
Hawa dingin yang di rasanya, tidak membuatnya pindah dari sana. Ini masih terlalu pagi bagi gadis kecil itu, di saat semua anak masih tertidur.
Di bawah pohon ia duduk dengan memeluk kedua lututnya. Matanya menatap sendu rerumputan di depannya yang bergoyang karena terpaan angin.
"Kenapa?" Satu kata yang terus keluar dari bibir kecilnya. Bajunya basah akibat terkena embun pagi.
Seseorang berdiri di hadapannya, membuat gadis itu mendongak. "Kenapa Kau bangun awal?"
Tidak menghiraukan dan kembali menatap lurus. Tapi kali ini bukan rerumputan yang ia lihat, melainkan wajah laki-laki yang melakukan hal yang sama dengannya yaitu melipat lutut dan memeluknya.
Laki-laki melepas jaket dan memasangkannya pada gadis yang kini menatapnya bingung. "Siapa namamu?"
"Claudya," cicitnya dengan wajah menatap ke bawah. Rasa hangat menjalar di tubuhnya mendapat perlakuan dari laki-laki yang belum di ketahui namanya.
"Nama lengkapmu?"
"Claudya Agina."
"Baiklah, Aku akan memanggilmu adik Gin. Panggilan itu terdengar imut menurutku," ucapnya dengan senyuman yang membuat gadis itu menatap ke arahnya. "Namaku Erwin. Jika di lihat, sepertinya kita seumuran?"
"Kalau seumuran. Kenapa memanggilku adik? Dasar aneh!" tanya Claudya Agina dengan dingin.
Erwin tersentak mendengarnya. "Mulutmu cukup pedas juga ya. Tapi Aku memanggilmu adik itu karena terserah mulutku," balasnya tak kalah pedas.
Sebuah jaket langsung menghantam wajahnya setelah mengatakan kalimat itu.
Agina memalingkan wajahnya. "Aku tidak butuh itu."
Erwin mengambil jaket di wajahnya. Menatap si pelaku yang malah acuh atas perbuatannya. "Kau akan sakit bila di sini terus. Ikut Aku ke masuk rumah, yuk?" Agina menggeleng yang membuat Erwin menghela napas. Tangannya terangkat, menarik pipi yang mirip bakpao itu.
"Ah, sakit!" pekik Agina seraya menarik tangan itu agar melepas pipinya. Namun laki-laki di depannya malah semakin gemas menariknya.
Erwin tergelak melihat wajah adik Gin-nya yang terlihat lucu. "Kau tau? Aku sangat gemas dengan sifatmu. Rasanya pengen ku makan." Baru Erwin melepasnya.
__ADS_1
Agina menapikkan raut cemberut yang membuat Erwin kembali tergelak.
"Erwin!" Seseorang memanggilnya. Erwin menengok ke belakang dan mendapati kakak laki-lakinya yang sedang menuju ke mereka.
"Apa yang kau lakukan di sini, hah?! Aku sudah mencarimu kemana-mana, tapi tidak ada. Kau tidak tau betapa cemasnya Aku, takut kau di culik. Bagaimana bisa kau keluar di jam segini? Seharusnya kau masih tidur seperti anak-anak lainnya, tapi kau malah berada di sini bersama seorang gadis pula."
"Berhenti!" pekikan Agina berhasil menghentikan pidato panjang kakak laki-lakinya Erwin. "Telingaku bisa sakit mendengar ocehanmu itu," ketusnya.
Steven melihat dengan seksama gadis yang sudah memotong ceramah pada adiknya. "Kau gadis yang di antar kemarin 'kan?"
"Iya, kak. Aku melihatnya pergi ke sini, makanya Aku keluar ngikutin dia."
Steven sedikit membungkukkan tubuhnya. Tangannya terangkat dan mengelus rambut yang membuat si empunya tersentak. "Selamat datang di rumah kami, Claudya Agina," ucapnya di iringi senyuman.
"Eh. Kak Steven tau namanya?" tanya Erwin bingung. Pasalnya ini baru pertama kali kakak laki-lakinya itu peduli terhadap orang baru.
"Ibu panti yang memberi tau." Steven masih tidak mengalihkan pandangannya dari gadis yang juga menatapnya.
Pasti ada hal yang terjadi sebelum sampai ke tempat ini.
Steven mengusap wajahnya seraya menghela napas. "Di sini sangat dingin. Lebih baik kita masuk ke rumah," ajaknya. Dirinya merasa frustasi melihat raut menyedihkan itu.
"Kalian saja. Aku masih ingin berada di sini." Agina kembali menyembunyikan wajahnya di antara lututnya.
"Hei, tidak baik bagi tubuhmu berada di udara dingin ini." Erwin berusaha membujuk.
"Kau akan sakit nanti." Steven ikutan.
"Kenapa kalian peduli?"
"Karena kita keluarga!" Saudara kandung yang berbeda umur tiga tahun itu menjawab serempak.
Agina menengadahkan kepalanya ke atas. "Keluarga?" Kemudian dia tertawa, menciptakan kebingungan kedua laki-laki itu. Air matanya sampai keluar mengatakan satu kata itu.
__ADS_1
Katakanlah ia gila karena tertawa dengan bening yang keluar dari matanya. Satu kata itu sudah menyakitinya dua kali dan sekarang terdengar untuk ketiga kalinya.
Apa dirinya harus percaya pada kata itu lagi? Apakah takdir memang mempermainkannya dengan kata yang mengandung saraf akan makna?
Rasa menyebalkan menyelimuti saat dirinya terus memikirkannya. Sesak bagaikan ribuan jarum yang menusuk mengenai jantung.
"Keluarga, ya?" ucap Agina setelah menghentikan tangisnya.
"Keluarga seperti apa yang kalian maksud 'kan? Apa orang yang mengatakan keluarga, tapi rela menjualmu demi modal usaha? Atau keluarga yang berkata akan selalu bersama, tapi berakhir membuangmu saat anggota baru di lahirkan?"
Kedua laki-laki bersaudara itu terdiam mendengar segala kalimat yang keluar dari bibir gadis yang masih setia duduk dengan memeluk lututnya. Nadanya terdengar putus asa dan tubuhnya seolah kehilangan jiwa.
"Kenapa?"
Gadis berusia 6 tahun harus mengalami hal ini. Saat berumur 4 tahun, orang tua kandungnya menjual dirinya demi mendapatkan uang. Pantaskah orang seperti mereka di sebut ibu dan ayah.
Agina bukanlah gadis bodoh yang tidak mengetahui makna di balik kata 'Mereka keluarga barumu' dan melihat dengan jelas ibu dan ayahnya menerima sebuah koper yang dia yakini isinya lembaran berwarna merah. Bahkan tidak tampak binar penyesalan di mata keduanya.
Dalam gendongan gadis kecil itu terus berteriak memanggil ibu dan ayahnya saat di bawa menjauh. Tidak ada reaksi yang terlihat malah mereka berbalik dan pergi dari sana.
"Ayah... Ibu..." lirihnya.
......................
**Udah mulai tau kan sosok Agina di masa lalu yang kemudian menjadi tameng bagi Agra?
Untuk ke depannya adalah part masa kecil Agina.
Rain mau minta maaf ke semuanya soal masalah update. Jujur Rain bukannya gak ingin melanjutkan cerita tapi kebutuhan primer untuk novel sekarang terbagi dua.
Maksudnya handphone bagi dua dan Rain cuma dapat pas Abang lagi di pesantren. Jadi mohon maaf sebesar-besarnya ya?
See You**:)
__ADS_1