Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Setiap momen itu berharga.


__ADS_3

Cinta itu, aku dan kamu jadi kita.


Seorang wanita menangis tersedu sambil bersandar di sofa ruang tamu. Seolah penderitaan tak kunjung hilang dari hidupnya. Kenapa Tuhan begitu tidak adil pada dirinya. Baru saja ia menjalani kehidupan yang sederhana dan bahagia bersama sang anak kini ia harus di hadapkan dengan satu masalah lagi. Sang mantan suami menuntut hak asuh anak. Orang kaya selalu punya cara untuk mendapatkan keinginan mereka dengan uang. Dan si miskin tak mampu berkutik.


Bagaimana ia mendapatkan uang yang lebih banyak untuk menyewa pengacara. Sedangkan dirinya saja baru saja bekerja. Karena dulu selama menjadi istri dia tidak pernah bekerja. Dan mirisnya lagi saat perceraian sang mantan suami meminta semua pemberiannya. Sungguh pria yang tidak tahu malu. Harusnya ia memberi tunjangan perceraian, malah justru meminta kembali apa yang sudah ia berikan kepada sang mantan istri.


"Kenapa mas Andre meminta hak asuh? Bukankah anak di bawah umur dua belas tahun menjadi hak asuh sang ibu." Ada rasa khawatir di hati wanita tersebut.


"Mami, aku mau minum!" Ucap seorang anak laki-laki dengan khas suara bangun tidur.


Seketika Dina menyeka air mata yang sudah membasahi pipi mulusnya. Tidak ingin sang anak mengetahui kesedihannya. Bukankah seorang ibu akan selalu seperti ini. Lelah tak dirasa sedih sirna seketika saat di hadapkan dengan sang buah hati. Wanita lemah yang selalu terlihat baik-baik saja walaupun hati remuk redam.


"Pagi, sayang! Kau sudah bangun. Sebentar mami ambilkan minum sebentar." Dina bangkit dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minum untuk sang buah hati.


Segelas air hangat ia berikan kepada sang buah hati. "Ini, minumlah!"


"Makasih mami." Arthur mengambil gelas kaca berisi air hangat dan meminum nya.


Dina memandang wajah tampan sang putra. Bulu mata lentik dan alis yang tegas. Mirip sekali dengan sang mantan suami. Ada sedikit nyeri di relung hati. Kala memandang wajah sang putra. Seperti kaset film yang berputar. Ia mengingat setiap momen yang telah dilewati bersama sang suami. Rumah tangga yang dibina selama hampir delapan tahun kandas karena ada orang ketiga di antara mereka.


Di titik kesabaran seorang wanita dan ia sudah lelah berjuang seorang diri. Akhirnya memilih pergi dari kehidupan masa lalu. Bahkan tak terhitung ia mengiba kepada sang mantan suami untuk mempertahankan hubungannya. Harga dirinya jatuh di dalam jurang terdalam lautan cinta. Harapan mempunyai keluarga utuh mencintai sampai tua hanya sebatas angan saja. Hancur karena pihak ketiga yang hadir dalam hubungan mereka.


"Mami kenapa mata nya merah? Hayo, habis nangis ya?" tanya Arthur. Tunjuk Arthur ke arah wajah sang mami.

__ADS_1


"Tadi memasukkan debu." Elak Dina.


"Di kucek ya? Lain kali jangan gitu mami." Arthur memberi nasehat kepada Dina. Seperti orang dewasa, anak Dina tumbuh menjadi anak yang pintar.


"Iya, tadi di kucek. Mami ngga sengaja." Suara Dona bergetar menahan tangis. Bersyukur memiliki anak yang pintar dan perhatian seperti Arthur.


