
Lisa masih terus meronta. Ia tahu kalau hal seperti ini pasti akan terjadi cepat atau lambat dan dengan sadar Lisa tahu apa yang seharusnya ia lakukan. Tapi, tidak dengan cara seperti ini. Kenapa Sakti harus memaksa dirinya.
"Mas, tolong jangan seperti ini," Lisa mengiba kepada Sakti. Air mata nya sudah jatuh di pelupuk mata.
"Apa yang kau tunggu? Kita sudah menikah hampir lima bulan dan kau belum menjalankan kewajiban mu sebagai istri. Dan sekarang aku meminta hak ku," napas Sakti tertahan. Saat ini ia diselimuti hawa nafsu. Tangan kanan nya sudah melepas kancing piyama yang Lisa kenakan.
__ADS_1
"Tapi tidak begini caranya mas. Tolong jangan begini," Lisa semakin sesenggukan ia tidak terima tangan nya terus meronta ia geleng kan kepala nya berkali-kali untuk menghindari ciuman Sakti yang semakin lama semakin ganas.
Sakti tidak memperdulikan rintihan Lisa. Bibir Sakti sudah menelusuri leher jenjang Lisa dan semakin lama semakin turun. Saat ini Sakti sedang di kuasai hawa nafsu sehingga ia tidak sadar telah menyakiti istrinya. Tangan Lisa berhenti meronta, wanita itu kini pasrah dengan apa yang dilakukan sang suami. Cairan bening lolos tanpa permisi dan Lisa hanya bisa diam.
Sakti menyadari hal itu akhirnya ia menghentikan aksinya. Ia bangun dari atas tubuh Lisa menghapus air mata yang sudah membasahi pipi istrinya.
__ADS_1
Lisa segera bangkit ia kancing kan kembali pakaiannya. Masih kaget dengan perlakuan Sakti yang tiba-tiba ingin memaksa dirinya melakukan hubungan badan. Dengan cepat Lisa masuk ke kamar mandi ia membasuh wajahnya berkali-kali dengan air. Rasanya seperti mimpi, Sakti yang selalu memperlakukan dirinya dengan lembut berubah menjadi pribadi yang berbeda malam ini.
Sakti merebahkan diri di atas sofa panjang yang terletak di ruang kerjanya. Ia merutuki kebodohannya yang memaksa sang istri untuk berhubungan badan. Harusnya ia tidak dikuasai emosi, harusnya ia bisa lebih bersabar lagi dan bisa menghargai sang istri.
Rasa cemburu dan kecewa melingkupi hati Sakti. Usahanya selama ini terasa sia-sia karena sang istri tak kunjung membuka hati untuknya. Bukankah, kesabaran manusia ada batasnya? Begitupun dengan Sakti ia sudah di ambang batas kesabaran. Karena rasa lelah dan kantuk akhirnya Sakti tertidur di sofa ruang kerjanya.
__ADS_1
Lisa masih termenung. Malam ini ia tidak mengenali suaminya. Mungkin kah ini salahnya? Karena sudah beberapa bulan menikah Lisa belum menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri yang sesungguhnya. Tapi dirinya masih butuh waktu sedikit lagi. Ia tidak bisa membohongi perasaannya karena di dalam hatinya masih terukir nama pria lain. Ini salah tapi Lisa tidak bisa menghilangkan begitu saja nama Bagas dalam hatinya. Pria yang mampu membuatnya kagum dengan semua sikap dan sifatnya. Pria yang juga sangat mencintai dirinya. Seandainya waktu bisa diputar Lisa akan menolak permintaan orang tuanya. Ia akan lebih gigih memperjuangkan cintanya.
Sebuah rasa yang ada dalam hati dan susah untuk dilupakan. Dua hati saling mencintai tapi tak bisa bersatu. Satu lagi hanya memberi tak menerima balasan. Jangan salahkan cinta yang tidak ingin pergi dari sang pemilik hati. Ingin mengakhiri hubungan, apakah bisa? Berapa banyak yang akan terluka. Ingin egois sekali saja untuk bisa mendapatkan cinta. Andaikan waktu bisa di putar apakah Lisa dan Bagas bisa bersama?