Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Extra bab bab 95


__ADS_3

Senja itu, langit diufuk barat berwarna merah jingga. Semerah hatiku menikmati indahnya panorama senja di pantai Sanur Bali. Lengan kekar Dion melingkar dipinggangku, begitu juga lenganku. Bergandengan kami berjalan menyusuri pantai pantai, menikmati senja yang beranjak malam.


Masih saling bergandengan, kami berdiri menatap laut lepas. Burung camar terbirit terbang menuju sarang. Excotic! Panorama pantai ini sungguh memikat hatiku. Lautnya yang tenang, membuat jiwa seolah terayun berselacar mengarungi dunia antah berantah..


Begitulah yang aku rasakan. Terhanyut oleh suasana hangat yang mengguyur segenap jiwaku. Sehangat pelukan Dion yang selalu menyelimuti malam- malamku kini.


Remasan tangan Dion di jemari kami yang saling bertaut, menyadarkanku pada situasi.


"Pulang, yuk!" ajakku lembut karena senja telah berakhir. Aku yang bergelayut manja dalam pelukannya, tengadah menatap wajah tampannya.


"Bentar lagi sayang," tatapnya intens ke manik mataku. "Tunggu, sampai senjanya benar-benar hilang," ucapnya seraya mengecup pucuk kepalaku.


Aku menurut saja, memang rasanya mata ini juga enggan berpalingg. Disaat menikmati nuansa sunset seperti ini. Semburat kemerahan serta laut yang seperti cermin raksasa, memantulkan cahaya matahari yang perlahan masuk peraduannya. Digantikan siluet hitam yang penuh misteri, menggugah perasaan, memberi sensasi melankolis, yang sulit dipaparkan.


Tiba-tiba Dion membopong tubuhku, aku kaget dan berusaha meronta. Aku merasa malu, karena banyak orang yang masih bersiliweran di pantai.


"Ih, apaan bang. Malu diliatin orang," protesku manja.


"Ngapain malu, yang gendong 'kan suami sendiri. Biar mereka pada iri," kekehnya.


"Ais, lebay," ucapku seraya menepuk dadanya yang bidang. Dion malah memamerkan senyum clouseupnya. Membuatku mabuk pada pesonanya. Kugantungkan lenganku dileher kokohnya, dan memberinya sebuah kecupan di pipinya.


"Hem, mulai nakal kamu, ya?" godanya saat aku mencuri cium pipinya.


"Baru gitu aja udah bap..." ucapanku menghilang ketika sebuah ciu*** balasan seolah menghukumku.


Napasku terengah, kurahup udara sepuasnya saat hukuman itu berakhir. Dion tertawa puas yang melihatku megap-megap.


"Tuh, lain kali jangan memancing singa lapar, ya?" kekehnya lagi. Sementara parasku berubah merah, semerah kepiting rebus kali, tapi untunglah senja telah berakhir sehingga semburat merah diwajahku tidak terekspos.


Aku memukuli dada bidangnya, pelan. Berusaha menikmati kehangatan tubuhnya.


"Ofs! Berat juga tubuh mungilmu, sayang." aku terbahak saat mendengar ucapan Dion saat aku diturunkan di teras penginapan. Napasnya terengah, lalu dia membaringkan tubuhnya di teras.


"Duh, kok malah tiduran di sini," protesku duduk disampingnya.


"Berbaringlah di sini," tunjuknya kesampingnya.

__ADS_1


"Ogah, ah," aku menolak. Aku hanya pengen lekas masuk, mandi biar segar. Setelah hampir seharian plesiran.


"Ayolah, sayang. Biar kamu tahu, betapa nikmatnya memandang langit saat seperti ini, bertabur bintang." ucapnya puitis.


"Ih, kayak penyair saja kamu. Hayo, mananya yang indah," mau tak mau aku berbaring juga. Dion menyodorkan lengannya untuk kujadikan bantal. Lalu aku melakukan hal sama dengannya, memandangi langit kelam yang bertabur bintang.


Benar apa katanya, aku juga terhanyut saat melihat siluet langit yang dihiasi ribuan bintang.


Perlahan aku merapatkan tubuhku ke tubuh Dion, karena udara malam berkesiur dingin. Aneh, tubuh serasa mendadak tidak enak.


"Dingin ya?" tanyanya mengubah posisi tubuhnya. Jadi berhadapan denganku. Aku mengangguk. "Kita masuk, yuk!"


ajaknya.


Setelah selesai mandi, kami menikmati makan malam berdua di kamar saja. Aku enggan diajak makan di luar. Saat makan, aku tak begitu berselera. Hanya sekedar icip-icip saja.


"Kamu kenapa, sayang? Gak enak ya, menunya?" sorotnya penuh perhatian.


