Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Kebersamaan


__ADS_3

...Agra dan Agina...


Agra menarik tangan Agina dengan kuat. Tampak jelas ia sedang marah.


Melihat dari reaksinya, sepertinya Agra tidak mendengar pembicaraan kami, Agina menghembuskan napas lega.


Sadar akan kondisi, Agina dengan sekuat tenaga menarik tangannya. Namun karena kekuataan Agra lebih besar dan Agra pun sedang marah membuatnya tidak lepas.


Agra membuka pintu mobil dan mendorong Agina masuk dengan dirinya juga ikut masuk.


"Kunci pintu mobilnya dan jalan!" titah Agra pada supirnya. supir melakukan sesuai perintah.


"Anda tidak perlu mengunci mobilnya. Saya tidak mungkin turun dari mobil yang sedang berjalan," ujar Agina datar. Tangan dan kakinya di silangkan.


"Kau sangat nekat. Mana tau kau menendang pintunya, dan melompat keluar." Berkata sinis.


"Anda benar, seperti se-akh..." Baru ingin menendang pintu mobil Namun Agina terkesiap saat Agra menarik dirinya dan mendudukkannya di panggkuan.


"Duduk, dan jangan bergerak!" bentak Agra. Tangan kekarnya memeluk pinggang kecil Agina, dagunya ia sandarkan di bahu gadis itu.


Agina menghela napas melihat sikap kekanak - kanakan Agra. Malas untuk berdebat, Agina memutuskan tetap duduk di panggkuan Agra.


"Apa yang kau bicarakan dengan Ezwar?" tanya Agra dengan tersenyum. Dirinya senang hari ini Agina cukup penurut.


"Dia memintaku kembali ke perusahaan," bohong Agina.


"Lalu, apa jawabanmu?"


"Aku akan kembali setelah urusanku selesai,"


"Urusan?"


"Ya, mungkin sebulan,"


"Urusan apa? Kenapa lama sekali?" Agra bertanya di sertai rengekan. Agina menepuk dahi mendengarnya.


Malah bersikap kekanak - kanakan, Batin Agina.


"Anda tidak perlu tau," tegasnya. Tidak mungkin bagi Agina memberitahunya.


Agra mendengus. Ia tidak sadar telah bersikap kekanak - kanakan. Bahkan supir di depannya menatap tabjub pemandangan dari cermin di atas kepalanya.


"Tuan, anda mau kemana?" tanya pak supir.


"Restoran dekat mesion," jawab Agra.


"Baik tuan,"


"Anda mau apa ke restoran?" tanya Agina.


"Kau gimana sih, tentu saja untuk makan,"


"Aduh!" ringis Agina mengelus dahinya yang baru di jitak Agra.


"Maksudnya, apa hubungannya dengan saya?"

__ADS_1


"Kau harus menemaniku makan," Agra berkata, dengan senyuman licik di bibirnya.


"Tidak mau! Lepaskan aku!" Agina meronta di pangkuan Agra. Lelaki itu semakin memeluknya. Agina bahkan menginjak kaki Agra tapi lelaki itu tidak bergeming.


Napas Agra menerpa lehernya. Agina tercekat. "Kau mau menemani Ezwar, tapi denganku kau menolak," bisiknya. Agina menanggapinya dengan wajah datar.


Dia cemburu aku makan dengan lelaki lain. Haah... dia lupa sudah punya kekasih.


"Kenapa diam saja?" Menarik pipi Agina dengan gemas. Agina tidak bergeming, meskipun pipinya terasa sakit.


"Kau marah padaku?"


"Baiklah, baiklah. Kalau kau diam saja, aku akan menciummu,"


Ciiit


Rem mendadak membuat Agra dan Agina terhuyung ke depan, untungnya Agra menahan tubuhnya dan Agina.


"Kau bisa bawa mobil tidak!" bentak tuan Agra.


"Maaf tuan, kita sudah sampai," jawab pak supir. Ia terkejut mendengar ucapan tuannya.


Bisa di gantung tuan Agra, kalau beneran melakukannya pada nona-ku, batinnya.


Agina menatap tajam ke depan, mengetahui pemikiran pengawalnya yang menyamar menjadi supir Agra. Pak supir menunduk merasakan tatapan menusuk dari belakang.


Agra membuka pintu dan menarik Agina mengikutinya. Agina membeo melihat restoran yang tidak ada pelanggan. Pasti restoran ini sudah di blok.


Agra memilih meja yang dekat dengan jendela. Mendudukkan Agina di pangkuannya.


"Tidak,"


Agina mendengus. Agra tersenyum dan mencubit hidung mungil gadis di pangkuannya.


Pelayan menyajikan makanan di meja. Agina mengeryit, mereka belum memesan. Ia mendongak melihat Agra yang tersenyum penuh arti. Rupanya Agra sudah mengatur semuanya.


