Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Perasaan


__ADS_3

Agina menatap layar dengan pandangan malas. Ia tidak berniat untuk mengangkat panggilan tersebut, sampai panggilan berakhir. Namun notifikasi pesan masuk. Agina membaca dengan wajah datar.


Angkat!.


Akhirnya Agina menggeser tombol hijau. "Apa!"


Agra mengelus dadanya mendengar suara ketus Agina. Ada apa ini? Kenapa malah Agina yang tampak marah? bukankah seharusnya dirinya yang marah karena Agina pergi dari perusahaan seenaknya saja. Tidak ada berita sama sekali lagi! Benar - benar membuatnya khawatir. Ya meskipun dirinya yang berpikir berlebihan.


"Kau ada dimana? Mengapa ruanganmu kosong? Apa kau marah padaku karena tidak percaya padamu? Tapi kenapa harus mengundurkan diri dari perusahaan? Dan kenapa juga harus pergi?" Deretan pertanyaan keluar begitu saja dari mulut Agra. Ia sangat cemas saat melihat ruangan Agina yang tidak ada orangnya hanya ada meja dan kursi.


"Bukankah anda menyuruh saya untuk tidak muncul di hadapan anda." jawab Agina datar.


"Aku menyuruhmu untuk tidak menemuiku bukan berarti aku tidak akan menemuimu!" sentak Agra. Ia masih emosi.


"Enak sekali jadi anda. Mengatur orang sesuka hati." Menyindir.


"Terserah aku. Akukan rajanya." Tiba - tiba angkuh.


"Tapi saya bukan rakyat anda. Saya punya wilayah sendiri dan menjadi ratu di sana."


"Raja dan ratu, cocok juga. Kita menikah aja yuk!" Agra berkata riang.


Agina menganga mendengar ucapan yang terkesan blak - blakan itu. "Nikah sama tiang sana!" ketus Agina. Ia jadi bingung sendiri. Dulu saat masih kecil, Agra adalah sosok yang selalu melindunginya. Sifat hangat selalu di tunjukkannya walau hanya kepadanya. Tidak seperti sekarang yang bersikap kekanak - kanakan.


"Apa kau masih marah padaku?" tanya Agra dengan lembut. Tujuannya menelpon Agina untuk menanyakan keberadaannya bukan untuk membahas yang tidak jelas.


"Untuk apa?"


"Karena aku tidak mempercayaimu."


"Saya kan tidak menjelaskan, bagaimana anda bisa percaya. Dan juga sudah sepatutnya anda membela kekasih anda."


"Mau kekasih atau bukan, tapi kebenaran harus tetap di tegakkan."


"Omongan anda kayak orang benar aja." Agina memutar bola mata malas. "Bagaimana keadaan kekasih tuan?"


Agra tersenyum. Sekarang ia semakin percaya pada istingnya yang mengatakan Agina tidak bersalah. Terbukti dengan Agina yang mengkhawatirkan keadaan Olivia. "Tulang pingangnya retak, tapi tidak terlalu parah." Lagian karyawan yang mengatakan Agina menggoda tidak terbukti sama sekali. Justru sebaliknya, dirinyalah yang selalu menggoda Agina.


Syukurlah' Agina lega.


"Sekarang, bisa kau jelaskan apa yang terjadi?" tanya Agra serius.


"Dia datang langsung menamparku dan menarik rambutku. Saya tendang saja mejanya." Menjawab dengan santai. Ia tidak terlalu memikirkan tamparan dan jambakan kekasih tuannya.

__ADS_1


Agra melongo. Mengapa Agina menjelaskan dengan nada sesantai itu. Seharusnya dia marah kan? Apa dia tidak marah Olivia memperlakukannya itu?.


"Anda mempercayai siapa?"


"Aku tau sifat Olivia seperti apa. Jadi aku mempercayaimu."


"Oh."


Hening.


"Kau ada dimana sekarang?"


"Tenang saja. Aku tidak akan muncul selama beberapa minggu."


"Kau meninggalkan tugasmu?!" teriak Agra marah.


"Tidak. Tapi ada urusan yang harus saya selesaikan."


"Seharusnya kau meminta izin dulu padaku." sungut Agra.


"Tuan Agra, sudah beberapa kali saya bilang bahwa saya bukan karyawan anda." tegas Agina. "Saya memiliki hak yang sama dengan tuan di perusahaan Pratama Group."


"Ya, ya aku sudah tau." ejeknya. Agra hanya menganggap lelucon omongan Agina. Mana mungkin perusahaan ayahnya di berikan kepada Agina.