"Enak, mendadak saja aku gak enak badan," kilahku. Dion langsung meraba tubuhku, menempelkan telapak tangannya di kening dan leherku.


"Sayang, kenapa baru bilang sekarang. Badan kamu terasa hangat. Mungkin masuk angin. Aku kerokin ya?" ucap Dion penuh perhatian.


"Bisa jadi, iya. Tapi kita chek up ke dokter saja, sekarang. Takut kamu kenapa-napa?" ungkapnya khawatir.


"Aku gak papa Bang. Mungkin butuh istirahat saja. Besok pasti segar kembali," sahutku menolak ke dokter. Aku paling malas kalau berurusan dengan obat-obatan. Susah nelannya bawaannya mau muntah terus.


"Yakin, kamu gak apa-apa?" ucapnya masih ragu.


"Suer, aku gak papa," sahutku seraya angkat jari telunjuk. Menyakinkan suamiku kalau aku baik-baik saja.


"Oke, kalau begitu kita bobo saja. Besok pagi-pagi kita mau berburu hadiah buat papa dan mama," Dion merebahkan tubuhnya di ranjang. Aku menyusul setelah merapikan peralatan makan.


Seperti yang dikhawatirkan Dion, tengah malalm mendadak sekuruh badanku panas. Aku mengigau saking tingginya demamku.


Dion, kalang kabut tengah malam itu. Dion mencari di geogle dokter mana yang masih buka tengah malam begini. Kebetulan ada satu dokter yang buka.


Bergegas, suamiku membawaku ke sana.

__ADS_1


"Sayang, ayo kita kerumah dokter itu," Dion menggendong tubuhku yang menggigil kedinginan. Sepertinya malariaku kambuh.


Setiap kali aku capek berlebihan, penyakit yang aku derita sejak kecil ini suka kambuh. Namun, entah kali ini. Apa aku sedang tersersbg penyakit lain. Seharusnya aku turuti tadi ucspan suamiku, biar dia tidak kelabakan tengah malam begini.


Sepuluh menit kami tiba di rumah dokter Satrio. Dokter setengah baya itu menyambut kami dengan ramah. Setelah memeriksa suhu demamku, dokter itu menuliskan resep.


"Tidak apa-apa, demamnya hanya karena terlalu lelah. Ini resep untuk ditebus besok saja. Sementara, ini saja obat yang diminum untuk menurunkan demamnya. Ibu, harus banyak istirahat." aku menerima resep yang ditulis dokter itu. Aku mengernyitkan, keningku karena dokter menuliskan salah satu benda yang harus di beli.


"Dokter, apa dokter tidak salalh menulis resep ini?" tanyaku heran.


Dokter Satrio tersenyum. Menatap kami berdua lembut.


"Selamat buat bapak dan ibu. Sepertinya ibu hamil, dan untuk memastikannya ibu beli saja alat itu besok. Dan mencobanya di rumah," ucap beliau.


Aku terlonjak kaget, menatap suamiku Dion, yang juga ekspresinya sama denganku.


"Benarkah dokter, aku hamil?" tanyaku.


"Iya, bu. Ibu harus jaga kesehatan dan ibu pastikan saja besok di rumah."


"Bang," seruku penuh haru. Dion memelukku hangat, sepertinya mata coklatnya berkaca-kaca.


"Besok bapak dan ibu datang lagi untuk periksa. Obat yang saya resepkan itu, ditebus besok."


"Terimakasih dokter," kami menyalami dokter Satrio dan kami pulang.


"Hati-hati sayang, tunggu bentar, ya," Dion bergegas keluar dari mobil. Membukakan pintu tempat kami menginap selama bulan madu ini. Aku merasa heran melihat kelakuannya.


"Mari sayang," Ucap Dion setelah membukakan pintu mobil. Aku keluar perlahan, hawa dingin terasa menerpa tubuhku. Begitu aku keluar, Dion kembali menggedongku ke rumah.


"Bang, aku bisa jalan sendiri," protesku akan sikapnya.


"Tidak, sejak saat ini kamu harus berhati-hati. Karena didalam perut kamu telah terisi buah cinta kita." kecupnya lembut di keningku.


Dengan perlahan, Dion membaringkan aku di tempat tidur. Mengusap puncak kepalaku. Lalu mengusap perutku yang masih rata.


"Makasih ya sayang, telah hadir diperut mama. Sejak sekarang papa akan menjaga kalian berdua," serunya konyol. Namun aku tidak dapat tertawa, malah terharu melihat perlakuan suamiku.

__ADS_1


Kami berpelukan, kuarsakan dada suamiku berguncang. Mungkin dia belum percaya atau merasa sangat bersyukur karena telah hadir janin di perutku. Aku juga tak menduga secepat itu rahimku terisi janin. *****


__ADS_2