Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Rasa


__ADS_3

Dering ponsel membangunkan tidurnya. Agina bangun dengan mengucek matanya. Mengambil ponsel dan menerima panggilan.


"Halo." Mencoba mengumpulkan nyawa yang baru setengah.


"Untung aku yang telpon. Kalau gak, mau taruh dimana mukamu yang selalu datar itu." Tersenyum saat tau kebiasaan Agina tidak pernah berubah ketika bangun tidur. Pasti sangat menggemaskan!.


"Mau membahas apa? masalah pekerjaan atau pribadi?" Tanya Agina dengan menahan kantuk. Ia menguap beberapa kali.


"Masalah wanita itu. Kau sudah mendapatkan fotonya?"


"Sudah! Aku mengambil saat mereka sedang berciuman. Sayang sekali, aku tidak pergi mengikuti mereka sampai ke kamar."


"Tidak perlu!" Terlonjak sampai terjatuh ke bawah. Nyawanya langsung terkumpul mendengar bentakan sekretarisnya. "Matamu tidak boleh melihat hal begituan."


"Kak Stif! Aku terjatuh dari kasur karena suaramu." Mengusap pantatnya yang nyeri. Tanpa sadar Agina membuktikan kalau dia manusia. Buktinya dia merajuk sekarang.


Orang yang di panggil kak Stif tersenyum. Ia senang Agina tidak pernah menyembunyikan perasaannya pada orang terdekatnya.


"Iya, iya. Aku minta maaf ya." Meminta maaf diiringi gelak tawa. Ia tau wajah Agina berubah masam sekarang. "Kirimkan filenya, aku akan mengurusnya."


"Oke!" Menutup sambungannya. Agina bangun dari duduknya. Dirinya mulai melakukan kegiatan paginya.


......................


Agina melepaskan helmnya. Menggelengkan kepalanya hingga rambutnya jatuh ke punggungnya. Rambutnya sesikit lurus jadi tidak perlu perlu di sisir ulang.


Tidak jauh dari tempat. Agra melongo melihat motor yang di bawa Agina. Motor empat silinder yang kecepatannya melebihi mobil sportnya.


Sekarang ia menemukan fakta baru. Agina punya pistol di sakunya. Bisa membawa mobil seperti seorang pembalap. Dan juga ahli dalam membawa motor.


Tapi yang lebih penting. Bukankah itu motor sama yang mengejar mereka waktu itu.


"Ada apa?" Tanya Agina saat menyadari Agra memperhatikan dirinya. Ia berjalan mendekati Agra.


"Itu motor sama yang di kendarai oleh orang pengejar kita waktu itu."


"Ya mereka mengambil motor saya, tapi ini motor yang lainnya. Saya baru saja membelinya." Ucap Agina santai.


"Kau pikir aku bodoh! itu motor termahal ketiga di dunia. Mana mungkin kau mampu membelinya." Agra berkata angkuh.


"Kenapa tidak mungkin. Buktinya saya memilikinya."


"Pasti kau sudah mengumpulkan uangnya bertahun tahun. Secara kan kau hanya karyawan biasa." Mencibir dengan nada ejekan. Agina menghela nafasnya tidak ingin berdebat lagi. Pagi pagi moodnya sudah buruk di tambah Agra lagi.


"Terserah anda mau ngomong apa." Menyahut malas. Agina melewati tuan Agra tapi Agra mencekal tangannya. Menariknya hingga jatuh kepelukan Agra.


"Apa yang anda lakukan!" Memberontak.


"Diamlah!" Agra mendekapnya lebih erat.

__ADS_1


Rasanya sangat tidak nyaman saat melihat gadis ini di peluk pria lain.Tubuh Agina yang mungil tenggelam di tubuh Agra. Bahkan ia tidak terlihat.


Agra sadar posisinya ini di larang, ia sudah memiliki kekasih. Tapi untuk kali ini ia ingin mengikuti kata hatinya. Sedangkan Agina yang tau ini salah, maka dengan sekuat tenaga menginjak kaki Agra.


"Aaa!." Pelukannya terlepas. Agra melompat lompat sambil memegang kakinya. Agina malah tersenyum sinis.


Sialan kau Agina!.


Beruntungnya tidak ada orang lain. Jadi tidak ada yang melihat kekonyolan presdir. Tapi itu orang lain, bagaimana jika itu kekasih tuan Agra sendiri.


Plak.


"Dasar wanita murahan! beraninya kau memeluk kekasihku!" Agina memegang pipinya yang terkena tamparan Olivia.


Bug.


Olivia terhuyung kebelakang akibat pukulan Agina di pipinya. Agra menahan tubuh Olivia. "Sepertinya matamu sudah rabun, Agra lah yang memelukku duluan."


Olivia merasakan sakit di pipi dan gusinya. Agina benar benar tidak peduli siapa yang di pukulnya.


"Olivia kau tidak apa apa?" Tanya Agra sembari memegang pipi kekasihnya. Olivia menggeleng sebagai jawaban. Pukulan Agina membuat mulutnya tidak bisa bicara.


