
Aku melihat setitik cahaya di ujung sana, di saat aku terperosok dalam terowongan gelap ini. Aku ketakutan setengah mati dalam gelap ini. Saat kulihat cahaya itu, aku berusaha menuju ke sana.
Namun, kenapa langkah ini sangat berat, seolah kakiku tak mampu menyangga tubuhku. Apa yang terjadi dengan dirirku? Apakah aku telah mati? Oh, tidak! Aku belum mau mati! Aku masih ingin hidup lebih lama lagi.
Kenapa di sini sepi sekali? Sebenarnya aku berada di mana, kenapa aku tidak ingat apa-apa? Mana ibu mertuaku, mana Doly adik iparku. Oh, kedua anakku di mana? Mengapa aku hanya sendiri di sini, aku takut.
"Hei! Sesiapapun di sana, tolong aku." Teriakku lantang, saking ketakutannya. Suaraku bergaung kembali padaku, membuatku semakin ketakutan. Apalagi saat aku melihat selarik kabut hitam, seperti asap lama-lama mengepul hebat. Membuatku sesak napas dan terbatuk-batuk.
Di saat aku diselimuti kabut tebal itu, aku melihat seraut wajah di depanku. wajah itu sangat menyeramkan, lebih seram dari iblis. Aku tak bisa menggambarkan kengerian dalam wajah itu.
Aku belum pernah melihat di manapun. Baik dalam lukisan atau dalam mimpi.
Aku berusaha mundur pelan-pelan, karena aku takut makhluk itu terbangun. Ada rasa jijik sekaligus ngeri yang begitu dalam melihatnya.
Wajah itu bertanduk antara wajah manusia dan ular, ada lendir yang tidak berhenti keluar dari mulutnya. Bau amis dan busuk yang menyengat keluar bersamaan dari napasnya. Aku ingin muntah, rasanya seisi perutku beserta ususnya ingin keluar sekalian.
Aku berusaha menahan rasa mual itu, tapi tidak berhasil. Semakin aku tahan, semakin rasa mual itu membludak di perutku. Akhirnya aku muntah, rasanya seisi perutku sudah keluar semua, lemas sekali sekujur tubuhku.
Saat itulah aku mellihat makhluk itu membuka matanya. Matanya merah semerah saga, mulutnya menganga siap menelanku hidup- hidup. Eh, Apakah aku memang masih hidup? Tempat ini terasa asing sekali.
Makhluk itu bergerak maju perlahan, menjulurkan lidah panjangnya hendak menyentuh wajahku. Aku mundur selangkah bersiap melarikan diri. Tapi sinar mata itu seolah menghipnotisku, aku tak bisa bergerak, jangankan untuk berlari seluruh tubuhku rasanya lumpuh.
__ADS_1
Di puncak ketakutanku, aku berteriak minta tolong, sekeras-kerasnya. Lalu cahaya putih itu, seolah menarikku keluar dari gumpalan asap itu.
"Tolong...Tolong....!" teriakku ketakutan. Lalu aku merasa tubuhku diguncang seseorang. Aku membuka kedua.mataku, kulihat Martin dan Vicky tengah menangis sesegukan di kedua sisiku.
Ah, semuanya ternyata mimpi," bisik batinku lirih.
Aku menatap sekelilingku, semua berwarna putih. Lalu seorang pria berseragam putih didampingi seorang wanita juga mengenakan pakaian dengan warna yang sama, memeriksaku.
"Syukurlah, akhirnya ibu sadar," ucapnya dengan seulas senyum lembut. Melegakan hatiku, karena aku tau mereka manusia, berati aku masih hidup di alam manusia.
"Ada apa dengan saya dokter, kenapa saya terbaring di sini," ucapku lirih. Pikiranku perlahan pulih, kalau orang berseragam itu adalah dokter dan perawatnya.
"Ibu, mengalami kecelakan. Ibu, tidak ingat, ya? ucapnya masih dengan senyum lembut dan ramah.
"Bagaimana keadaan saya, dokter? " ucapku gugup. Dokter itu menghela napasnya perlahan. Aku jadi tegang melihat sikapnya.
"Maaf ya, Bu, Kami sudah berusaha sesuai kemampuan kami. Tapi, ...." Dokter itu tidak melanjutkan ucapannya. Aku semakin tegang, dan berusaha menggerakkan tubuhku karena kebas. Aku hendak mendorong tubuhku dengan kekuatan kakiku. Tapi ada yang aneh, aku tidak merasakan apa-apa. Malah ada rasa ngilu di pahaku,
"Jangan bergerak, Bu, luka ibu bisa berdarah nanti," tegur dokter itu.
