
Aku buru-buru bersembunyi, di balik sofa saat kudengar langkah Arby keluar dari kamar. Disusul langkah Bi Elis yang bergegas.
"Arby, aku ini mama kamu nak, tolong mama. Atau kamu ingin adik-adikmu kehilangan masa depannya." Bi Elis manangkap lengan Arby. Arby diam sejenak, lalu melepas paksa pegangan Bi Elis di lengannya.
"Lepaskan! orang tuaku adalah pak Handoko dan ibu Betty bukan Elis dan Defry." sergah Arby menepis lengan Bi Elis.
"Tunggu, Arby! Mama hanya mau minta tolong, selama ini kamu sudah hidup berkecukupan menjadi anak keluarga Handoko. Seharusnya kamu membalas jasa mama, sebagai tanda terimakasihmu, bukan malah seperti ini kamu sombong pada orang tua kamu,"
"Andai bisa memilih, aku tidak ingin terlahir dari rahim seorang ibu yang tega membuang anaknya. Lalu menjadikannya sapi perah."
Plak! sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi Arby.
"Kamu benar-benar anak durhaka. Seharusnya kamu bersyukur bisa hidup berkecukupan. Kalau tidak kamu itu sudah jadi gembel. Karena kelahiranmu tidak pernah aku harapkan. Kamu telah menghancurkan masa depanku, karena ayahmu tidak bertanggung jawab, dan malah pergi dan menikahi perempuan lain. Hidupku hancur, itu semua gara-gara kamu!" tuding Bi Elis.
"Owh, jadi begitu. pada akhirnya uang yang bicara. Aku lahir karena satu kesalahan yang ibu lakukan sendiri. Lantas kenapa aku harus bertanggung jawab. Tidakkah lucu, yang katanya bibi adalah ibuku, malah menuntut balas dari anaknya yang dia buang sendiri. Tak masalah sekarang, jika memang uang 500 juta itu sebagai ganti rugi ibu melahirkanku. Oke, aku akan penuhi tuntutan ibu. Tapi setelah ini, pergilah dari kehidupanku." Aku mendengar suara Arby yang sarat dengan luka. Sungguh tega Bibi Elis, mengungkap masa lalu Arby. Hanya untuk mendapatkan keinginannya.
Terutama karena memamfaatkannya untuk memperoleh sejumlah uang. Menggadaikan kasih sayangnya sendiri. Tanpa peduli seperti apa perasaan anaknya. Hanya demi uang 500 juta, dia singkapkan rahasia yang menyertai anaknya selama ini.
"Anggap saja kita impas, By. Maaf bila hal ini menyakitkanmu, tapi itu sebanding sengan apa yang telah kau peroleh. Menjadi anak orang kaya, dan tentu akan menjadi pewarisnya kelak. Jadi, sudah sepatutnya kamu bersyukur," tanpa rasa bersalah Bibi Elis terus mengucurkan kata demi kata menghujam perasaan Arby. Aku saja yang mendengar dari balik sofa, marasa sakit hati. Bagaimana pula dengan Arby.
"Baiklah, Bibi sebut aku anakmu, tapi Bibi peralat aku untuk keserakahanmu. Seumur hidupku aku akan membencimu. Karena anakmu kau hargai dengan uang. Jika harga diriku hanya sejumlah uang 500 juta itu. Oke, aku akan penuhi keinginan Bibi itu, Tapi, setelah ini, pergilah menghilang dari hadapanku. Jika tidak, aku akan lakukan sesuatu yang akan membuat Bibi menyesal seumur hidup Bibi." Dengan tatapan penuh luka, Arby keluar dari rumah.
Bibi Elis, tersenyum penuh kemenangan!
"Akhirnya kamu mengalah juga, Arby. Aku sudah bosan hidup miskin, dan selalu iri melihat kehidupanmu. Selama ini kamu selalu mengabaikan hidupku, padahal aku sudah beritahu kalau aku adalah ibumu. Kamu malah membenciku. karena aku telah membuangmu.
Kupikir setelah kamu tau aku adalah ibumu, kamu akan mencintaiku, dan mau berbakti padaku. Nyatanya kamu malah menjauh dan membenciku. Bertahun aku menantimu tapi kamu malah lebih asyik dengan duniamu sendiri.
__ADS_1
Sejak sekarang akulah yang akan mengendalikan hidupmu. Aku sudah dapatkan satu kelemahanmu, yang akan membuatmu tunduk pada ibumu ini." senyum culas menghiasi wajah Bibi Elis mengahiri ucapannya.
