Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
37.Malam pertama yang berbeda.


__ADS_3

Sakti langsung merebahkan tubuhnya di samping Lisa setelah Ia membersihkan diri Dipeluknya Lisa dari belakang sambil berucap dalam hati. "Aku memiliki ragamu, tapi tidak dengan hatimu."


Lisa hanya diam merasakan pelukan Sakti. Sungguh Ia belum siap melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang istri yang sesungguhnya untuk Sakti. Lisa semakin mencengkram erat selimut putih miliknya. Sungguh hatinya menolak sentuhan Sakti.


" Sayang? "panggil Sakti lembut kepada istrinya.


Tidak ada jawaban dari wanita yang baru sehari Ia nikahi tersebut. Sakti tahu kalau Lisa hanya pura-pura tidur. Inilah resiko yang harus Ia hadapi memaksakan kehendaknya kepada wanita yang tidak mencintai dirinya. Ia harus terbiasa dengan penolakan harus terbiasa kalau setiap hari akan diabaikan oleh sang istri.


"Baiklah kalau kau lelah, aku akan tidur sambil memelukmu."


Setelah beberapa saat Lisa menggeser tubuhnya, Ia lepaskan pelukan Sakti. Lalu Ia berjalan menuju kamar mandi. Lisa berjongkok di balik pintu kamar mandi, Ia menangis dalam diam. Hatinya dipenuhi dengan rasa bersalah, Ia sudah menjadi istri Sakti tapi masih memiliki perasaan kepada Bagas.


Sakti membuka matanya. Ia lihat pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Ada berbagai pertanyaan di benak Sakti. Kalau Lisa tidak mau menikah dengan nya bukan kah sejak awal bisa di batalkan? seberapa besar cinta Lisa untuk Bagas sehingga Ia tidak bisa menyentuh hati Lisa. Seperti nya Sakti harus berusaha lebih keras lagi.


Sakti segera menutup mata kembali setelah mendengar suara pintu. Ia membalikkan tubuhnya membelakangi Lisa.

__ADS_1


Lisa kembali merebahkan tubuhnya di samping Sakti. Tangannya terulur ingin menyentuh punggung suaminya.


"Maafkan aku Mas? tunggulah aku, maukah kau bersabar?" ucapnya lirih kepada Sakti.


Malam pertama mereka berbeda dengan pasangan pengantin lainnya. Jika kebanyakan malam pertama akan memadu kasih, tapi tidak dengan mereka. Karena adanya penyatuan diri harus di dasar dengan cinta. Begitulah pemikiran mereka berdua saat ini.


Pagi hari Lisa sudah bangun lebih dulu. Ia segera ke dapur membantu Ibunya setelah melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang muslim.


"Kau sudah bangun Nak?" tanya Ibu Lisa.


"Kau lihatlah suamimu apakah sudah bangun?"


"Iya Lisa naik duku Bu." Lisa berjalan menaiki tangga menuju kamarnya untuk membangunkan Sakti.


Ceklek

__ADS_1


"Ternyata masih tidur," gumam Lisa lirih sambil berjalan mendekat ke arah suaminya. Ia dengan ragu-ragu menyentuh lengan Sakti.


"Mas bangun!"ujar Lisa sambil di goyangkan pelan lengan suaminya tapi masih belum ada tanda - tanda kalau suaminya itu mau bangun.


"Mas bangun!" Lisa membuang napas kasar. Sepertinya susah juga membangunkan suaminya ini.


Tiba-tiba ada tangan yang melingkar di perutnya saat Lisa hendak berdiri meninggalkan Sakti. "Bukan seperti itu kalau ingin bangunin suami sayang?"


Sakti langsung mendaratkan ciuman di bibir Lisa. Ciuman singkat yang tidak menuntut lebih. Sentuhan lembut dari bibir Sakti yang penuh cinta tanpa mengharapkan balasan.


Lisa hanya diam mematung.Ingin menolak bukankah Sakti sudah sah menjadi suaminya?yang artinya halal untuk melakukan ciuman, dan bahkan lebih dari sekedar ciuman.


Sakti menyadari atas diam nya Lisa. Ia peluk istrinya dengan erat. "Selamat pagi sayang? kau terkejut karena ciuman ku tadi? mulai sekarang biasakan ya? aku akan memberimu banyak cinta hingga kau akan bingung untuk membalas nya nanti."


Catatan Author :Terimakasih sudah menyempatkan diri untuk membaca novelku, kalau suka like komen dan di favorit juga ya 🙏

__ADS_1


mampir juga ke cerpen ku yuk..*Aku Bukan Untukmu * maaf ini banyak banget typo habis nulis nya cepet2 di pagi hari sebelum berangkat kerja 😢


__ADS_2