Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Bab 58


__ADS_3

"Umur hanya sebuah angka, bukan halangan untuk mengisinya dengan berbagai hal yang baru. Mengasah pribadi agar menjadi sosok yang berguna. Bila ada kesempatan, kenapa tidak mengubah takdir?"


Enam bulan telah berlalu, aku belajar tidak hentinya. Seperti kata mama dan Papa, mereka akan mendatangkan guru instruktur untuk mengajariku di rumah. Dasar otakku yang sudah mulai buntu, terus ditambah aku yang gaptek. Proses belajarnya terkadang sangat melelahkan.


Terkadang malah aku ingin menyerah. Tak perduli dengan semua ***** bengek proses belajar itu. Masih banyak hal yang bisa aku lakukan, untuk masa depanku. Tanpa harus terlibat dengan dunia usaha yang dilakoni papa.


Papa sudah terlahir jadi seotang pebisnis handal, dan itu menurutku tidaklah diturunkan, tapi karena keuletan dan kegigihan dalam menggeluti dunia bisnis. Menurutku, jelas-jelas itu bukanlah duniaku.


Aku lebih tertarik, ke dunia memasak. Dari pada mengurusi terlibat dunia pertanian, perkebunan, serta perhotelan yang telah digeluti papa.


Sementara papa ingin menjadikan aku menekuni bidang yang sama. Papa ingin akulah pewaris tahta kerajaan bisnisnya. Padahal aku punya seorang adik laki-laki, menurutku dialah yang lebih pantas tapi karena selalu berbuat masalah, papa dan mama tidak lagi respek padanya. Kecuali, ada keajaiban Arby berubah. Tapi tidak mungkin dia akan berubah dalam sekejap.


Aku cukup heran juga, kenapa Arby adikku menyia-nyiakan masa depannya dengan minuman dan dugem setiap malam. Apakah dia punya masalah yang terpendam, sementara dia tak bisa berbagi karena kesibukan papa atau ketak pedulian mama.


Rasanya ingin mengajaknya duduk bersama, ingin mendengar dan mengenalnya lebih jauh. Tapi rasa canggung masih saja menguasaiku. Terlebih karena Arby seolah menghindariku dan enggan bersua. Terutama sejak insiden malam itu.


Namun, naluriku seolah mengatakan kalau Arby tengah memikul beban, yang dia juga bingung mau berbagi dengan siapa. Semua itu jelas aku lihat di sinar matanya dan entah kenapa aku merasa ada sangkut pautnya dengan itu.


Dengan kehadiranku di rumah ini, jelas dia merasa tidak aman. Karena mungkin dia merasa terancam karena posisinya sebagai anak angkat. Padahal aku tak ada terbersit sedikit pun untuk menggeser posisinya. Bagaimanapun dia adalah tetap adikku, karena dialah yang hadir menemani papa dan mama selama ini.

__ADS_1


Justru akulah yang merasa canggung karena selama ini keluarga yang aku kenal dan selalu bersamaku adalah Bapak dan Mak.


**


Aku tengah asyik membaca buku tentang kepribadian saat aku mendengar lamat-lamat suara Bi Elis bertamu. Aku sedikit heran, kenapa Bi Elis datang saat mama dan papa tidak di rumah. Aku bertambah heran, ketika aku turun hendak melihat Bi Elis. Aku lihat beliau nyelonong masuk ke kama Arby.


Deg!


Ada hubungan apa Bi Elis sama Arby? Sungguh tak sopan Bi Elis begitu datang langsung masuk ke kamar Arby. Apa gak bisa menunggunya keluar dulu. Padahal aku yakin, Arby pasti sedang tidur, karena baru 15 menit yang lalu dia pulang ke rumah.


Dengan rasa kepo tingkat dewa, aku turun menuju kamar Arby. Aku ingin tau apa yang akan mereka perbincangkan di kamar. Kebetulan sekali pintu kamar tidak tertutup rapat, sehingga aku bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka.


Bi Elis menyebut dirinya mama untuk Arby? Jadi, Arby adalah anak Bi Elis, kok bisa-bisanya jadi anak adopsi papa dan mama? Bukankah mama bilang Arby ditemukan di teras rumah, karena ada seseorang yang membuangnya di sana?