Aku yang bersembunyi dibalik sofa, merekam semua ucapannya. Jadi selama ini Arby dalam tekanan Bibi Elis. Mungkinkah itu yang menjadi penyebab, Arby berubah? Yang dulunya patuh dan bersikap manis, menjadi urakan dan tak peduli masa depannya.
Kenapa Arby diam saja selama ini, kenapa dia tidak mau cerita pada papa dan mama. Apakah karena dia tidak ingin memperkeruh pertikaian antara papa dan Bibi Elis? Ah, lagi-lagi aku merasa bingung.
Aku harus bisa mengawasi Arby, apa yang akan dia lakukan. Aku takut dia akan bertindak nekad sehingga merugikan dirinya sendiri.
Sepertinya, Arby menanggapi serius ucapan Bibi Elis. Tidak seperti biasanya, malam ini Arby kumpul bersama kami di ruang keluarga. Dia akrab bercanda dengan kedua anakku. Hal ini tentu membuat heran mama dan papa.
Setelah beberapa saat, Arby mendekakti mama dan berbicara sesuatu. Kulihat raut wajah mama nampak mengernyit, dan menatap Arby lekat.
"Pa, sini dulu," ucap mama memanggil papa yang asyik menonton televisi. Papa melangkah menghampiri mama, aku juga mendekat karena ingin tau apa yang akan disampaikan Arby.
"Ada apa, Ma?"
"Oh, kirain apa, langsung aja ngomongnya. Apa ini soal tawaran, Papa kemaren?" delik papa seraya membetulkan kaca matanya. Aku dan mama saling menatap heran. " Para wanita gak usah turut campur, itu urusan kami para pria," kekeh papa melihat reaksiku dan mama. Kami jadi tertawa, bareng.
"Bukan, Pa. Tidak ada sama sekali hubungannya ke sana."
"Oke, kamu mau ngomong apa, silahkan." Tukas papa santai sambil menyilangkan kakinya.
"Sebelumnya Arby minta maaf pada papa dan mama, karena selama ini membuat susah. Arby, sadar tak seharusnya melakukan semua itu, tapi Arby sangat kecewa dan butuh pelampiasan.
"Hei, ngomong apaan ini, By. Kek bukan dirimu ini, mengajak papa dan mama mewek," tiba-tiba papa menginterupsi ucapan Arby, dengan bercanda. Sekilals Arby goyah, karena tak menduga ucapan papa.
"Papa, dengar dulu, ah. Arby lagi serius ini," sanggah mama seraya menepuk lengan papa. Papa akhirnya memberi isyarat agarr Arby melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Apa Papa dan mama tau siapa orang tua kandungku?" ungkap Arby to the point. Membuat papa dan mama terlonjak kaget.
"Eeeh, ini anak kenapa sih, sedari tadi ngomong aneh," beliak papa.
"Arby, kamu ini kenapa? Kok tiba-tiba bertanya begitu," seru mama.
Aku juga yang diam-diam menyimak pembicaraan itu, merasa kaget. Dalam benakku aku berpikir, apakah Arby akan bicara terus terang, memberitahu papa dan mama tentang Bibi Elis.
"Mama, jawablah yang jujur. Karena Arby butuh jawaban itu sekarang," ucap Arby serius.
Mama menghela napasnya perlahan. "Maafkan, Mama, Arby. Papa dan Mama sama sekali tidak tau apa-apa soal itu. Kamu mama temukan di teras rumah, dalam keadaan terbungkus karton. Saat itu tengah malam, jadi mama tidak liat siapa- siapa disekitaran rumah, waktu itu."
"Kenapa? Apakah ada orang yang mengaku- ngaku sebagai orang tua kandungmu? Kenapa tidak ngomong sama kami? Apa mereka mengancammu?" tebak Papa.
"Tidak, Pa. Arby bertanya karena ingin tau saja."
"Lalu kenapa baru sekarang kamu tanyakan soal itu?" Papa menatap Arby dengan sorot mata tajam.
"Yah, Arby terinspirasi dengan Kak Reny. Siapa tau Arby juga bisa menemukan orang tua kandungku," ucap Arby.
"Mama tidak ada menyimpan barang-barangmu. waktu itu hanya pakaian yang melekat di tubuhmu."
"Papa dan Mama tidak curiga, siapa tau ada family yang kehilangan anak atau baru melahirkan anaknya. Tapi, diatidak mengasuh anaknya itu."
"Sudah bertahun-tahun lo, Arby. Papa mana ingat, lagi soal itu."
"Mama cuma ingat, tapi dia sudah keguguran katanya. Itu setahu mama, iya 'kan Pa?"
__ADS_1
"Maksudmu siapa? Elis?" *****