
...Hubungan cinta dua insan manusia itu sangat indah tapi, juga perih....
Di kota kembang seorang laki-laki sedang sibuk dengan benda pipih miliknya, ia membuka salah satu media sosial dan kembali melihat unggahannya. Sesaat senyum tipis terukir dan sedetik kemudian surut. Helaan napas berkali-kali ia keluarkan. Rasanya masih sesak saja ia rasa. Kalau ia tahu melupakan lebih sulit Bagas ngga akan pernah menyerah untuk memperjuangkan Lisa. Tapi, Bagas terlalu pengecut untuk memperjuangkan cintanya.
Orang bilang kalau jodoh tidak akan kemana. Tapi kalau tidak di perjuangkan bukan kah tidak akan jadi jodoh? Seperti rejeki ngga kemana, tapi kalau kita ngga kemana-mana juga ngga dapat rejeki. Ada hasil pasti ada usaha bukan? Jadi perjuangkan.
"Rasanya percuma aku lari darimu. Ragaku disini tapi hati dan pikiranku penuh akan dirimu yang di sana. Setiap denyut jantungku untuk dirimu. Lisa aku tidak menyangka rasaku begitu dalam." Bagas berucap pada dirinya sendiri.
Sudah beberapa bulan masih meratapi cintanya yang hilang. Bahkan ia harus kalah sebelum berperang. Melepas sesuatu yang menjadi harap di masa depan, perempuan cantik yang selalu ingin ia jaga dan sayang sepenuh hati dan seluruh jiwa.
Secangkir kopi hangat menemani Bagas di pagi yang dingin di kota kembang Bandung. Seolah tak mampu memberi hangat di jiwa laki-laki tersebut. Satu mangkuk mie instan dengan telur setengah matang sudah dingin dan mie juga sudah mengembang. Enggan menyentuh makanan walaupun sebenarnya perut sudah meronta ingin di isi.
Sudah beberapa hari ia tidak nafsu makan. Ia sengaja menyibukkan diri dengan bekerja hingga larut malam demi mengalihkan pikiran nya tentang Lisa. Sungguh dahsyat cinta seorang Bagas kepada Lisa.
Bagas mengambil garpu dan sendok. Perlahan tapi pasti ia mengunyah dengan susah payah mie tersebut. Bukan dia tidak mau makan mie yang sudah mengembang tapi kondisi tubuhnya sedang tidak sehat. Asam lambung nya kambuh sudah tiga hari ini. Walaupun tidak ingin makan, rasanya sayang kalau ia membuang makanan. Bagas yatim piatu ia biasa susah dari kecil jadi dirinya tidak akan menyiakan makanan.
Sungguh laki-laki mandiri dan pekerja keras. Inilah yang membuat Lisa kagum dengan Bagas. Laki-laki tersebut berjuang sendiri sampai di titik sekarang. Tidak pernah putus asa walaupun ia sebatang kara. Harapan Bagas adalah sebuah keluarga dan itu belum terwujud sampai sekarang.
Melupakan lebih sulit dari mencintai. Aku terjebak dalam sebuah rasa yang membuat hatiku perih. Bagas mencintai Lisa dengan hati bukan dengan logika. Dan semua rasa yang ia ingin curahkan ke Lisa adalah tulus.
"Ingat Bagas dia istri orang," Bagas memandang keluar jendela. Ia seketika tersadar akan lamunannya itu.
*
*
Sakti menggeliat sambil mengerjapkan mata. Badannya sakit semua karena ia tidur di atas sofa bed.
"Hah, badanku rasanya pegal semua," keluh Sakti. Ia bangkit dan berjalan ke kamarnya.
Pandangan Sakti menyapu ke seluruh sudut ruangan. Ia mencari sang istri. Tempat tidur yang sudah di tata rapi. Baju kerja yang sudah di siapkan. Lisa tetap menjalankan kewajibannya untuk yang satu ini. Seketika hati Sakti serasa tercubit. Ia terlalu kasar kepada sang istri tadi malam. Bahkan bayangan Lisa yang meronta serta air mata yang menetes dengan deras masih melekat di ingatkan Sakti.
__ADS_1
Ia segera keluar menuruni anak tangga sambil berlari. Tujuannya saat ini adalah sang istri. Ia ingin memastikan kondisi istrinya baik-baik saja. Baru lima bulan ia menikah tapi sudah buat sang istri meneteskan air mata.
