
"Sesuatu akan terasa sangat berarti, justru setelah kita kehilangannya.,"
Pov Bram
"Aku melihat sebuah postingan hadir diberanda IG-ku.Foto selfi kedua anakku Devan dan Mitha bersama mantan istriku, Reny, di sebuah taman. Senyum sumringah mereka mengalahkan teriknya matahari.
Terlihat sekali rona kebahagiaan terpancar di wajah mereka. Entah, apakah foto selfi itu hendak menyindirku. Yang jelas saat melihat foto itu, darahku berdesir kencang. Aku mencoba mengingat-ingat, kapan terakhir senyum dari ketiganya ada bersamaku.
Kapan terakhir aku bersama mereka seperti momen dalam foto itu. Kapan terakhir, aku melihat senyum dan tawa mereka terlepas lampias. Ternyata aku gagal mengali-gali memoriku hanya untuk menemukan seulas senyum mereka diantara sirkel kehidupanku.
Ternyata, tidak ada! Atau terlalu samar untuk muncul kepelataran ingatanku karena aku terlalu sibuk sendiri dengan duniaku.
Aku mencoba menghitung hari, bulan, dan tahun. Betapa aku sangat terkejut, saat menyadari bilangan angka yang telah kulewati bersama mereka. Namun tidak menyisakan memori apa- apa. Ibarat sebuah album, semua foto nampak buram, tak jelas wajah yang terbingkai dalam setiap lembar kenangannya.
Tidak kutemukan senyum atau tawa, yang ada adalah wajah kusam menahan tangis dan sakit.
"Papa, besokkan hari libur. Kita bermain ke Pantai yuk!" ajakan si kecil Mitha terbungkam oleh bentakanku.
"Papa lagi sibuk kerja!"
Atau
"Pa, belikan aku mainan mobil yang pakai remote, besokkan ulang tahun, Devan."
"Ah, berisik! Apa gak liat papa lagi kerja!" teriakku karena saat itu aku membawa pulang pekerjaan ke rumah. Disaat sepeti itu, Reny akan sibuk mendiamkan tangis mereka yang pecah atas penolakan kasarku.
Lalu beberapa saat kemudian, Reny akan datang mengingatkan aku, untuk tak berlaku kasar pada Devan dan Mitha.
"Bang, sesekali apa salahnya menuruti permintaan mereka. Kalaupun tidak bisa, bicaralah yang lembut. Kasihan, mereka kan masih anak-anak."
"Itu akibat kamu terlalu memanjakan mereka. Setiap kali aku ada di rumah, selalu saja ada tingkah mereka yang membuatku tak betah," hentakku.
__ADS_1
"Ya, Tuhan! Mereka anak-anak kita, Bang. wajar mereka meminta perhatian kita. Abang terlalu sibuk di kantor, tak ada waktu sama sekali buat keluarga," ucap Reny menahan tangis. Bila sudah begitu, bukannya aku iba malah makin meluapkan emosiku. Kutinggalkan mereka seharian, bahkan hingga larut malam aku baru pulang. Begitu terus setiap kali ada masalah. Aku lebih sering menghindar dan pergi ke rumah ibu.
Aku akan merasa lebih tenang di sana. Menghabiskan waktuku dengan Martin dan Vikky. Setiap kali ke rumah ibu keduanya kerap ada di sana, bermain karena mereka dititip oleh Sarah di rumah ibu.
Aku yang menyimpan rahasia busuk selama ini dibalik pernikahanku, serta mengorbankan kebahagian keluargaku sendiri.
Di saat Mitha meminta liburan dan kutolak mentah-mentah, besoknya aku telah berada di sebuah tempat wisata bersama Sarah dan kedua anaknya. Ketika Devan meminta sesuatu dan ku tolak, karena aku telah menjanjikan sesuatu pada Martin dan Vicky
Bahkan, saat aku lihat Reny begitu lusuh dengan dasternya dan aku menuntutnya penampilannya. Justru Sarahlah yang mendapat kucuran uangku. Mereka yang aku abaikan, kesudahannya telah lepas dari tanggung jawabku karena perceraian.
Nyatanya kehidupan mereka kini lebih bahagia setelah tidak bersama ku lagi. Mereka mendapat balasan yang setimpal dari semua penderitaan yang telah kulukiskan di kening mereka. Aku telah menyelidki, kalau orang tua kandung Reny adalah seorang pengusaha tajir.
Bahkan Reny sekarang telah menjadi sebuah Ceo, dari anak perusahaan papanya . Bahkan aku dengar-dengar Reny kini tengah dekat dengan seorang pengacara handal, yang begitu di segani banyak orang.
Pengacara yang berstatus duda dengan satu putri itu, bahkan sering memamerkan kemesraannya di depan publik. Membuat aku sering terbakar api cemburu, belum lagi dialah pengacara yang menangani kasus perceraian kami. Terlambat untuk memperbaiki semua kesalahanku.