"Tapi, Dok, apa yang terjadi dengan kakiku. Aku tidak merasakan apa-apa dengan kakiku," ucapku penasaran. Aku menarik selimut yang menutupi kedua kakiku. Astaga! Apa yang terjadi dengan kedua kakiku? Kenapa kedua kakiku buntung?
__ADS_1
"Dokter! Mana kedua kakiku?! Mana kakiku?!" jeritku histeris.
"Maafkan kami, Bu. Kedua kaki Ibu terpaksa kami amputasi, karena hancur terlindas truk jika tidak nyawa ibu akan terancam...." Aku tak mendengar apa lagi ucapan dokter, aku terlanjur panik dan syok. Tubuhku terasa di jejalkan ke terowongan hitam dan gelap, mungkin menemui makhluk seram itu lagi. Aku berharap tidak usah kembali lagi ke dunia. Biarlah makhluk seram itu menelanku saja. Buat apa aku hidup, percuma saja bila aku tidak memiliki ke dua kakiku.
Lamat-lamat aku masih mendengar suara jerit tangis kedua bocahku. Itu, suara Martin dan Vikky. Maafkan ibu nak, ibu tidak bisa bersama kalian lagi. Biarlah ibu mati saja di telah makhluk mengerikan itu. Meskipun belum sempat ditelan ibu sudah mati duluan saking ngerinya.
"Mama....Mama....! Eh, kenapa teriakan itu makin jelas terdengar. Bukannya aku sudah mati, ditelan mahkluk itu. Kenapa aku mersakan tubuhku di guncang. Oh, mungkin tubuhku sedang dalam proses ditelan. Kubuka mataku, untuk melihat prosesnya. Ternyata yang kulihat adalah, wajah kedua bocah yang barusan hendak kutinggalkan tengah bersimbah air mata.
Dokter dan perawat itu masih juga berdiri di sana. Kali ini ditambah dua wajah tak asing bagiku. Ibu mertua dan Doly. Ibu mertua duduk di kursi roda, dan Doly berdiri di belakangnya. Kulihat wajah ibu mertua yang menahan sedih.
Aha, ibu mertua pasti sedang mengejek keadaanku. Dia pasti sedang mengumpatku,
"Rasain, Sarah, inilah karma atas semua kejahatanmu padaku selama ini" aku melihat senyum sinis dan wajahnya mirip seperti makhluk mengerikan itu.
"Tidak!, Tidak....!" Pergi kamu, pergi kalian semua. Aku tidak mau hidup lagi. Aku tidak mau cacat seperti ini. Aku lebih baik mamti saja, tidakkk! teriakku histeris. Aku meracau sejadinya, hingga aku merasakan tangan-tangan kokoh memegangi tubuhku. Lalu aku merasa tubuhku di suntik, sesuatu mengalir dalam tubuhku, melumpuhkan semuanya, sehingga aku merasakan kantuk yang berat. Jika ini yang di sebut dibius, biarlah aku tidak usyah bangun-bangun lagi.
Sebelum kesadaranku berangsur hilang, masih sempat kudengar percakapan dokter itu.
"Maaf pak, sepertinya pasien kami sangat shok dengan kejadian yang menimpanya. Dia butuh terapi pemulihan agar bisa menerima kenyataan yang terjadi padanya."
Ah, gampang sekali kamu bicara dokter, siapa pun orangnya tidak akan sudi kehilangan anggota tubuhnya. Apalagi kedua kakiku. Aku shok kata dokter, ya tentu saja aku shok. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa kehidupanku nanti setelah kedua kakiku kamu amputasi di meja operasi. Keduanya pula, kenapa tidak menyisakan satu?
__ADS_1
Bagaimana aku bisa berjalan nanti, kenapa hidup ini begitu kejam padaku. Aku tidak bisa menerima kenyatann ini. Perlahan kesadaranku mulai hilang, biarlah aku tidak usah terbagun lagi. Aku bisa gila jika harus hidup lagi. Orang-orang akan mengejekku nanti. Kalau tidak, mereka akan memandangku dengan tatapan kasihan. Aku tidak mau dikasihani. Tidakkkk. *****