
Selesai dengan urusannya di mall. Agina kini berada di bioskop. Berusaha menjadi seperti orang lain dengan cara menonton film. Jika orang lain berlibur, pasti mereka akan melakukan apa yang mereka inginkan. Berbeda dengan Agina, ia melakukan apa yang di lihatnya dari kebiasaan orang lain.
Agina membeli tiket film. Ini jadwalnya menonton film bergenre horor. Begitulah Agina, apapun yang di lakukannya itu menurut jadwal yang sudah di aturnya sendiri. Tidak pernah melakukan sesuatu di luar rencananya. Hidupnya seolah olah di kendalikan oleh dirinya sendiri.
Mengantri untuk membeli popcorn dan minuman cola seperti yang orang lain lakukan. Selesai dengan cemilannya, Agina pergi ke pintu masuk. Menyerahkan tiket filmnya. Di sana tampak karyawan yang bertugas untuk mengambil tiketnya terkejut saat melihat siapa yang datang.
"Ah nyonya Agina, selamat datang." Sambut karyawan wanita itu sambil membungkuk hormat. Beberapa orang yang di belakang Agina langsung terkejut karena mendengar namanya. Mereka langsung tegang layaknya sedang di introgasi. Wajah Agina yang datar, cukup membuat semua orang menelan salivanya.
Agina langsung masuk saja tanpa merasa bersalah sudah membuat seluruh pengghuni ruangan tegang. Memilih tempat duduk di kursi paling depan dan tengah. Entah keajaibannya dari mana, samping kanan dan kiri Agina kosong bahkan satu baris kebelakang juga tidak ada pemiliknya. Padahal Agina sama sekali tidak menyewa kursinya. Tapi Agina tidak peduli. Selama tidak terganggu, ia tidak masalah.
Suasana ruangan tampak mencekam hanya dengan aura dingin yang di keluarkan Agina. Keringat dingin bercucuran bahkan sebelum filmnya horornya dimulai. Rasanya Agina lebih menyeramkan dari film yang akan mereka lihat.
"Sayang lihatlah, kursi di depannya kosong." suara seorang wanita mengalihkan pandangan semua orang yang ada dalam ruangan kecuali Agina yang berdecak kesal karena sudah tau siapa pemilik suara itu.
Merepotkan!. Menghela nafas.
Wanita itu tersenyum malu malu saat menyadari semua mata tertuju ke arah mereka. Tentu saja! Siapa yang tidak mengenal mereka berdua. Agra pratama, pengusaha yang menempati peringkat pertama di Asia. Sedangkan wanita di sampingnya, Olivia Dreandara. Seorang model papan atas yang sedang naik daun. Kedua orang itu menjadi pusat perhatian.
Sepasang kekasih itu menuju kursi depan yang mereka lihat hanya di tempati satu orang. Namun sepasang kekasih terkejut saat melihat Agina. Menghampirinya dan Agra duduk di samping Agina. Sedangkan Olivia ternganga tidak percaya melihat kelakuan kekasihnya. Olivia segera memisahkan keduanya dengan memaksa duduk di tengah tengah. Agina tidak bergerak sama sekali, begitupun dengan Agra yang masih mempertahankan duduknya. Penghuni bioskop memerhatikan mereka. Pada akhirnya Olivia memilih duduk di samping kanan Agra.
"Kenapa kau ingin duduk di samping gadis itu?" gerutu Olivia.
"Aku tidak ingin ada pertengkaran." jawab Agra datar.
"Kau dengar itu gadis pemimpi! Agra duduk di sampingmu agar aku tidak mengajar wajahmu." Olivia tersenyum puas.
Agina hanya melirik sekilas dan kembali menatap layar di depannya. Itu cukup membuat Olivia kesal.
Film pun di putar. Banyak adegan menyeramkan yang membuat penontonnya ketakutan namun tidak berteriak karena tidak ingin di usir.
__ADS_1
Agina hanya menatap datar tanpa ekspresi apapun. Tidak terlihat takut. Bahkan memakan popcornnya santai dan sesekali meminum colanya. Agra juga tidak menonton layar di depannya. Gadis di samping lebih menarik perhatiannya sekarang. Melihat ekspresi datar membuatnya bingung. Di lihatnya semua penonton yang memejamkan matanya, bahkan ada yang ingin berteriak. Seperti Olivia sekarang yang berteriak dangan keras tanpa peduli kekesalan orang lain. Menyembunyikan wajahnya di lengan Agra dan berteriak kembali. Tapi Agra tidak peduli, tontonan di samping kirinya lebih menarik. Padahal Olivia sengaja memilih film horor agar saat berteriak Agra akan memeluknya atau menenangkannya. Tapi seketika itu musnah karena Agra dari tadi hanya melihat Agina. Dan tidak menoleh sedikit pun ke arahnya.
