Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Bab 63


__ADS_3

"Senyum, ibarat segelas air bagi yang dahaga. Senyum juga bisa jadi obat penguat bagi yang lemah. Peneduh bagi yang lara. Kekuatannya sangat menakjubkan"


Suasana di sekolah swasta " Kasih Bunda" masih sepi. Karena jam pulang sekolah masih satu jam lagi. Aku memang sengaja datang lebih cepat, karena ada urusan soal administrasi sekolah.


Sebenarnya bukan aku yang mengantar jemput pulang sekolah, Devan dan Mitha. Pagi tadi aku ditelepon oleh kepala sekolah, supaya datang sehubungan dengan Devan yang mau ikut olimpiade. Jadi, ada beberapa hal yang harus dibicarakan sehubungan dengan lomba itu.


Aku sudah menelepon Brian supaya tidak usah menjemput anak-anak lagi. Karena kebetulan urusanku di kantor tidak begitu padat, aku sengaja datang lebih awal.


Setelah urusan administrasi itu selesai, aku duduk di ruang tunggu yang disediakan sekolah, bagi orang tua yang mau menjemput anak-anaknya. Untuk mengisi waktu luang agar tidak bosan menunggu, aku mengambil ponselku dan berselancar di dunia maya.


Aku menscrol beberapa postingan yang hadir di berandaku. Sesaat aku asyik melihat sebuah vidio lucu ,tak sadar aku senyum-senyum sendiri melihat vidio itu. Lumayan juga hiburannya, menurutku. Karena aku terhibur dengan konten lucu itu.


Saat asyik dengan ponselku, aku tak menyadari kalau ada seseorang duduk agak jauh dariku. Aku menatap sekilas ke arahnya. Kulepaskan seulas senyum padanya. Agak ragu dia membalas senyumanku.


Dia seorang anak perempuaan seusia Mitha putriku. Mungkin kelasnya sudah bubar duluan, dan sedang menunggu jemputan. Kusimpan ponselku ke kantong.


"Lagi menunggu dijemput, Nak?" sapaku seramah mungkin. Aku sengaja memulai percakapan. Gadis kecil itu mengangguk. Aku makin tersenyum melihat rambutnya yang dikuncir dua bergoyang saat dia mengangguk tadi. Gadis kecil yang cantik dan menggemaskan.


"Dijemput, Mama?" ucapku lagi sekedar bertanya.


Kali ini dia menggeleng dan menunduk. Ada aura sedih tertangkapku saat dia menundukkan wajahnya. Sejenak aku tertegun.


Ah, mungkin yang menjemputnya adalah sopir. Mamanya terlalu sibuk bekerja mungkin, sehingga dia merindukan mamanya dan sedih saat aku mengingatkannya.


Akhirnya aku terdiam dan mengalihkan pandanganku.


"Tante mau jemput anak, Tante?" tiba-tiba gadis kecil itu bersuara.


"Iya," sahutku mengangguk lembut.


"Namanya siapa?"


"Tante?" ucapku menunjuk diriku.


Dia menggeleng. "Anak Tante,"


"Oh, namanya Mitha. Dia seusia kamu. Kenal?" kembali dia menggeleng. Aku jadi tertawa kecil, karena sadar disekolah ini mungkin ada beberapa orang yang bernama Mitha, dan juga karena jumlah murid yang begitu banyak.


"Kamu kenapa keluar duluan dari kelas?"


"Aku duluan menyelesaikan tugas, Tante. Jadi, boleh pulang duluan," sahutnya.


"Tapi tertahan di sini juga karena belum ada yang jemput," ucapku. Aku mulai menyukai gadis kecil itu. Karena keramahannya.


"Hehehe....Iya, Tante. Tapi aku tetap senang karena yang pertama keluar kelas."


"Oh, ya. Berarti kamu itu anak yang pintar dong," pujiku tulus.


"Ho oh, Papa juga bilang begitu." ucapnya bangga. Ingin sekali aku mengucek poninya dan kuncir rambutnya yang bergoyang setiap kali dia menggerakkan kepalanya. Gadis kecil yang lucu dan cantik. Sayang, aku lupa menanyakan namanya, karena bel tanda sekolah usai memisahkan kami.


Aku menatap kepergiannya yang berlari riang, menuju gerbang. Dimana, supir yang akan menjemputnya telah menunggu di gerbang. Saat akan keluar dia masih sempat menoleh ke arahku dan melambaikan tangannya. Aku membalas lambaian tangan itu.

