
"Semakin tinggi pohon tumbuh, semakin kencang angin menerpa,"
"Kamu memang perlu dengar cerita ini, nak. Supaya kamu tau seperti apa perjuangan papamu membangun usahanya selama ini. Dulu, papamu adalah orang miskin. Tapi kemiskinan tidak membuat papamu menjadi orang yang mudah berputus asa.
Papamu merantau ke kota M ini, karena ingin mengubah kehidupannya dan keluarganya dari kemiskinan. Semua dimulai dari nol, papamu bekerja di sebuah bengkel. Berkat usaha dan kerja keras papamu, dia menjadi orang kepercayaan oleh bosnya.
Usaha bengkel itu maju berkat tangan dingin papamu saat mengelolanya. Mama adalah putri dari pemilik bengkel itu. Papamu adalah orang paling jujur yang pernah mama kenal.
Singkat cerita, papa menikahi mama. Bengkel milik orang tua mama makin maju pesat. Lalu datanglah musibah itu, saudara sepupu papa yang sangat dia percayai menghianati papa. Kakekmu sampai meninggal karena serangan jantung. Selain karena bangkrut, papa juga difitnah telah membakar bengkel itu.
Papa mencari saudara sepupunya dan hendak menuntut balas, tapi karena tidak ada bukti yang bisa papa tunjukkan, semua usahanya sia-sia.
Bahkan papa dihina oleh keluarga pamannya.
Sekarang paman papa tengah sakit keras, mereka berharap papa mau datang ke sana. Itulah sebabnya Bibi Elis datang membujuk papa. Namun, papa menolak. Selain itu, Bibi Elis lebih percaya keluarga pamannya daripada saudaranya sendiri. Padahal Bibi Elis kerap minta bantuan papa soal keuangan, tapi masih saja menghianati papa." Mama mengakhiri penuturannya dengan berurai air mata.
"Lalu selanjutnya apa yang yang terjadi, Ma?" tanyaku turut menangis.
"Papa berusaha bangkit dari keterpurukannya. Papa memulai lagi dari nol usahanya itu. Lima tahun berusaha, usaha papa mulai terlihat hasilnya, papa menjalin kerja sama dengan berbagai kalangan. Semua usaha papa sukses, hingga berkembang seperti ini.
Namun, musibah tak jua lepas dari kehidupan mama dan papa. Setelah menunggu kelahiranmu yang cukup lama, kami kehilangan kamu saat berusia lima bulan. Entah karena apa, papa selalu menduga kalau keluarga pamannya terlibat dengan peristiwa hilangnya kamu. Terbukti, saat pengasuhmu ditangkap dia bilang dia disuruh seseorang. Hanya saja, sebelum sempat dia mengaku siapa orang yang menyuruhnya, pengasuhmu itu ditemukan telah meninggal dunia karena bu*** diri, kasusnya jadi dihentikan.
__ADS_1
Kamu tidak pernah ditemukan. Hingga 30 tahun kemudian. Selama penantian itu, setiap di hari ulang tahunmu mama selalu memberi ucapan selamat ulang tahun di media sosial. Mama tak henti berharap agar kamu ditemukan. Karena mama percaya kamu masih hidup, entah di mana dan dengan keluarga siapa.
Lima tahun setelah kehilangan kamu, seseorang meletakkan bayi di teras rumah, dia adalah Arby. Mama dan papa memutuskan mengadopsinya. Berharap dialah kelak yang akan mewariskan semua usaha papamu, tapi Arby tidak pernah serius. Hidupnya selalu dia habiskan dengan minum dan mabuk-mabukan.
Sikapnya selalu mengecewakan papa dan mama. Akhirnya kami pasrah saja, apa maunya," mama menarik napas panjang mengakhiri ceritanya.
"Papa dan mama sangat bersyukur bisa bertemu kamu kembali, bersama kedua cucu mama. Papa dan mama, berharap kamu bisa menggantikan papamu. Sehingga papamu bisa menikmati hari tuanya tanpa direcoki lagi dengan pekerjaan. Papa sudah lelah, dan ingin membesarkan cucunya sebagai ganti karena kehilangan kamu dulu." Kupeluk tubuh wanita yang telah melahirkanku ke dunia ini. Walaupun bukan beliau yang mengasuhku selama ini, tapi ikatan itu tetap kuat kurasa. Ikatan darah dan batin ini takkan mungkin terhapus lagi.
