
Tere akhirnya masuk ke dalam kamarnya. Dia tutup pintu kamar hotel dan duduk sambil melipat kedua kakinya. Bersandar pada pintu kamar hotel, dia menangis sejadi jadinya. Tangis pilu yang penuh dengan penyesalan marah dan juga kebencian. Dia marah dan benci pada dirinya sendiri. Dia menyesal pernah menduakan laki-laki sebaik Sakti.
Sakti sedang merebahkan tubuhnya di ranjang hotel. Tangisan Tere tadi mengganggu pikiran Sakti. Dia tidak menyangka bahwa Tere masih mencintai nya. Tapi Sakti tidak akan goyah karena hatinya sudah terisi Lisa. Akhirnya Sakti memutuskan untuk menghubungi Lisa.
Setelah beberapa menit akhirnya Lisa mengangkat panggilan tersebut
"Sayang apa kau sudah tidur?"
"Kalau telepon salam dulu."
"Assalamualaikum sayangku?"
"Wa alaikum salam."
"Kau belum tidur?" tanya Sakti.
"Sudah Mas." Jawab Lisa dengan nada ketus.
Sakti hanya tertawa mendapatkan jawaban ketus dari Lisa.
Tiba-tiba Lisa mematikan panggilan telepon secara sepihak.
" Sudah tahu belum tidur masih nanya." Keluhnya.
Di hari hari berikutnya Sakti tidak bertemu dengan Tere lagi, dan itu membuat Sakti sedikit lega. memang hari ini Tere sudah meninggalkan hotel tersebut.
Setelah beberapa hari menyelesaikan urusan pekerjaan di kota Surabaya. Sakti dan Rahman akhirnya pulang ke rumah.
__ADS_1
"Kau mau kemana Sakti?" Tanya Mala yang melihat anaknya terlihat buru-buru keluar.
"Menemui Lisa Ma." Jawab Sakti sambil berlalu meninggalkan Mala dan Rahman.
"Dia sudah rindu dengan calon istrinya Ma." Saut Rahman.
"Bukankah beberapa hari lagi mereka akan menikah. Dasar anak muda jaman sekarang." Mala geleng-geleng kepala.
"Itu anakmu Ma."
"Ha..anak mu juga itu Pa." Akhirnya Mala dan Rahman tertawa bersama.
***
Mobil Sakti berhenti di depan restoran orang tua Lisa. Dia tidak sabar untuk bertemu pujaan hatinya. Seolah dia tidak merasakan lelah di tubuhnya. Padahal baru saja dia tiba di rumah hanya ganti pakaian dan langsung menemui Lisa.
"Halo Om?" Sapa Sakti kepada Yoga sambil mencium punggung tangan Yoga.
"Kau baru datang?"
"Iya Om, aku kesini untuk mengajak Lisa jalan-jalan sebentar."
"Baiklah kalau begitu Om pulang duluan." Yoga pergi meninggalkan Lisa dan Sakti
Kini tinggal berdua Sakti dan Lisa. Seperti biasa Lisa selalu ketus kepada Sakti.
"Mas kenapa datang kesini? Aku kan bisa pulang dengan Ayah. Apa tidak capek dari luar kota langsung ke tempatku?" tanya Lisa yang memandang Sakti dengan pandangan sinis.
__ADS_1
"Ayo kita pergi?" Sakti tidak menjawab pertanyaan Lisa, ia langsung berjalan menuju mobilnya sambil menggandeng tangan Lisa.
"Di tanya bukannya menjawab malah maksa anak orang diajak pergi." Lisa tidak berhenti menggerutu walau sudah di dalam mobil.
Sakti mengacak acak rambut Lisa karena gemas. "Tentu saja Mas kesini karena memenuhi panggilan mu."
"Eh.. tidak, siapa yang nyuruh Mas datang kesini?" Lisa merasa heran atas jawaban Sakti. Seingatnya ia tidak pernah kirim pesan atau telepon Sakti untuk datang.
"Bukankah waktu itu kau menanyakan kapan aku pulang? Tentu saja begitu sampai aku langsung menemui mu. Aku takut rindu mu nanti meledak."
"His.. kau ini terlalu percaya diri Mas."
Sakti menghadap Lisa, Ia urung kan untuk menjalankan mobilnya.
"Tidak perlu alasan apapun untuk aku menemui cintaku." Ucap Sakti serius sambil memandang Lisa dengan penuh cinta.
Lisa diam tidak menjawab perkataan Sakti. Ia buru-buru membuang muka ke arah jendela.Ya, seperti nya perempuan ini sedang malu.
"Mas!" panggil Lisa dengan suara pelan yang nyaris tak terdengar.
"Apa sayang?"
"Aku belum bisa mencintaimu." Ucap Lisa sambil menundukkan wajahnya.
"Aku tahu, cukup Mas yang mencintaimu Lisa."
Catatan author : Hai readers... makasih udah mau sempatkan diri untuk membaca novelku. Kalau kalian suka jangan lupa like dah komen ya..
__ADS_1