"Aaaaaa," Olivia berteriak lagi. Orang orang yang terkejut pun ikut berteriak. Jadilah ruangan penuh teriakan.
Agra dapat melihat kekesalan di wajah Agina yang merasa terganggu. Tapi ia menikmatinya. Ini seperti hiburan baginya karena dapat melihat satu ekspresi di wajah Agina.
"Diam!" bentak Agina. Semua orang terlonjak kaget dan ruangan langsung menjadi sunyi. Hanya suara film yang mengisi kesunyian.
Agina bangun dari duduknya dan menghampiri Olivia dan berhadapan dengannya. Olivia menegadahkan wajahnya dirinya masih duduk dan Agina berdiri di hadapannya.
"Kau tau ini di mana bukan?" tanya Agina datar. Olivia berdiri menantang. Mereka yang jadi pemeran filmnya sekarang. Semua orang menonton dengan khidmat.
"Tau!" Olivia menggangkat dagunya angkuh.
"Kalau kau tau, kenapa kau teriak teriak! Ini bukan hutan yang bisa kau menjerit sesuka hatimu!"
"Kalau itu terserah mulutmu, berarti aku juga bisa mematahkan tulangmu karena itu terserah tanganku." Ancam Agina menatap tajam. Semua menelan salivanya. Agra yang merasa suasana semakin mencekam ikut berdiri dan menggenggam tangan Olivia.
"Maaf atas kelakuan kekasihku." ucap Agra. Olivia tersenyum melihat Agra membelanya.
"Anda meminta maaf kepada siapa?" tanya Agina menyilangkan tangannya di dada.
"Kepadamu."
"Bukan hanya kepada saya, tapi semua orang yang ada di sini."
"Baik, aku minta maaf atas kelakuan kekasihku."
Agina tersenyum sinis. Ia menatap ke arah Olivia yang menyeringai. "Kau beruntung memiliki kekasih yang mau meminta maaf untukmu."
__ADS_1
"Tentu saja, karena kekasihku sangat mencintaiku." Olivia memeluk Agra.
"Cinta." Lirih Agina.
Tolong maafkan kesalahannya! Aku tidak akan membiarkannya melakukannya lagi, karena aku mencintainya!. Sekelabat ingatan muncul di kepalanya. Agina memejamkan matanya dan sebelah tangannya memegang kepalanya.
"Kau kenapa?" tanya Agra panik. Orang orang ikutan panik kecuali Olivia. Agra ingin membopong tubuh Agina, namun langsung di tahan oleh Olivia.
"Biarkan saja!" ketus Olivia. Agra menatap tajam kekasihnya. Seketika Olivia menciut.
Agina menghela nafas. Ingatan masa lalunya kembali berputar di pikirannya. Dengan wajah datarnya dan mata tajamnya menatap semua orang.
Agina menghela nafas. Menatap semua orang dengan mata tajamnya. "Filmnya sudah selesai. Tapi aku yakin, kalian mendapat tontonan lebih menarik dari pada filmnya." Tatapannya beralih kepada wanita yang membuat semua ini terjadi. "Dan anda seorang pengecut. Mengandalkan orang lain untuk meminta maaf atas apa yang anda lakukan. Tidak bertanggung jawab."
"Dan maaf atas ketidaknyamanan kalian." Melangkah pergi tanpa peduli dengan tatapan mencurigakan dari Agra.
Kenapa aku merasa semua orang menghormatimu? Mereka bahkan langsung diam saat kau menyuruh mereka. Aku penasaran terhadapmu Agina." Agra.
"Sayang." panggil Olivia pada kekasihnya yang melamun sambil melihat langkah kaki Agina yang sudah keluar.
"Olivia, Agina sepertinya bukan orang sembarangan. Jadi jangan pernah mencoba mencari masalah dengannya." ucap Agra memperingatkannya. Olivia menggangguk dan mengangkat sebelah sudut bibir kanannya. Membentuk senyuman miring.
......................
Kalau suka jangan lupa like ya karena itu sangat berharga buatku.
TERIMA KASIH SUDAH BACA.
(^_^)☆(¤_¤)
__ADS_1