
"Nasi telah menjadi bubur, tak mungkin lagi bisa utuh seperti semula, bagaimanapun caranya."
Hakim telah mengetokkan palunya. 10 tahun penjara adalah vonis yang dijatuhkan atas perbuatanku karena telah menyalahgunakan jabatanku.
Aku terpuruk sendirian, apalagi tak ada yang datang memberi penghiburan di saat aku jatuh begini. Semua teman menghilang, dan mencemooh. Aku benar-benar merasa sendirian.
Sarah yang kuharapkan satu-satunya orang yang akan mendampingiku, ternyata malah menghilang. Aku dengar dia telah dimutasi dari kantor tempat dia bekerja selama ini. Mulai dari sidang hingga aku dijatuhi hukuman tidak pernah sekalipun dia menjegukku. Bahkan untuk menghubungiku pun tidak pernah.
Seperti jatuh, tertimpa tangga pula itulah kiasan yang kualami saat ini. Sarah benar- benar menghilang. Perempuan, yang karena dialah aku menghianati Reny.
Kalau mengingat perlakuanku selama ini terhadap Reny. Sungguh aku memang seorang lelaki bajingan. Reny sama sekali tidak tau kalau aku dan Sarah sudah nikah siri, setahun kami tinggal di daerah ibu.
Tepatnya setelah Bang Roi, menikah. Pernikahan Bang Roi seharusnya memang tidak harus terjadi. Sekalipun terjadi, seharusnya bukan Sarah sang pengantinnya. Seharusnya memang tidak ada yang salah dengan pernikahan itu.
Tapi karena istri Bang Roi adalah Sarah mantan pacarku dulu semasa kuliah. Hubungan kami putus oleh masalah yang tak jelas. Sarah pindah kuliah dan kami lost kontak. Aku sangat kehilangan waktu itu, karena aku sangat mencintai Sarah. Namun seiring jalan aku bisa melupakannya dan menikahi Reny.
Betapa terkejutnya aku saat aku diperkenalkan oleh Bang Roi pada calon istrinya saat itu. Aku tak menduga kalau Sarah lah calon kakak iparku. Kekasihku yang menghilang tanpa kabar berita. Hal ini tentu, membuaktu sangat kaget sekaligus marah.
Kaget karena kami bertemu kembali setelah berpisah beberapa tahun, dan jadi calon kakak iparku. Marah, karena Sarah menghilang tiba-tiba tanpa khabar berita sama sekali.
Reaksi Sarah juga sama kagetnya denganku, karena calon suaminya adalah saudaraku. Dia meminta maaf tapi tetap tak menjelaskan kenapa dia menghilang waktu itu.
Aku, yang sebenarnya masih menyimpan perasaan cintaku pada Sarah, entah kenapa di saat Sarah meminta maaf kami terhanyut oleh suasana. Entah setan dari mana, yang datang menguasai kami, hingga terjadilah peristiwa bejat itu. Aku menodai Sarah, sehari menjelang pernikahannya dan sialnya, Bang Roi sendiri yang memergoki kami berdua berada di kamarku.
Bang Roi,menolak pernikahan itu di lanjutkan, tapi karena undangan telah disebar dan pesta hanya menunggu harinya saja. Ibu memohon, pernikahan itu agar tetap dilaksanakan.
"Ibu, mohon nak. jangan batalkan pernikahan itu. jangan buat malu ibu," pinta Ibu mengiba waktu itu kesediaan Bang Roi untuk tetap menikahi, Sarah.
"Bukan aku yang mempermalukan ibu, tapi dia," sentak Bang Roi emosi, menunjuk ke aku yang sudah babak belur dia hajar. Saat itu aku hanya pasrah karena memang salahku.
__ADS_1
"Ibu masih tega menyuruhku, menikahi perempuan lacur ini. Mereka berz**a di bawah hidungku dan ibu masih menyuruhku melanjutkan pernikahan ini." sentak Bang Roi.
"Tolong nak, jaga nama baik keluarga kita. Setelah pernikahan itu, kamu boleh menceraikan Sarah atau pergi meninggalkannya. Biar Bram yang bertanggung jawab atas perbuatan nya.
"Maksud Ibu?" selaku bingung.
"Kamu harus menikahi Sarah, secara diam-diam setelah Roi menceraikannya." titah ibu tegas.
"Lantas bagaimana dengan pernikahanku sendiri dengan Reny, Bu?" ucapku makin bingung.
"Kamu harus rahasiakan semua ini dari istrimu, Reny. Jika kamu sadar sudah punya istri tidak seharusnya kamu menggoda calon kakak iparmu." dengus ibu. Aku tak berkutik akan semua rencana ibu. Karena semua ini adalah atas ulahku.