Langkah nya terhenti saat ia mencium aroma sedap masakan. Sedetik kemudian Sakti menyunggingkan senyum. Pandangan yang sejuk di rasa saat melihat sang istri berperang di dapur dengan alat masak. Perlahan ia mendekat.
"Maafkan mas, sayang!" pinta Sakti. Tangannya memeluk erat tubuh Lisa dari belakang.
Lisa diam membeku. Debaran jantung yang berdecak dua kali lipat dari bisanya. Lidahnya kelu untuk mengucapkan kalimat walaupun itu hanya satu kata. Ia tidak bisa menolak lagi pelukan Sakti. Tapi hati masih belum menerima. Sungguh iya berperang dengan hati dan logika.
Mana yang harus di dahulukan? Hati atau logika? Di hati Lisa belum ada Sakti. Dan logika berteriak menegaskan bahwa hubungan mereka sudah sah sebagai suami dan Sakti bebas melakukan sentuhan fisik. Bimbang menerpa sebuah perasaan.
Sakti melepas pelukannya. Ia menghela napas pelan setelah itu berucap. "Maaf."
Sakti meninggalkan Lisa yang masih mematung. Ia mengambil air putih dalam lemari pendingin dan setelah itu meminumnya.
"Mas, maafkan aku!" ucap Lisa dengan menundukkan kepala.
"Aku disini bukan di bawah situ. Kalau bicara lihatlah orangnya. Jangan tundukkan pandanganmu!" Pinta Sakti.
Sakti tersenyum melihat ekspresi Lisa. Seperti anak kecil yang sedang di marahi orang tuanya. Lalu ia berkata. "Kau ini lucu sekali. Ingin rasanya aku mencium bibirmu lagi."
Lisa membulatkan matanya. Ia tidak menyangka suaminya yang terlihat kalem dan cuek kepada lawan jenis ternyata ada sisi mesum juga. Memang benar sudah sah menjadi suami istri tapi Lisa masih enggan untuk sering melakukan kontak fisik dengan Sakti.
Sakti mendekat ke arah Lisa. Ia seraya berisik.
"Aku tidak hanya ingin mencium bibirmu lagi. Tapi aku ingin melakukan lebih dari sekedar ciuman bibir. Seperti menciumi leher jenjang mu yang mulus serta akun ingin-,"
"Stop!" Lisa menghentikan ucapan Sakti. Ia tahu kemana arah pembicaraan sang suami. Rasanya malu sekali membicarakan hal ini walaupun jelas Sakti adalah suaminya. Mengingat apa yang terjadi semalam saja membuatnya bulu kuduknya meremang. Ada perasaan aneh yang melingkupi dirinya. Tubuh menerima tapi hati enggan untuk melakukan lebih.
Sakti tertawa terbahak-bahak. Ternyata menggoda istrinya lebih asyik. Ini akan menjadi kebiasaan Sakti di hari-hari selanjutnya. Lisa malu-malu tapi mau. Ada sedikit rasa senang di hati Sakti. Hanya perlu berusaha lebih keras lagi.
"Aku tidak akan menyentuh mu. Jadi kau tidak perlu khawatir sayang."
__ADS_1
"Tidak akan menyentuhku? Sungguh? Kenapa begitu? Bukankah tadi mas Sakti ingin mencium bibir ku dan bahkan ingin melakukan lebih dari itu?" tanya Lisa.
"Iya aku pastikan itu."
"Kok begitu?"
"Iya, tentu saja aku tidak akan menyentuh mu kalau kau sedang datang bulan sayang," bisik Sakti. Ia segera berlari menjauh dan menaiki tangga menuju kamar.
"Mas Sakti!" Teriak Lisa.
*
*
Catatan author : Terima kasih telah menyempatkan diri membaca karyaku 🙏
Jangan lupa like dan komen ya 🤗
Btw, ini chapter panjang, seperti kenangan ku dan mantan nah lo 🤫. Okay ini udah beda tahun lupakan mantan. Astaga malah curhat 🤭. Bercanda ya mantan, eh... mantan lagi 😅
Namanya aja panjang kenangan nya makanya di ingat kan ya guys 🤭. Aku serius lo, serius bercanda nya 😉. Okay mantan kita bahas di chapter selanjutnya saja ya wkwkw.
#mantan 🤫
Tidak terasa sudah tahun 2023 😍
Happy New Year kesayangan 🥳🥳
Semoga tahun ini selalu diberi kesehatan dan berlimpah rejeki. Pokoknya semua hal yang baik 🤗
Aku sayang kalian ❤️
__ADS_1