Sedangkan Agra terus memaki Agina yang suka seenaknya mengakhiri panggilan. Agra menatap sekretarisnya yang membeku di tempat dengan wajah melongo.


"Kau kenapa?!" Bertanya dengan nada membentak.


Sekretaris Ezwar masih melongo. "Anda beneran tuan Agra Pratama kan?" menanyakan pertanyaan bodoh.


Agra mengerutkan kening. "Pertanyaan macam apa itu, tentu saja aku Agra."


"Syukurlah, anda sudah sehat." Sekretaris Ezwar bernafas lega. Ia tadi merasa takjub melihat tuannya es nya tersenyum. Senyuman yang sudah tidak di lihatnya selama delapan tahun ini. Itu artinya tuannya sudah kembali normal.


"Maksudmu itu apa? Akukan memang sehat!"


Sekretaris Ezwar tersenyum. "Senyuman anda sudah kembali."


Agra tertegun. Ia terharu mendengar perutunutan sekretarisnya. Memang sejak bertemu dengan Agina, ia merasa selalu ingin tersenyum. Wajah kakunya tidak akan muncul di hadapan gadis moster itu.


Agra berdehem. "Belum lama ini, aku memang selalu tersenyum."


"Pasti karena Agina kan tuan?" seringaian muncul.

__ADS_1


"Kau jangan bicara sembarangan."


Sekretaris Ezwar memaklumi sifat tuannya yang selalu gengsi kalau masalah perasaan.


"Ezwar, cari tau dimana Agina sekarang." titah Agra.


"Eh, bukannya ada di ruangannya?"


"Tidak. Aku sudah memeriksanya, dia sudah pergi." Agra mulai sibuk dengan berkas di mejanya.


Sekretaris Ezwar terdiam. "Agina pergi, itu artinya ada sesuatu yang terjadi. Tapi tumben sekali dia tidak memberitahuku.


Aktifitas Agra terhenti. Ia bingung melihat sekretarisnya yang malah sibuk dengan pikirannya sendiri. "Ezwar."


Tidak bergeming. "Ezwar!" bentaknya.


Sekretaris Ezwar terlonjak. "Ada apa tuan?" menjawab dengan gelagapan.


"Kau mendengarku tidak?!" Mengebrak meja.


"Sa, saya mendengarnya. Kalau begitu saya permisi." Berlalu dengan cepat. Sekretaris Ezwar tidak mau kena amukan tuannya.


Sekretaris Ezwar menuju ruangannya yang terletak di sebelah ruangan tuan Agra. mendudukkan dirinya di kursi. Ia memikirkan sesuatu.


Jika Agina pindah pasti ada sesuatu yang terjadi. Tapi kenapa kali ini tuan Agra mengetahuinya? Apa terjadi sesuatu sebelum Agina pergi? Ezwar menggeleng kepalanya, ia tidak ingin menebak - nebak. Lebih baik ia tanyakan saja pada Agina.


"Jika Agina hanya pindah dari Pratama Group utama bukan keluar negera, itu artinya Agina sekarang berada di perusahaan Pratama Group ketiga." Dulu sebelum tuan Agra dan Agina bertemu, Agina selalu pindah - pindah perusahaan. Jika tuan Agra ada di perusahaan utama maka Agina akan berada di perusahaan lain. Tampak sekali kalau Agina berusaha menghindari tuannya. Namun waktu itu mereka bertemu karena orang suruhan Agina salah memberikan informasi kapan kepulangan Agra dari luar negeri. Akibatnya mereka bertemu saat sama sama pergi ke perusahaan utama.


Ting


Suara notifikasi pesan masuk. Ezwar membukanya dan betapa terkejut saat tau apa yang di kirim oleh Agina.


Simpan vidionya dan perlihatkan pada tuan Agra kapanpun kau mau. Isi pesan.


Ezwar mencoba menelpon Agina, ingin meminta penjelasan mengenai vidio itu. Namun Agina tidak mengangkatnya, sepertinya nomornya sudah di blokir.


Apa maksudnya vidio itu? Apa jangan - jangan ada yang di sembunyikan orang itu? Tapi tidak mungkin orang yang sangat Agra percayai mengkhiatinya. Dia harus menyelidikinya. Agina pasti mengetahui sesuatu. Ya dia harus menemui Agina.


Segera ia menyambar kunci motornya. Dan keluar dari perusahaan utama menuju perusahaan ketiga.


......................


...TERIMA KASIH SUDAH BACA....

__ADS_1


__ADS_2