__ADS_1


"Mama!" teriakan Devan mengalihkan pandanganku sehingga aku tak melihat siapa yang menjemput gadis kecil itu.


"Devan, adik mu mana?" tanyaku seraya mengulurkan tanganku. Devan menyalam dan mencium punggung tanganku.


"Mama!" sebuah teriakan lagi-lagi memanggilku. Mitha tengah berlari ke arahku dengan senyum lebarnya.


"Mama yang jemput kami, ya? Om, Brian mana, ma?" serunya.


"Kali ini, Mama yang jemput. Kebetulan tadi Mama mengurus keperluan abangmu, Devan."


"Oh, Mitha senang banget, Mama yang jemput."


"Emang, Om Brian gak suka?"


"Suka juga, 'kan sama Om Brian, apa-apa dibawa serius. Klo minta mampir pasti gak dibolehin," mulut gadis kecilku ini mengerucut.


"Emang harus begitu. Sudah tugas Om, menjaga kalian. Kalau terjadi apa-apa dengan kalian, Om itu yang tanggung jawab. Jadi, jangan nakal sama Om Brian, ya. Kalian harus patuh ya, Nak.


Memangnya mau mampir kemana, sampai Om Brian, nolak." tanyaku.


"Ketaman bermain, Ma." seru Mitha.


"Tempatnya 'kan jauh nak. Pulang sekolah lagi. Bisa-bisa Om Brian di pecat kakek. Kalo perginya tanpa izin, Mama atau Nenek."


"Kalau perginya sama Mama, boleh gak?"


"Sekarang?" tanyaku. Mitha mengangguk dan mohon dukungan dari abangnya Devan.


"Abang juga mau'kan ke taman bermain," bujuknya sama Devan. Karena kebetulan besok adalah hari Sabtu, ku turuti saja keinginan Mitha.


Taman bermain yang dia maksud ternyata adalah sebua kafe yang baru dibuka. Halamannya yang luas dihiasi beberapa patung binatang. Juga beberapa arena permainan.


Mungkin karena indahnya taman yang ditata, dan mereka selalu melewatinya setiap pulang pergi sekolah, Mitha begitu ingin mampir di taman itu. Hanya saja Brian, juga terlalu takut menuruti keinginan anak-anakku untuk sekedar mampir, karena protokol perkerjaannya.


Setelah memarkir mobil, di area parkir. aku membimbing tangan Mitha memasuki area kafe. Mitha langsung berlari ke area taman. Karena diberi saung, taman itu tidak tembus panas. Padahal hari lagi terik-teriknya.


Aku memesan beberapa makanan, untuk diantar ke taman karena memang disediakan tempat makan dan minum di area taman.


Kuabadikan beberapa foto Mihta dan Devan. dengan pose di berbagai patung. Senyum dan tawa mereka begitu sumringah saat foto selfi.


"Ma, ambil juga foto kita waktu makan," ucap Mitha.


"Untuk diposting Ma, di pesbuk. Biar Papa liat juga nenek," serunya.


Deg!


Setelah beberapa bulan berlalu, sejak orang tuanya bercerai, baru kali ini Mitha menyebut papa dan neneknya.


"Mitha yakin, untuk memostingnya?" tanyaku.


"Gak usahlah, Dek, buat disimpan aja di galeri hp mama," ucap Devan. Mulut gadis kecilku langsung memberengut. Ngambek karena abangnya melarang. "Ya, udah kalau adek memang mau mempostingnya, terserah," ucap Devan mengalah.

__ADS_1


Mitha langsung mengupload foto-foto selfinya di beranda fb ku, dengan caption " suatu siang bersama mama dan abangku". Aku tersenyum membaca kalimat sederhana tapi sarat dengan makna itu. Seketika Mitha asyik dengan hp ku. Mungkin ada yang melike atau mengomentari postingannya itu.


"Mama, ini banyak yang suka lo, liat foto kita," serunya riang. Aku hanya tersenyum melihat ulahnya. Lalu aku mengedarkan pandanganku ke sekitar taman.


Tiba-tiba mataku menangkap sekelebat tubuh sedang main plosotan. Dia masih mengenakan seragam sekolah, sama seperti Devan dan Mitha.


