
"Dia memperlakukanmu seperti pacar," sindir Erwin.
Agina menghela napas. "Terserah dia saja," balasnya. Sepertinya dirinya harus segara menemukan orang yang di jodohkan dengan Agra. Dirinya tidak ingin membuat Agra tenggelam dengan perasaannya dan itu juga berlaku padanya.
Olivia yang dari tadi menunduk dengan raut muram, mulai menatap Agina tajam. "Ini rencanamu 'kan?"
Bukan tanpa alasan Olivia mencurigai gadis di depannya ini, kerena mustahil bagi Agra pergi ke sini.
"Ada masalah dengan itu? Lagi pula, dirimu tidak berharga," ucapnya seraya tersenyum miring.
"Kau..." geram.
Beralih menatap Erwin. "Kau masih mau di sini?" Agina berdiri.
"Aku menyuruh Tamaki ke sini," Sambil tersenyum.
"Cih, pasangan cabul!" Agina melangkahkan kakinya. Ia ingin sesegera mungkin meninggalkan tempat tidak bermartabat ini.
Olivia langsung mengejar Agina setelah dirinya tersadar dari kediamannya.
Membuka pintu keluar dan memegang tangan Agina membuatnya berbalik. Tangannya ingin melayang ke arah pipi gadis itu.
Krek.
Bukan suara tamparan melainkan suara tulang yang di patahkan. Agina yang tau cara membaca ketajaman angin, dengan mudah mematahkan serangan Olivia.
Di pegang nya tangan itu erat.
Agina tersenyum sinis melihat Olivia yang meringis kesakitan. "Kau sudah aku peringatkan dengan pukulan waktu itu."
__ADS_1
Olivia menarik pergelangan tangannya dan mengelusnya. "Kau gadis licik! Sejak awal kau memang sudah berencana merebut Agra dariku."
"Lebih tepatnya, kau yang merebut Agra dari Claudya."
Olivia tersentak. Sudah lama sekali nama itu tidak pernah terdengar. Dan sekarang nama itu di sebutkan oleh gadis di depannya. "Kau, bagaimana kau tau nama itu?"
"Kau tidak perlu tau. Tapi yang tadi pertanyaannya sekarang, siapa yang merebut siapa?" Olivia terdiam. "Aku tidak menyangka, gadis tangguh seperti dirimu berubah hanya karena suatu kejadian."
Olivia terdiam sesaat. "Kau tidak apapun tentang diriku!" pekik Olivia histeris.
"Saat umurmu 12 tahun, kau di lecehkan oleh segerombolan preman. Masa itu kau sangat hancur dan menganggap dirimu kotor. Karena itu sekarang kau menjadi seperti ini," Pandangan Agina berubah sendu.
Olivia menundukkan wajahnya. Tatapan matanya kosong saat mengingat kejadian mengerikan itu. Dia yang saat itu tidak berdaya, tidak ada seorang pun yang menemaninya. Bahkan orang tuanya lebih memilih untuk meng-isukan kejadian itu agar keluarga Dreandara tidak malu.
"Hanya karena kau menjadi kotor, bukan berarti kau harus menjatuhkan harga dirimu. Hingga terjurumus ke jalan yang salah."
"Kenapa aku merasa, kau peduli terhadapku?" tanya Olivia dengan gemetar.
Jantung Olivia berpacu cepat mendengar kalimat itu. Rasa yang di rasakannya sekarang tidak asing. Kalimat itu seperti memiliki makna yang dalam.
Agina berbalik dan melangkahkan kakinya pergi. Tidak lupa menyematkan senyuman tulus sebelum menghilang dari hadapan Olivia.
"Apa itu kau?" Pertanyaan yang keluar setelah orang di hadapannya menghilang.
......................
Agina menatap danau di depannya sendu. Rasa sesak menggerogoti hatinya. Perasaan bersalah ini sampai sekarang masih ada.
Andai saja dirinya dulu bisa sekuat sekarang, pasti masih banyak hal yang bisa di selamatkan. Dan itu termasuk saat kakaknya di lecehkan.
__ADS_1
Tanpa bisa di cegah, cairan bening keluar dari matanya. Dengan segera Agina menghapusnya. Dirinya tidak boleh lemah seperti ini.
Tepukan di bahu membuatnya tersentak. Segera ia berbalik dan di suguhkan dengan wajah seseorang yang sangat di kenalinya.
"Kau disini juga rupanya," Agina kembali menatap danau.
Alfin berdiri di samping dan melihat danau seperti temannya. "Tempat ini memiliki banyak kenangan," Agina tersenyum. "Cepat sekali berlalu."
"Iya, kita sekarang sudah dewasa. Memiliki jalan kehidupan masing-masing. Tidak ada waktu untuk bermain seperti dulu."
Alfin menoleh ke arah temannya. Di sana terlihat jelas raut ketulusan yang merindukan semuanya. Ekspresi yang hanya di tunjukan Agina kepada orang-orang berharga baginya.
"Tempat ini juga tidak berubah ya?"
Agina menanggapinya dengan tersenyum. Ia menyetujui ucapan temannya. "Rasanya jadi pengen kembali ke masa lalu."
Suasana yang sunyi di sertai suara air mengalir membuatnya terasa tenang. Kunang-kunang mengelilingi mereka dengan cahaya miliknya. Rasanya romantis bila mereka adalah sepasang kekasih.
"Masa lalu ya?" gumam Alfin.
......................
Maaf ya. Bab kali ini tidak mencapai 1000 kata di karenakan topiknya tidak sesuai.
Ngomong-ngomong, ada yang mau intip novel sebelah gak?
Ceritanya sama-sama tentang gadis tangguh kok^^
__ADS_1
Yuk baca kisahnya Gavin Alescar dan Katya Dreandra (^_^)