"Apa yang harus aku lakukan, Ma. Aku bukan orang yang berpendidikan. Dengan apa aku akan memenuhi keinginan papadan mama. Rasanya semua tanggung jawab ini terlalu berat," ucapku.
"Mama yakin kamu akan bisa. Darah yang mengalir di dalam tubuhmu adalah darah yang sama di dalam tubuh papa. Kamu pasti mewarisi sifat papamu. Kamu pasti bisa, Nak. Jadi mulai hari ini belajarlah, Nak. Mama akan fasilatasi pendidikanmu. Tinggal kamu milih, ke kampus atau les privat di sini," ucap mama memberi saran.
Akhirnya aku memilih privat saja. Jika ke kampus, aku tidak akan punya waktu lagi mengawasi kedua anakku. Les privat di rumah, aku masih bisa mengawasi Devan dan Mitha.
"Kalau masalah Devan dan Mitha, biar mama yang jaga. Asal kamu bisa fokus belajarnya."
"Tidak, Ma. Devan dan Mitha adalah tanggung jawab Reny. Aku tak ingin mereka kehilangan sosok ibunya, apalagi pasca perceraianku dengan Bram."
"Baiklah, mama percaya kamu pasti bisa lakukan yang terbaik. Mama dan papa akan selalu memberi dukungan untukmu. Baiklah, mama akan menghubungi teman-teman mama. Siapa tau, mereka bisa memberi mama info instruktur yang terbaik."
"Baiklah, Ma, aku akan mencoba saran Mama." Mama memelukku seraya mengelus punggungku. Kemudian membingkai wajahku dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
"Mama sangat sayang padamu, Nak. Entah dengan apa mama dan papa bisa menebus waktu kita yang hilang," ucapnya dengan bibir bergetar.
"Mama, Reny juga sayang mama dan papa. Kita nikmati saja sisa hari yang akan datang."
"Yap! Sudah, mama jadi mengajakmu cengeng begini." Kekeh mama mengusap air mata di pipiku. Lalu mama pergi, di pintu kamar mama
masih sempatnya memberi seulas senyum manisnya padaku, yang kusambut dengal hal yang sama.
Aku menghirup udara dalam-dalam lalu melepasnya perlahan. Seolah hendak mengisi rongga dadaku sepenuhnya. Ternyata tanggung jawab besar tengah menungguku.
Tapi satu hal yang menjadi agendaku, aku ingin mendekati Arby. Menurutku dia bukan sosok yang jahat, aku malah melihat ada hal yang membuatnya tertekan sehingga dia seolah melarikan diri dari ikatan yang membuatnya tidak nyaman.
Selama ini mungkin papa dan mama terlalu keras mendidiknya, karena dialah tumpuan harapan papa dan mama. Mungkin juga terlalu memanjakannya sehingga dia menjadi anak yang malas untuk meraih masa depan dengan usaha sendiri. Mengingat apapun yang dia mau, pasti bisa diberikan oleh papa dan mama.
Namun naluriku berkata lain, lebih dari kedua dugaanku itu tengah menghimpit Arby. Terutama untuk hubungan buruknya dengan bibi Elis. Sepertinya ada rahasia besar antara bibi Elis dan Arby, tapi sengaja ditutupi Arby dengan sikap arogannya.
Arby seolah melampiaskan kekecewaannya pada seseorang. Bisa pada papa dan Mama, atau bibi Elis. Seperti cerita mama, Arby berubah ketika dia kuliah di semester 4. Tiba-tiba nilai semesternya anjlok dan perangainya berubah.
Berkali-kali mama menasehati dan bertanya apa yang telah terjadi, tapi Arby selalu bungkam. Setiap kali bibi Elis muncul di rumah, Arby , yang dulunya sopan berubah arogan. Bahkan dia pernah mengusir Bibi Elis saat datang bertamu.
Perubahan mendadak itu tak luput dari perhatian papa, sehingga papa juga menuduh kalau bibi Elis ada dibalik perubahan sikap, Arby.
__ADS_1
Tentu aku juga ikut penasaran, ada apa dengan Arby dan Bibi Elis? ***