
"Masa, mungkin ingin datang berulang. Menjemput kembali yang pernah tertinggal. Tapi, waktu yang terus berjalan masihkan menyisakan kenangan itu?"
Aku tengah menekuri beberapa berkas pembebasan tanah. Ada beberapa point yang tidak sesuai di lapangan. Juga, antara berkas yang satu dengan yang lain ada beberapa perbedaan. Perbedaannya tidak begitu kentara. Kalau tidak teliti membacanya, hal itu jisa jadi masalah.
Kemungkinan inilah yang membuat beberapa warga protes dan bertahan dengan tanahnya. Karena dalam berkas itu, sudah jelas tertera harga yang tidak sama dengan yang lain. Mungkinkah karena kondisi tanahnya yang berbeda?
Namun, menurut penjelasan papa, semua tanah warga ditawari dengan harga yang sama. Lantas kenapa ada laporan yang berbeda? Saking asyiknya aku memeriksa berkas-berkas itu. Aku tidak menyadari kehadiran seseorang di ruanganku.
Dengan antengnya dia duduk, bersidekap dada. Matanya awas, menatapku lekat yang tengah serius bekerja.
Aku baru tersadar ketika mencium aroma parfum yang begitu familiar menusuk hidungku. Hidungku mengendus aroma itu dan saat mencari dari mana asalnya, aku melihat Dion yang sudah duduk di kursi.
"Kamu telah melangar hukum masuk zona pribadi tanpa izin," seruku acuh meleburkan nada- nada aneh di jantungku. Penampilan Dion nampak lain dari biasanya. Kali ini lebih segar, walaupun kesehariannya selalu nampak sempurna. "Kayak mau pergi kencan saja" guman ku dalam hati.
"Apa? Ngomong yang jelas, Ren?"
Ofs! Dion bisa mendengar suara batinkukah?
"Eh, emang aku barusan ngomong apa? Jangan halu kamu," cebikku.
"Yah, tadi kamu berguman. Hanya kurang jelas aja aku dengar."
"Kamu datang ke sini mau ngapain, belum siangan sudah bertandang," alihku. Kaget saja akunya gumananku hampir ketauan.
Aku mau menculik kamu, kemarin kan kamu sudah setuju menemaniku mencarikan gaun kembang buat Raisa," Dion mengingatkan
"Oh," mulutku langsung membulat. "Kapan ulang tahunnya?"
"Besok,"
"Hem, asalkan kamu sanggup membayar uang tebusan atas penculilankanku, aku sih oke oke saja." candaku.
"Soal itu, kantongku lumayan aman. Jadi, tidak perlu cemas. Baru kali ini aku dengar yang diculik minta tebusan," kekehnya.
"Sama, aku juga baru kali ini tau, sang penculik menandai langsung korbanya," sahutku.
"Ya, udah cabut yuk! Sebelum ketahuan sang Bos. Nanti penculikannya gagal,"
__ADS_1
"Jelas gagal, menculiknya di siang bolong gini, mana rame lagi," sahutku ketularan gokilnya.
Aku meraih tas selempangku yang tersampir di sandaran kursiku. Ketika aku hendak melewati Dion, talinya nyangkut di sudut meja. Karena gerakanku yang tiba-tiba, aku jadi kehilangan keseimbangan. Hampir saja tubuhku membentur sandaran sofa, kalau saja Dion tidak menangkap tubuhku.
Aku terjatuh dan menimpa tubuh Dion di sofa. Untuk sesaat karena kaget, kami saling pandang. Jelas sekali aku melihat telaga matanya, yang meneduhkan. Untuk kesekian kalinya, nada-nada di jantungku berdendang tak teratur.
Untunglah perasaan itu hanya sekejap menghipnotis pikiranku. Buru-buru aku melepas diri dengan wajah memerah seperti kepiting rebus.
"Eh, maaf," ucapku tak bisa menahan malu.
"Ih, berat juga kamu, Reny." kibasnya pada lengannya yang tertimpa beban tubuhku.
"Hati-hati dong. untung ada aku, kalau gak jidatmu bakalan tumbuh kentang..," mendengar candanya rasa malu di hatiku berangsur hilang.
"Jadi perginya gak" desakku.
"Sabaran dikit, napa. Ini lengan masih kesemutan," kilahnya sambil menggerakkan lengan ke atas dan ke bawah.
"Pasti bukan gegara kesemutan, siapa tau lecet kebentur sandaran sofa itu," ucapku lantas aku memeriksa sikutnya. Benar saja, sikutnya memar dan kulitnya mengelupas.