Awalnya aku mengira, Reny menggertaku ketika dia bilang pengacara sekelas Dion Bimantara mampu dia bayar. Aku sangat meremehkannya waktu itu. Ketika kasus perceraian itu di menangkan oleh Reny, aku tidak memiliki apa-apa lagi.
Hidupku sekarang boleh dikata telah hancur. Tinggal menyalakan sumbunya saja, lalu sekitarku akan terbakar habis. Tergantung aku apakah mampu mencegah api itu menyala atau membiarkannya meletup dan makin besar. Yang jelas apapun tindakanku sepertinya akan sia-sia saja.
"Pak Bram," ketukan serta panggilan di pintu, membuyarkan monolog panjang dihatiku. Aku tersentak dengan panggilan itu.
"Iya, bu Asti. Ada apa?" gelagapku.
"Bapak dipanggil, Bos!"
"Oh, iya. Saya segera ke sana."
"Sekalian bapak bawa laporan PT Sakti Jaya."
"Baik, Bu Asti, saya segera ke sana." Aku segera bergegas menuju ruang Pak Alvin, kepala Divisi keuangan serta membawa berkas yang diperlukan.
__ADS_1
"Selamat siang, Pak!" sapaku setelah mengetuk pintu.
"Masuklah Pak Bram!"
Aku langsung duduk di depan meja Pak Alvin dan menyerahkan berkas.
"Ini Pak, berkas yang bapak pesan."
""Baiklah, Pak Bram. Bapak saya utus untuk membawa berkas ini ke kantor pusat. Karena rekanan bisnis kita curiga kalau laporan yang buat itu sarat dengan pelanggaran. Jadi mereka inginkan konfirmasi lengkap dari sini." seketika keringat dingin mengucur membasahi punggungku.
"Ada apa, Pak Bram?"
" Eh, tidak apa-apa, Pak. Saya akan segera pergi."
"Baiklah, silahkan Bapak melapor ke bagian humas, perihal akomodasi bapak selama di sana."
"Baik Pak," aku segera keluar dari ruangan Pak Alvin dengan hati berkecamuk. Padahal laporan yang aku serahkan tempo hari sudah di acc di pusat. Kenapa lagi direvisi ulang? monolog hatiku cemas.
Tidak ada cara lain aku memang harus datang ke kantor pusat. Menjelaskan laporan yang di curigai bermasalah itu.
Setelah menempuh perjalanan satu malam. Aku tiba di kantor pusat dan langsung dirujuk menemui pimpinan rekanan, yang mengelola proyek pembangunan perumahan.
Pertemuan darurat dilaksanakan, dan ketika aku hadir didalam ruangan rapat aku terkejut melihat Reny dan Dion juga berada di sana. Dalam benakku aku berpikir ada urusan apa mereka di sana.
"Selamat datang, Pak Bram. Silahkan duduk," Aku mengambil tempat duduk di sisi kanan utusan dari kantor pusat. Aku melonggarkan dasi di leherku, yang tiba-tiba seolah mencekikku.
"Begini, Pak Bram, saya perkenalkan Ibu Reny Theresa dan Bapak Dion Bimantara sebagai pihak dari rekanan kita, yang mengelola proyek perumahan. Dari laporan yang yang masuk, ada beberapa kejanggalan yang ditemukan oleh PT Bangun Insani, terutama laporan keuangan. Setelah ditelusuri, memang ada beberapa kejanggalan dan ternyata Bapak Bram terlibat dapam kasus ini. Karena itulah Bapak dipangill ke kantor pusat untuk memberi keterangan langsung kepada pihak PT Bangun Insani sebagai penanggung jawab langsung dari proyek ini. Ibu Reny Theresa." aku merasa leherku tercekat mendengar penjelasan itu.
Dengan susah payah aku menelan salivaku. Aku benar-benar tidak bisa berkutik lagi. Bukti keterlibatanku pasti sudah ditangan mereka. Mereka hanya butuh pengakuan saja, apakah dugaan itu benar atau tidak. Karena rekan yang bekerja sama denganku sudah berada disana seperti seorang pesakitan.
Akhirnya pengakuan itu meluncur deras dari mulutku dan itu telah mengubah kehidupanku selanjutnya. Karir yang kubangga-banggakan selama ini telah hancur.
__ADS_1
"Terima kasih atas kejujuran keterlibatan bapak, dan itu akan menjadi pertimbangan nanti di pengadilan," ucap Dion. Aku hanya bisa tersenyum kecut. Bayangan wajahku akan viral di media sosial yang tersangkut kasus suap korupsi, akan menjadi topik hangat dan mengejutkan, terutama bagi keluargaku. Terbayang wajah ibuku yang akan meratapiku.*****