Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Di desa


__ADS_3

Agra dan Agina mengikuti gerombolan warga yang membimbing mereka melihat desa mereka sebelum mengunjungi jempatan yang hampir selesai di bangun.


Telinga Agina tersegel rapat dengan handset. Teriak wanita yang mengidolakan Agra lah yang membuat nya melakukan nya. Sebenarnya bukan hanya para wanita tapi juga para lelaki yang hanya berani melirik ke arah gadis berwajah datar itu. Para lelaki itu ingin sekali mendekat dan mengajak Agina mengobrol tapi melihat wajah Agina yang tidak bersahabat membuat mereka serentak berjamaah tidak melakukan hal yang para wanita lakukan.


"Pak kepala desa, apa di sekitar sini ada tempat yang terdapat sinyal?" tanya Agina. Ia mengingat ada sesuatu yang harus di lakukan nya.


"Oh ada, mari saya antarkan!" jawab pak kepala desa.


"Tidak perlu, anda tunjukkan saja arah nya."


"Nona Agina hanya perlu lurus saja dan di sana anda akan melihat sungai, disitu lah tempat nya." Pak kepala desa menunjuk arah.


"Terima kasih!" Baru mau melangkah.


"Bagaimana denganku?" Agra ikut menyahut. Ia tidak ingin di tinggal dengan segerombolan para wanita berisik ini. Bagi nya lebih baik bersama Agina yang selalu membuat suasana menjadi hening.


"Saya hanya akan pergi sebentar, anda lanjutkan saja tur nya." ucap Agina seraya melirik seseorang. Orang itu hanya mengangguk. Agina berjalan ke arah yang di tunjukkan.


Agra kesal melihat sikap Agina yang selalu berbuat semaunya. "Aku akan menyusul nya, kalian tunggu di sini!" suruh Agra menyusul Agina.


Orang yang tadi di lirik Agina jadi frustasi. Apa ia harus menyusul tuan Agra tapi itu pasti akan menimbulkan kecurigaan. Tapi jika tidak, ia takut akan terjadi sesuatu kepada tuannya itu.


......................


Agina melangkah menuju sungai yang jadi tujuan nya. Ia menghela nafas menyadari Agra yang mengikuti dirinya. Melirik mata nya ke belakang, dapat ia lihat Agra yang bersembunyi di balik pohon. Jarak nya cukup jauh jadi pasti Agra tidak akan mendengarkan. Agina melakukan panggilan.


"Bagaimana?" tanya Agina pada orang di seberang.


"Aku sudah menyuruh beberapa orang untuk menyamar di sana, jadi pasti tidak akan ketahuan."


"Aku tau, aku melihat nya tadi. Tapi aku yakin, musuh kita pasti melakukan strategi yang sama." Agina sesekali melirik kebelakang mengecek keberadaan Agra.


"Kau tidak perlu khawatir, aku menyewa penyamar profesional."

__ADS_1


"Pembunuh bayaran di tambah pengawal kita yang sama sama menyamar menjadi warga desa di sini, pasti akan menimbulkan kecurigaan karena tiba tiba penduduk desa jadi bertambah. Dan pasti nya mereka pasti mengenal orang orang di sini." jelas Agina.


"Jadi apa yang harus kita lakukan?"


"Dari yang ku lihat, seperti nya musuh kita menyewa orang di sini, jadi tidak akan mudah di kenali," kata Agina seraya mengepalkan tangan nya. "Sisakan dua pengawal, agar tidak menimbulkan kecurigaan."


"Tapi jika musuh lebih banyak, maka kita akan kalah!"


"Dia akan bersama ku selama di sini. Jadi kau tidak perlu khawatir, aku akan menjaga nya."


"Aku tidak peduli padanya, aku hanya mengkhawatirkanmu." Nada di seberang sana tiba tiba jadi sendu.


"Peduli padanya sama saja kau peduli padaku Stif."


"Sampai kapan kau akan terikat dengan nya?" lirih orang yang di panggil Stif.