"Udah, ntar juga sembuh," imbuhku.
"Makasih ya." Aku segera mendahului Dion keluar dari ruanganku. Rasanya udara selalu saja mendadak pengab bila kami satu ruangan. Padahal ada AC. Heleh, ada apa denganmu hai jiwaku. Mengapa aku seolah melihat pendar- pendaran cahaya warna-warna mengitari sekeliling, Dion.
"Bagaimana dengan yang ini?" tanya Dion setelah kami berada di salah satu toko pakaian anak.
"Kurang cocok buat, Raisa." Aku mengitari toko, seraya melihat beberapa pajangan. Mataku tertumbuk pada sebuah manekin, yang mengenakan gaun kembang tapi bahannya lembut dan jatuh.
Sepertinya itu lebih cocok buat Raisa, yang selalu ingin bergerak bebas. Dari pada gaun berbahan organza, yang terlalu mengembang itu bisa membatasi gerak Raisa.Beda dengan gaun yang terbuat dari bahan sutra, yang dikenakan manekin itu.
Meski modelnya sederhana, tapi nampak elegan dengan potongan bawah yang bertingkat dan dipermanis dengan kerutan halus sehingga dres itu nampak penuh dan mengembang. Warna blue ice yang lagi trend sangat cocok dengan kulit Raisa, yang putih.
"Bagaimana kalau yang ini. Sepertinya cocok dengan karakter Raisa yang ceria." ucapku. Dion mengamati gaun itu beberapa saat. Sepertinya dia memikirkan sesuatu. Lalu dia mengangguk- angguk.
"Sangat bagus. aku setuju. Pilihan kamu sangat exotic. Aku juga suka." Ulasnya lalu memanggil pelayan toko.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanyanya ramah.
__ADS_1
"Kami mau ambil ini."
"Oke, Pak. Silakan menuju kasir, saya akan packing dulu barangnya," ucap pelayan itu ramah seraya memberi kami kertas untuk diserahkan ke kasir.
"Pilihan kamu sangat, bagus," bisik Dion saat kami di depan kasir.
"Semoga saja, Raisa suka," ucapku.
"Dia pasti suka. Apalagi kalau dia tau kamu yang milihnya."
"Hem, apa istimewanya dengan pilihan, aku," delikku.
"Egh, mungkin dia merasa istimewa karena di ultahnya yang ke tujuh ini. Gaunya dipilih oleh seorang ibu bukan bapaknya," aku tergugu mendengar ucapan Dion.
"Kamu terlalu berlebihan," alihku. Memandang ke arah lain. Ingat Raisa yang tidak pernah merasakan kasih seorang ibu. Aku merasakan mataku berkaca-kaca dan tak ingin Dion mengetahuinya. Naluri keibuanku sukses disentil oleh ucapan Dion.
"Aku akan bilang kalau gaun ini pilhan kamu. Hei, kamu kenapa?" serunya heran melihat sikapku yang tiba-tiba berubah.
"Ah, gak papa. Cuma kelilipan aja. kemasukan debu kali." Aku berusaha menghindar dari tatapan tajam netra Dion.
"Yuk, kita ketempat lain. Aku juga mau cari hadiah untuk, Raisa." Tapi, lengan Dion telah mencekal lenganku.
"Ada apa, Reny? Kamu jangan bohong, apa aku telah menyinggung perasaan kamu," mata Dion mengungkungku sehingga mataku tak leluasa menghindar.
"Sebenarnya tidak ada apa-apa. Hanya saja, tadi hatiku trenyuh mengingat Raisa yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu. Entahlah, aku hanya tiba-tiba ...." Aku tak melanjutkan kata-kataku. rasanya semua kata tercekat di tenggorokanku.
"Hem, aku mengerti. Terimakasih atas rasa simpatimu itu." Dion makin menatapku lekat, untuk kesekian kali aku luruh oleh tatapan itu.
"Oya, hadiah apa yang mau kamu beli pada Raisa. Aku yakin dia pasti senang menerimanya." Dion akhirnya mengalihkan juga suasana yang agak canggung antara kami.
"Mungkin sebuah boneka," ucapku mengajukan ide.
"Terserah kamu apa saja."
"Kalau begitu, kita ke toko sana aja. Mungkin di sana ada yang cocok," ucapku.
"Ayo," Dion meraih tanganku dan mengandengku ke arah toko yang kutunjuk. Sejenak darahku berdesir. Huh! Apaan sih ini, lama-lama aku bisa terserang jantung kalau tiap hari dekat dengannya. *****
__ADS_1