Agina tersenyum ketir.


"Lain kali, pikir dulu sebelum bertindak." Agina pergi dari sana. Olivia tersenyum penuh kemenangan. Agra tetap peduli padanya di bandingkan perempuan lain.


"Bisakah kau tidak melakukan itu kepada Agina." Ucap Agra saat dokter selesai mengobati Olivia.


"Kau membelanya?" sedikit tidak jelas. Dokter menyarankan agar tidak terlalu banyak bicara.


"Kekuatanmu tidak sebanding dengannya." Agra memperingatkan. Ia cukup ingat dengan kliennya yang langsung tumbang hanya dengan satu pukulan Agina.


Agra benar! Aku tidak boleh gegabah.


"Agra, kenapa kau memeluknya?" Sebenarnya Olivia juga tau kalau Agra yang memulainya. Tapi ia tidak ingin salah paham karena pada saat itu ia hanya melihat punggung Agra.


Hening.


"Baiklah, aku akan memakluminya kali ini. Tapi ku harap kau tidak mengulanginya lagi." Masih diam.


Hanya ada satu di pikiran Agra sekarang. Bagaimana dengan Agina?.


......................


Agina fokus dengan layar di depannya. Tidak memperdulikan rasa perih di pipinya. Pipinya yang gembul tentu akan terasa perih jika terkena tamparan. Tapi ia tidak merasakan apapun karena ini sudah biasa. Bahkan ia pernah merasakan yang lebih dari pada ini.


Ketikan di laptopnya ia hentikan. Agina menghembuskan nafasnya. "Aku tidak bermaksud memukulnya. Aku hanya tidak suka di tindas dan di anggap lemah."


Terdengar ketukan pintu. "Masuk."

__ADS_1


Pintu terbuka. "Agina, ada beberapa berkas yang harus kamu tandatangani." Safira meletakkannya di meja. Ia memperhatikan wajah Agina.


"Agina! Apa yang terjadi dengan pipimu?" Panik. Safira memegang pipi Agina.


"Hanya tamparan biasa." Ucap Agina sambil memegang tangan safira dan menurunkannya dari pipi.


"Siapa yang melakukannya?" Api dalam diri Safira berkobar kobar. Ia tidak terima temannya di perlakukan seperti ini.


"Menurutmu, apa yang akan kau lakukan jika ada seorang wanita yang merebut kekasihmu?" Agina menopang dagunya.


"Aku pasti akan menampar wanita itu, menarik rambutnya dan," eh, ada yang aneh. Safira menatap Agina dengan menelisik. "Kau merebut kekasih orang?"


"Terjadi kesalahpahaman, untung saja sudah selesai."


Safira tersenyum. "Aku tidak rela pipi kenyalmu itu terluka. Aku ambil es batu dulu ya."


"Tidak perlu!" Suara seseorang mengintrupsi. Agina menghela nafas saat tau siapa yang datang.


"Keluar!" Suara datar Agra di tujukan ke Safira. Memang setelah mengantar kekasihnya pulang, Agra buru buru datang kemari.


Safira masih tidak bergeming di tempatnya. Ia bingung kenapa tuan Agra datang kesini dengan es batu dan kain lagi. Jangan jangan,


"Yang kau pikirkan itu sebagiannya benar." Sahut Agina. "Keluarlah, ada yang ingin aku bicarakan dengan tuan Agra."


Tanpa banyak bicara Safira keluar dan tidak lupa menutup pintu. Ada hubungan apa Agina dan tuan Agra?.


"Apa sakit?" Tanya Agra. Ia berdiri di hadapan Agina yang duduk. Tidak ada sofa di ruangan ini.


"Tidak ada sofa di sini. Lebih baik anda keluar." Tidak memperdulikan keberadaan Agra. Agina memilih melihat layar monitor di depannya.


Agina tersentak saat merasakan dingin di pipinya. Ternyata Agra sudah berdiri di sampingnya dengan tangan menempelkan es batu yang sudah di bungkus kain.


"Maaf." Ucap Agra merasa bersalah atas kelakuannya yang seenaknya.


"Hanya kesalahpahaman, aku memakluminya." Agina menunduk. " Apa mulut kekasihmu tidak apa apa?"


Agra tidak percaya Agina malah memikirkan orang lain. Sekarang ia mengerti kenapa sekretaris Ezwar membelanya. "Mulutnya tidak bisa di gunakan untuk berbicara beberapa hari."


"Jangan melakukan hal itu lagi." Agra tidak menjawab. Ia sibuk dengan pipi Agina yang mirip bakpau. Gemes pengen gigit.


Agina memegang tangan Agra untuk menghentikan kegiatan menusuk nusuk pipinya. Bukannya mengobati malah bermain main.


"Terima kasih. Anda boleh keluar sekarang." Kalimat usiran halus, agra memahaminya. Segera ia keluar tapi setelah menarik pipi Agina dan memakai lari seribu sebelum Agina mengamuk.


Dan benar saja. "Agra Pratama!"


Bersambung....


Jangan lupa like dan komen.

__ADS_1


__ADS_2