Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Bab 80


__ADS_3

"Jalurnya lewat mana, ucapku serius soal tantangan yang digadangkan Dion setelah kami selesai menikmati hidangan, yang begitu pas dilidahku. Sehingga aku begitu bersemangat untuk memulai ide Dion.


"Eh, kamu serius kali menaggapi ucapanku, tadi itu cuma bercanda," selanya ngakak. Refleks, aku mencubit lengannya. Karena merasa dipermainkan.


"Tentu saja aku serius, selain mau dapatkan hadiahnya. Aku juga mau menguji, apakah kaki ini masih kuat, lari dan menuruni bukit ini," ucapku. Sebagai mantan pelari tingkat kelurahan masa sekolah dulu, patutlah aku menyombongkan diri sedikit, hehehe.


"Soal hadiah, tanpa mengikuti tantanganpun bakalan aku kasih," ucapnya penuh misteri seraya memainkan netranya.


"Mana asyik kalau cuma dikasih doang," ucapku gokil. Aneh, ada apa dengan diriku, kok ngebet banget mau lari-larian di hati panas begini. Ih, bisa-bisa Dion nanti mengira aku lagi kesurupan.


"Ya, udah kita turun bersama, gak juga kali harus lari di siang terik begini," sindir Dion seolah mendengar apa yang barusan muncul di benakku. Aku nyengir kuda merasa malu juga dengan sindirsn itu.


"Yuk, kita mulai turun, sepertinya jalurnya lewat sana," tunjuk Dion melihat petunjuk arah dengan plang papan yang dipancangkan di sisi taman.


Kami jalan bersisian. Jalan setapak yang kami lalui agak curam. Jadi, harus extra hati-hati juga. kepleset sedikit bisa nyampe ke bawah dengan sukses menggelinding seperti bola.


"Masih mau lari juga, Reny?" tohok Dion saat melihat langkahku yang tersendat. Dion mengulurkan tangannya untuk menahan tubuhku. Kusambut uluran tangan itu, aku merasa lebih nyaman.


"Cuma beberapa meter jalurnya curam, selebihnya aman," lanjut Dion. sepertinya dia sudah tau daersh ini.


"Kamu sudah kenal lokasi ini, ya. Kok nantangin aku lari menuruni bukit ini," protesku.

__ADS_1


"Karena aku tau sifat kamu yang suka petualangan. Gak tau juga kalau kamu akan senekad itu," kekehnya. Huh! Pengen aku cekoki sambel ke mulut embernya itu.


"Sudah, gak usah merutuk dalam hati, lekas pikun kamu nanti," serunya makin ngakak. Benar-benar sebal dah, dari dulu hingga sekarang sifatnya itu gak berubah juga. Suka usil. Bedanya sekarang aku gak marah lagi, malah suka merindukannya. Aih, bisa gawat nih. Pesona Dion sudah segitunya memenjarakan aku.


"Jangan kebanyakan melamun, Ren, atau kamu ingin kita terjun bebas kebawah sana?" lagi-lagi Dion menggoda. "Ngelamunnya dilanjut dibawah saja. Udah mau nyampe kok."


"Siapa yang ngelamun, sok tau," cebikku. Aku berusaha melewati langkah Dion yang berjalan di depanku. Maksuku sih, aku ingin mendahuluinya biar lebih sampai ke bawah yang tinggal beberapa meter lagi.


Namun, sial. Entah bagaimana kakiku malah menginjak kerikil sehingga aku mau jatuh. Kalau saja Dion tidak menarik tubuhku. Akibatnya, tubuh Dion merapat kedinding tebing dengan tubuhku yang menempel rapat ke tubuhnya.


Dion sempat mengaduh karena tubuhnya terbentur ke dinding tebing. Jarak antara kami hanya beberapa inci. Aku bahkan tidak berqni membuka mataku, karena dlam pikiranku kami sudah jatuh berguling.


Kedua netra kami saling bertaut, seolah terhipnotis. Tatap mata Dion begitu dalam menembus telaga mataku. Aku berpaling karena kuat, seolah tulang-tulangku dilolosi. Semburat merah telah menjalari setiap lekuk wajahku.


Entah siapa yang memulai, hatiku luruh begitu saja sesaat Dion mencuri ci***n yang menggetarkan kalbuku. Sebelum rasanya semakin menggoda, aku menarik tubuhku menjauh.


Aku berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa. Kutinggalkan Dion yang masih bersandar didinding tebing. Dengan ekor mataku aku melihatnya mengikuti langkahku. Degup jantungku berdetak tak normal.


Dion berdehem saat berhasil menjejeri langkahku. Diraihnya jemari tanganku, seraya tersenyum. Seolah menunjukkan tanda kepemilikannya padaku, karena aku melihat beberapa pasang mata, melihat ke arah kami.


"Yuk, kesana," ucap Dion santai, aku mengikuti saja langkah besarnya menuju pondok di sisi danau buatan. Kami duduk bersisian, memandang ke arah danau.

__ADS_1


Entah kenapa, lidahku terasa kelu untuk berbicara. Aku lebih terbuai menatap kesekeliling, karena terutama hamparan sawah yang membentang.


"Kamu marah, ya?" bisik Dion setelah beberapa saat kami terdiam dengan pikiran masing- masing. Aku mengalihkan pandanganku ke arah Dion.


"Maksudnya," ucspku agak bingung juga.


"Soal tadi, kamu mendadak diam setelah kejadian itu." Seketika aku jengah diingatkan soal itu. Aku menggeleng karena bibgung mau.menjawab apa.


Dibilang marah, aku juga menikmatainya. Tapi dibilang senang, apa harus diakui?


"Tidak usah di jawab, aku sudah tau kok jawabnya. Aku hanya tidak ingin kamu berprasangka buruk tentangku. Semua itu karena ungkapan perasaanku, Reny. Kuharap kamu juga punya perasaan yang sama denganku. Sungguh, aku ingin menikmati sisa usiaku bersama dengan kamu. Rasanya mau gila saja aku menahan perasaanku selma ini." ungkap Dion panjang lebar.


Ah, pernyataan yang sudah kutunggu selama ini, dengan harap cemas pada akhirnya dia ungkapkan juga. Padahal selama inipun aku sudah tau lewat semua sikapnya. Hanya saja aku selalu diombang-ambingkan perasaanku sendiri.


"Reny, maukah kamu menikah dengaku?" pertayaan itu membuatku kaget karena dia ucapkan secara dadakan begini.


Aku menatap Dion dengan tatapan terpana. Seperti mimpi saat aku mendengar ungkapan hatinya.


"Kamu serius dengan ucapan kamu. kamu tau aku seorang janda dengan anak dua. Jangan membuatku melambung, kamu harus pikirkan baik-baik. Masih banyak yang melebihi aku diluar sana," ucapku gamang. Benarkah Dion dengan segala ucapannya. Ah, seperti mimpi saja, aku tak ingin bermimpi lagi. karena saat terbangun semua itu akan hilang.


Rasa luka di hati ini, aku tak ingin terulang lagi. *****

__ADS_1


__ADS_2