"Sampai aku mati!" Pengakhiran sebelum menutup sambungannya. Agina menghembuskan nafas nya, lelah rasa nya menjalani kehidupan yang terikat janji dengan seseorang yang sudah meninggal.


Memutar tubuh nya. "Ah!" Kaget nya karena Agra ternyata ada di belakang nya. Sedangkan Agra menahan tawa nya. Sungguh ekspresi Agina saat terkejut tadi terlihat lucu di mata nya. Kini Agra bisa melihat satu lagi ekspresi gadis datar di depan nya.


"Memang nya kenapa? Kau takut aku mendengar pembicaraan romantismu dengan kekasihku." Agra menekan setiap kata. Entah kenapa dada nya terasa panas sekarang.


Sambil berjalan melewati Agra. Agina berkata. "Dia sekretarisku bukan kekasihku!"


"Siapa yang kau maksud, yang akan kau jaga?" Menatap punggung Agina yang berhenti.


"Kau!" tanpa menatap Agra. Agina kembali melangkahkan kaki nya.


Agra tertekun mendengar jawaban Agina. Apa yang di maksud dengan menjaga nya. Apa dirinya sedang dalam bahaya sekarang. Kalau pun ia apa urusan nya dengan gadis itu.


Agra yang tersadarpun segera menyusul langkah Agina.


......................

__ADS_1


"Anda tidak boleh jauh jauh dari saya!" ucap Agina yang kembali menggunakan bahasa formal.


"Ya, ya aku tau kau memang tidak bisa jauh dariku." berkata dengan penuh percaya diri. Agra tersenyum menggoda kepada gadis di samping nya.


"Anda percaya diri sekali!" sahut Agina melirik sinis.


Agra menghendikkan bahu nya. "Kau sendiri yang mengatakan nya. Aku hanya mengabulkan nya saja."


"Benarkah?" Sok berpikir. "Bukankah anda yang tidak bisa jauh dari saya, sampai sampai anda menyusul saya tadi." balas nya menyeringai.


"I, itu," Agra menjadi gugup sendiri. "Sebagai patner kita harus menjalani tur ini bersama."


Agina hanya ber oh saja. Mereka tiba di jembatan yang sudah di bangun. Sebenarnya Agra tidak perlu datang hanya untuk peresmian jembatan kecil ini, karena Agina bisa mengurusnya. Tapi Agra yang sudah berencana membalas Agina jadi dia terpaksa ikut. Walau ujung ujung nya dirinya lah yang merasa di kerjai.


Jembatan ini di rancang dengan metode Bream Bridge yang memang biasa di gunakan untuk menghubungkan dua daratan. Di buat dari baja dan semen untuk memperkuat nya.


"Ada detektor keamanan di jembatan ini. Jadi jika terjadi bencana, ia akan berbunyi dan memperingatkan untuk tidak melewati jembatan tersebut. Jempatan ini hanya bisa di lewati 10 orang dengan jalan 1 baris, jika lebih makan detektor keamanan akan berbunyi. Jadi tolong ikuti peraturan nya demi keselamatan." jelas Agina menatap tajam semua warga. Warga desa menunduk takut.


"Kami warga desa Asri mengucapkan banyak terima kasih kepada kalian atas bantuan nya." ucap pak kepala desa.


"Senang bisa membantu." Agra membalas datar.


"Kalau begitu kami pulang dulu." Sahut Agina mengulurkan tangan nya. Yang langsung di sambut cepat pak kepala desa. Hanya sebentar. Agra melakukan hal yang sama.


Agra dan Agina melangkah kembali melewati hutan tadi. Dan Agra tetap dengan keluhannya. Agina sesekali menutup telinga nya. Sampai,


"Tuan Agra!" teriak Agina menarik lengan Agra untuk menghindari tembakan.


"Apa itu tadi?" tanya Agra yang syok.


"Keluar kalian semua!" suara Agina menggelegar ke seluruh hutan. Beberapa orang keluar dengan pisau di tangan nya.


...----------------...

__ADS_1


Jika suka jangan lupa like karena itu sangat berharga buat aku.


TERIMA KASIH SUDAH BACA.


__ADS_2