"Jadi, ibu merestui Bram memiliki dua istri, begitu? Apa ibu tak memikirkan akibatnya. Bagaimana kalau Reny tau semua ini. Apa ibu bisa menjelaskan semua ini?" Bang Roi meradang mendengar rencana ibu. Jelas dia menolak semua rencana ibu.
Berkat bujukan ibu, yang sungguh luar biasa Bang Roi akhirnya bersedia tetap menikahi Sarah lalu menceraikannya, beberapa bulan kemudian.
Sejak.itu kami semua bersandiwara di depan Reny. Membohonginya, dan ibupun kerap mengabaikan Reny, karena menjaga perasaan Sarah. Sarah dengan mudah bisa mengambil hati ibu, dan mereka selau kompak sehingga perlahan-lahan malah sikap mereka sangat keterlaluan, bukannya aku tidak tahu semua itu. Tapi karena ancaman Sarah, yang akan membongkar rahasia itu, membuatku tidak berkutik sama sekali.
Perhatianku pada keluargaku makin terabaikan. Aku bahkan lupa kalau aku masih memiliki keluarga yang seharusnya lebih aku perhatikan. Pada akhirnya aku makin sering bertengkar dengan Reny, karena aku benar-benar berubah.
Aku semakin jarang meenyentuhnya, juga uang belanja yang aku berikan semakin berkurang.
Rahasia yang aku simpan rapi akhirnya terbongkar. Reny mengetahui penghianatan yang aku lakukan selama ini dan menuntut cerai. Aku yang menganggap remeh selama ini padanya, ternyata tidak selemah yang aku kira.
Bahkan Reny menemukan orang tua kandungnya, hal yang selalu dijadikan ibu alasan menindas, Reny. Setelah tau, Reny anak orang kaya ibu baru menyesali semua ulahnya selama ini terhadap menantunya
Semua sesal ibu tidak ada lagi artinya. Aku, bahkan harus mendekam dalam penjara karena kasus korupsi. Perusahaan yang di kelola Renylah, pihak yang telah dirugikan dan menjebloskan aku ke penjara.
"Pak Bram, ada tamu yang berkunjung, cepat temui mereka," sentak petugas lapas membuyarkan semua lamunan panjangku.
__ADS_1
"Siapa, Pak?" tanyaku heran. Sudah beberapa bulan aku di penjara ini baru kali ini ada tamu yang mau menjegukku. Namun pertanyaanku tidak direspon petugas, dia menggiring aku ke ruangan khusus menerima tamu. Aku masuk ruangan itu, dan kulihat ibulah yang menjegukku.
"Ibu," ucapku tercekat. Ibu nampak jauh lebih kurus dari terakhir kami bertemu.
"Bram," ucap ibu seraya memelukku erat "Kenapa jadi begini, nak? Kamu nampak kurus sekali," isak ibu tak mampu menahan tangisnya.
"Sudah, Bu," aku berusaha menenangkan ibu yang nampak begitu terpukul. Terus terang aku tidak kuat melihat keadaan ibu, saat ini.
"Ibu datang bersama siapa, Bu?" tanyaku.
"Sendiri, mereka tidak sempat menjegukmu." ucap ibu menahan tangis. Yah, Rio dan Doly, menolak ketika ibu meminta mengantarnya mengunjungiku. Aku bisa maklumi, karena jauhnya jarak kotaku dengan tempat akun di penjara.
"Sudahlah, Bu. Ibu jangan menangis lagi," ucapku.
"Ibu, sudah tak kuat, Nak. Hidup ibu benar-benar hancur."
"Maafkan, Bram, ibu. Semua ini karena kesalahan, Bram."
"Tidak, semua ini adalah salah Reny. Kalau Reny tidak meminta cerai. Semua ini pasti tidak akan terjadi. Kamu tau, Reny sekarang malah mau bertunangan dengan pengacaranya itu. Berarti, sebelum kalian bercerai, jangan-jangan Reny telah selingkuh dengan pengacaranya itu. Kamu bisa menuntutnya, Bram."
"Ibu, sudahlah. Masalahku dengan Reny sudah selesai. Aku tidak berhak apa-apa lagi atas dirinya. Bukankah kita sudah terlalu bersikap kejam padanya selama ini, Bu."
"Tapi, Ibu tidak suka dan akan.membalas perbuatannya itu. Karena telah menjebloskan kamu ke penjara." ucap ibu geram.
"Bu, jangan menyimpan dendam pada Reny. Seharusnya kita meminta maaf pada mereka," ucapku.
"Tidak sudi. Ibu telah memintanya untuk tidak bercerai, tapi dengan sombongnya dia menolak. Sekarang ibu tahu, dia menolak pasti karena telah selingkuh dengan pengacara itu," geram ibu.
Aku hanya bisa terdiam. Percuma saja bicara pada ibu dalam suasana hatinya di penuhi dendam." *****
__ADS_1