Masih ingat saat ia mengajak sang putra pindah dari rumah besar dan mewah sang mantan suami ke tempat yang kecil dan sederhana tidak ada penolakan dari Arthur. Bahkan putranya terlihat bahagia. Mungkin cara Dina mendidik sang putra lah yang membuat Arthur seperti itu. Dulu sang mantan suami terlalu sibuk bekerja sehingga jarang sekali punya waktu untuk dirinya. Sementara Dina hanya ibu rumah tangga. Circle pertemanan Dina mulai terbatas saat ia melepas pekerjaannya. Dan fokus menjadi istri dan ibu rumah tangga.


Keinginan yang di harap tak sesuai kenyataan. Justru ia menerima pengkhianatan dari sang suami saat itu. Kurang kah, Dina memberi? Tak layak lah, dirinya untuk sang suami? Terpuruk beberapa bulan dan akhirnya memilih melepas apa yang tidak bisa di genggam.


Kalau bersama hanya mendapat luka. Bukankah, sendiri itu lebih baik? Carilah bahagia dirimu sendiri dengan caramu! Bahagia itu harus di ciptakan.


*


*


*


"Masih ingat saat Lisa pertama kali berjalan kau menangis." Ucap Rima.


"Tentu saja, dia putriku aku bahagia akan hal itu. Setiap momen itu berharga saat aku di kantor ingin segera pulang melihat senyumnya yang manis. Ingin aku gendong dan ku cium dengan gemas pipinya yang penuh seperti bakpao." Yoga melihat ke atas ingatan masa lalu tentang sang putri menari indah di pikirkan nya.


"Tidak ingin bertemu aku? Aih, aku cemburu." Rima pura-pura marah ia mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Yoga tersenyum memandang sang istri penuh cinta. "Kau dan putri kita adalah cintaku untuk selamanya. Dan kau yang utama di hatiku karena dirimu aku mempunyai putri cantik dan baik seperti Lisa. Posisi mu di hati dan hidupku adalah ratu dan akan seterusnya seperti itu. Dan Lisa adalah putri. Kalian berharga untukku."


" Terimakasih atas semua cinta yang kau berikan sayang. Aku bersyukur dan bahagia memiliki suami seperti dirimu." Balas Rima.


"Aku lebih beruntung memiliki dirimu."


"Tapi, aku lebih cinta sama kamu lo, sayang."


"Aku lebih dan lebih lagi mencintaimu." Yoga tidak mau kalah dengan sang istri. Perdebatan soal siapa cintanya yang lebih banyak menjadi obrolan pagi hari yang dingin.


Mereka tertawa bersama. Ungkapan cinta kepada pasangan lewat kata adalah hal kecil untuk membuat bahagia pasangan kita. Dan tindakan yang nyata adalah langkah besar pembuktiannya. Jadi, lakukan keduanya.


"Ayo, kita pulang!" ajak Yoga.


Rima menganggukkan kepala ia segera bangkit menerima uluran tangan sang suami. Siapapun yang melihat mereka pasti akan tahu kalau ada banyak cinta yang di berikan Yoga kepada Rima. Cara memandang, memperlakukan pasangan dan ucapan cinta yang terus menerus bukti nyata.


Setiap momen berharga jangan lewatkan apapun itu. Karena waktu yang berputar tak akan bisa terulang. Jangan sampai penyesalan hadir di hidupmu. Ungkapkan kalau cinta dan buktikan dengan tindakan yang nyata.


"Rumah kita sekarang sepi ya?" Ucap Rima tiba-tiba pada sang suami.


"Iya, karena Lisa sudah punya kehidupan sendiri bersama sang suami."


"Iya waktu begitu cepat berlalu."

__ADS_1


"Semua akan seperti itu. Kau tahu sayang orang tua akan meninggalkan kita. Dan anak juga sama akan meninggalkan kita saat sudah menjalani kehidupannya. Dan hanya kita berdua. Jadi mari kita saling memberi kebahagiaan kita berbagi cerita bersama dan melakukan hal yang indah bersama. Ayo lewati masa tua kita yang indah dan berharga."


" Iya, ayo kita lewati hari penuh kebahagiaan. Saling memberi cinta kasih."


__ADS_2