"Kau menyukai makanan yang ku pesan?" tanya Agra. Menurut dari bekal Agina waktu itu, Agina menyukai makanan rumahan.


"Heem," menyahut malas. Muka datarnya hancur akibat kelakuan Agra.


Agra mulai mencicipi makanannya.


"Coba makan," suruh Agra menyodorkan makanan ke mulut Agina.


"Saya udah makan,"


"Benarkah? tapi tadi aku lihat kau hanya minum jus,"


"Sebelum bertemu Ezwar, saya sudah makan di rumah teman saya." Agina setengah berbohong.


"Itu makan siang, sekarang makan sore." Masih menyodorkan.


"Saya tidak pernah mendengar tentang makan sore,"


"Sekarang kau sudah mendengarnya. Ayo makan,"

__ADS_1


Dengan terpaksa, Agina menerima suapan Agra. Agra juga menyuapkan dirinya sendiri dengan sendok yang sama.


Agina menatap sekeliling ruangan. Tempat ini termasuk kenangan terindah baginya. Karena di tempat ini, ia merasa memiliki orang yang menyayanginya.


Dulu keluarga Pratama sangat menyukai makanan di sini, bahkan selalu di jadikan tempat pertama yang di kunjungi di hari weekend. Aku selalu di ajak mereka dan mengatakan aku termasuk bagian dari mereka. Saat itu aku masih lugu dan tidak mengerti apapun. Tapi sekarang aku mengerti bahwa aku adalah tameng bagi Agra.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Agra karena melihat Agina menunduk dengan tangan meremas dresnya.


Menghembuskan napasnya. Ia tidak boleh seperti ini. Bagaimanapun juga, keluarga Pratama telah memberikan yang terbaik untuknya.


"Banyak restoran yang dekat dengan cafe tadi, tapi anda malah membawa saya ke restoran ini. Apa ada sesuatu di tempat ini?" tanya Agina mencoba memancing Agra.


Agra menatap sendu makanan di meja. "Ini restoran kesukaan keluargaku,"


"Mengapa anda membawa saya ke sini? Bukankah seharusnya kekasih anda?"


"Entahlah, aku juga tidak tau mengapa aku ingin menunjukkannya kepadamu,"


Agina mendongak melihat wajah yang menatap lurus itu.


"Kami sering menghabiskan waktu di sini. Ayah, ibu, adikku dan seorang gadis,"


"Seorang gadis," gumam Agina. Agra menatapnya dengan tersenyum.


"Ya, dia gadis yang sangat spesial bagiku. Pertama kali bertemu dengannya, aku sudah menyayanginya. Aku pikir hanya sebatas kasih sayang kakak dan adik, tapi ternyata aku malah jatuh cinta padanya,"


Deg.


Agina semakin meremas dresnya dan memejamkan matanya. Mencoba menahan air mata yang hampir keluar.


Gadis itu adalah aku Agra.


"Sebuah insiden terjadi, ayah dan ibuku meninggal akibat kecelakaan mobil. Aku mengalami koma. Semua orang sibuk mengurus perusahaan yang hampir bangkrut termasuk gadis itu. Dia gadis yang pintar, tentu saja urusan bisnis mudah baginya." Agra menjeda dan memejamkan matanya. Sulit baginya untuk mengingat kembali kejadian delapan tahun silam.


"Saat aku koma, dalam alam bawah sadar, aku mengira yang merawatku itu dirinya. Pas aku terbangun, yang pertama kali aku lihat adalah Olivia. Aku kecewa padanya, ternyata dia lebih mementingkan perusahaanku dari merawatku. Sejak saat itu aku menganggapnya perempuan matrerealistis dan mengusirnya." Agra semakin kuat memejamkan matanya. Rasanya sakit saat mengingat kejadian itu.


"Apa anda membencinya? Dimana dia sekarang," tanya Agina.


"Aku tidak tau dimana dia sekarang, dan aku juga tidak mencarinya. Aku membencinya tapi aku juga merindukannya," jawab Agra. Mendengar suara Agina, entah kenapa bisa menenangkan hatinya. Di pelukknya gadis yang masih berada di pangkuannya.


"Kenapa anda menceritakannya pada saya?" Agina tidak menolak dan mulai memakan makanan di depannya.


Agra malah mencubit hidung Agina dengan gemas. Gadis di pangkuannya tidak merasa kasian sama sekali dan malah memakan makanannya santai.


Karena aku ingin kau mengetahui semua tentangku Agina.


......................


Bab ini paling lama aku nulisnya, soalnya pas nulis tanganku gemetaran. Plus seluruh tubuhku rasanya mati rasa.


...TERIMA KASIH SUDAH BACA....


...LIKE,KOMEN,HADIAH DAN VOTE KALAU BOLEH. ...


...SEE YOU...

__ADS_1


__ADS_2