperti merasakan kesedihan."


"Ada aku disini jadi kau jangan sedih!."


"Kaulah senja itu, aku melihatnya hanya sebentar. Dan semua akan sirna di ganti kan malam yang gelap."


Bagas tahu betul apa arti ucapan Lisa tersebut.


"Maaf kan aku yang kurang gigih memperjuangkan mu? maafkan kebodohan ku? maafkan aku karena membuatmu sedih? maafkan aku karena..."


Lisa hanya geleng-geleng kepala menanggapi ucapan Bagas. Ia tutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Untuk menutupi air mata yang terus mengalir dari sudut matanya.


Bagas tidak bisa meneruskan ucapannya. Ia bangkit dari tempat duduknya berjongkok di hadapan perempuan yang di cintai nya. Di hapus air mata yang terus mengalir dari mata indah perempuan tersebut. Lalu ia peluk dengan sangat erat seolah tidak ingin di lepaskan.


Di sebuah pesta pernikahan di bawah langit senja dua insan yang saling mencintai sedang berpelukan sambil menangis. Bukan tangis bahagia karena ada pesta pernikahan. Tapi tangis sedih dan penyesalan dari dua insan yang saling mencintai.


Catatan author :Terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk baca karya ku. Silahkan komen dan like kalau kalian suka ya..


Aku bikin part ini agak nyesek sih soalnya aku sendiri pernah di posisi antara mereka bertiga. Jangan tanya aku yang mana ya? 🤭


Untuk hadiah snowball itu bener dari kisah nyataku yang dapat dari teman yang waktu itu mau pindah kota lain. Dan sampai sekarang kita ga pernah ketemu lagi 😢


Aku ga tau namanya nyari di google snowball yaudah pakai kata itu aja. Dan memang belinya di Bandung waktu itu. Sampai sekarang Bandung adalah kota favorit ku kota sejuta kenangan.

__ADS_1


__ADS_2