"Keluar dari kamarku. Yang ada dalam pikiran bibi hanyalah uang dan uang terus. Bahkan, jika benar aku adalah anakmu. Bagaimana bisa setiap waktu kalian memerasku. Itu bukan harta milikku, bahkan setitik debupun aku tak berhak. Jadi jangan datang padaku bicara soal uang. Karena anakmu ini telah mati 25 tahun lalu, sejak kau buang dia teras rumah pamannya sendiri!" gertak Arby, membuatku terlonjak kaget.


Jadi, Arby anak Bi Elis? Kok bisa jadi anak angkat mama dan papa. Ah, anak yang dibuang kata Arby. Jadi dia sengaja dibuang bi Elis di teras rumah mama, biar di adopsi papa yang nota bene adalah saudaranya sendiri? Untuk apa? Kenapa dengan cara seperti itu, jika memang mau diadopsi. Apa tujuannya? Hiih, tak kusangka masalah Arby lebih ribet dari dugaanku. Karena itukah dia berubah dan sangat membenci Bi Elis. Sehingga selalu menghindari Bi Elis setiap kali datang ke rumah, seperti kata mama.


Lalu apa motif Bi Elis melakukan semua itu? Apakah uang dan harta warisan papa? Jelas bila papa dan mama meninggal misalnya, tentu semua warisan jatuh ketangan Arby. Arby sebagai anak mereka tentu tidak akan menolak jika tau kalau orang tuanya adalah Bi Elis.

__ADS_1


Apakah mungkin Bi Elis dalang dari penculikanku 30 tahun lalu? Jika Arby dapat menguraikan satu persatu benang kusutnya, tentu dia akan menemukan titik simpulnya. Apakah ini yang membuat Arby berubah? Karena dia tak bisa menguraikannya tapi dia jelas tahu akar masalahnya. Dan semua itu membebani pikirannya?


Astaga!


Aku saja tidak akan sanggup menghadapi itu, jelas Arby bisa melihat kalau motif orang tuanya adalah uang. Membuangnya untuk diadopsi demi harta, meskipun itu adalah pamannya sendiri. Tapi bagaimana papa dan mama tidak tau soal itu?


Bukankah papa dan Bi Elis tinggal satu kota? Mungkinkah dulu mereka berjauhan, atau kek mana. Aduh, bingung sekali aku jadinya.


Sementara di ruang kamar Arby dan Bi Elis masih adu mulut. aku telah merekam semua pembicaraan mereka.


"Arby, kamu tidak bisa begini mengabaikan kami. Mama mohon, tolong mama, nak. Apa kamu mau jadi anak durhaka, karena telah mengabaikan kami orang tua kamu sendiri."


"Apa Bi Elis bukan orang tua durhaka, karena telah membuang anaknya sendiri demi mendapatkan uang? Kalian orang tua egois. Lagian dari mana aku dapat uang sebanyak itu, merampok? " Tawa Arby pecah penuh ejekan.


"Kamu 'kan bisa minta, atau pinjam dari papamu?"


"Kenapa tidak Bibi sendiri yang minta, bukankah papaku adalah saudara, Bibi. Kenapa, Bibi, diam gak berani ya? Takut tidak di kasih? Apalagi aku, yang bukan anaknya. Sekali jentik saja, aku bisa didepak dari rumah ini."


"Handoko tidak tau kalau kamu adalah anakku. kecuali kamu kasih tau. Tapi aku yakin kamu tidak akan berani membuka rahasia itu. Karena itulah, sebelum kamu didepak dari rumah ini, ambil apa yang bisa kamu ambil. Agar kamu tidak menjadi anak jalanan. Kalau tidak, singkirkan anak Handoko, biar posisimu sebagai pewaris tunggal tidak terancam. Jangan pura-pura tidak terancam oleh Reny. Reny adalah ancaman besar bagimu. Sebelum dia diberi kekuasaan, singkirkan saja perempuan itu!" hasut Bi Elis dengan tatapan penuh kebencian.

__ADS_1


"Dasar licik, beraninya bibi mengancam aku. Aku peringatkan sekali lagi, bibi tidak akan dapatkan sepersenpun karena itu bukan hak kalian. Aku pastikan itu, jadi jangan mengancamku.****


__ADS_2