Sepertinya wajah itu juga tak asing, dia adalah gadis kecil yang kujumpai tadi di sekolahnya Mitha.


Aku menghampirinya hendak memastikan apa benar dia gadis kecil itu. Ketika sebuah suara memanggil dan memperingatkannya. "Raisa, awas jatuh!"


Karena terhalang dengan rimbunnya pohon bonsay, aku tidak melihat orang yang memanggil nama itu


"Raisa?" sepertinya suara berat itu juga aku kenal. Apakah dia Raisa putri Dion dan suara berat itu milik Dion. Itu berarti Dion juga sedang berada di kafe ini?" Aku berbalik arah ketika seseorang juga memanggil namaku.


"Reny?" suara berat itu menghentikan langkahku. Aku menoleh dan pura-pura kaget saja, dan seulas senyum langsung bertengger di mulutku, untuk menenangkan hatiku yang mendadak bergemuruh. Ih, ada apa ini?


"Eh, Dion, kamu kok ada di sini? sapaku menyambut tegurannya.


"Kamu sendiri, ngapain di sini?" Dion malah balik tanya.


"Aku membawa anak-anak, " tunjukku ke meja tempat Devan dan.Mitha berada.


"Kebetulan sekali kita jumpa di sini. Aku juga membawa Raisa, tadi dia memaksa mampir. Sepertinya mereka satu sekolah, ya. Baru tau aku," ucapnya mengulas senyum.


Bleh! Tumben senyumnya Dion manis begitu. biasanya wajahnya dingin dan kecut.


"Eh, Tante! Pa, Tante inilah yang Raisa ceritakan, tadi." tiba-tiba gadis kecil itu, yang ternyata namanya, Raisa, dan kebetulan sekali putrinya Dion. Kini telah berdiri di samping papanya.


Keningku mengernyit, mendengar sepenggal ucapannya. Ternyata dia telah menjadikan aku bahan bergossipnya dengan papanya. Apa sih yang kamu bicarakan soal tante pada papamu itu, geram hatiku gemas.


"Jangan marah, Tante. Ica gak ngomong macem- macem kok," ucapnya menebak isi hatiku.


"Ica udah kenal sama Tante Reny?" beliak Dion menatap kami silih berganti.


"Baru tadi, Pa. Sebelum papa datang, tante Renylah yang menemaniku, ngobrol. Iya 'kan, Tan?" aku langsung mengangguk mengiyakan.


"Oh, padahal Papa berharap dia orang lain," bisik Dion tapi suaranya terdengar juga olehku. Apa maksud ucapannya itu.


"Sampai jumpa, Ica, Tante pamit dulu, ya, dah!" seruku tersinggung lantas berbalik arah, menuju meja anak-anakku.


Mengesalkan sekali ucapannya. Berharap orang lainlah, bukan diriku, yang menemani ngobrol anaknya. Namun, ada apa dengan hatiku, ya? Bisa-bisanya tersinggung. Huh!


Tapi lenganku seolah disambar dan genggamannya sangat kuat. Hampir saja aku terjungkal dan menabrak dada bidangnya. Kalau saja, yah, kalau saja aku kehilangan keseimbangan tubuhku.


"Kenapa, buru-buru?" tegurnya dengan senyum yang seolah menggoda atau mengejek, bedanya tipis kali beuh.


"Ada anak-anak, nanti mereka pikir mamanya menghilang," seruku sekenanya. Raisa malah terbahak mendengar ucapanku itu.Entah apanya yang lucu. Duh, anak sama bapak ini ternyata sama gokilnya.


Dengan halus aku berusaha agar Dion melepaskan lenganku.


"Oh, jadi di Tante Reny, yang sering papa ceritakan, sama Ica. Mayan juga, pantasan papa ...." Dion membekap mulut gadis kecilnya, sehingga lenganku otomatis terlepas.

__ADS_1


"Eh, kamu ingin burungnya lepas lagi, ya?" ucap Dion, Raisa yang hendak bicara lagi, jadi bungkam dengan senyum ya, ampun. Betapa menggemaskan sekali kedua makhluk itu. Entah burung siapa yang lepas dan apa maksudnya lepas lagi. Aku jadi bingung juga dengan kata sandi mereka.


Buru-buru aku kembali ke meja Devan dan Mitha, sebelum mereka sadar aku menghilang.*****


__ADS_2