Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Aksi


__ADS_3

Hanya beberapa orang saja yang memegang pisau dan itu hanya warga desa Asri sedangkan lainnya memegang pistol yang tersodorkan ke arah mereka. Lebih tepat nya ke arah Agra.


Reflek Agra mengangkat ke atas. Agina yang melihat nya hanya menggelengkan kepala nya.


"Kenapa kau malah mengangkat tanganmu?"


"Oh iya ya!" Agra menurunkan tangan nya dan menatap tajam orang di sekeliling nya.


Agina menghela nafas. Kenapa kau selalu bodoh saat aku sedang pintar. Sepertinya aku memang harus jauh jauh darimu agar kau selalu pintar!.


Agra terkesiap saat Agina menarik nya ke belakang tubuh gadis itu. Agina menjadikan tubuh nya sebagai tameng walau itu sia sia karena mereka terkepung dari segala arah.


Sial! Pasti mereka bersembunyi di hutan ini tadi.


Agina mengambil senapan yang ada di saku celana jins nya. Agra membelalakkan mata nya apalagi saatAgina mengarahkan nya ke bawah dan menembakkannya. Ternyata itu adalah peluru gas yang bisa membuat penglihatan jadi tidak terlihat akibat kumpulan asap yang di keluarkan.


Agina segera menarik tangan Agra menjauh. Orang orang tadi menembak kesembarangan arah tanpa tau bahwa itu mengenai rekan nya sendiri. Untung saja Agina memiliki pendengaran yang sensitif sehingga peluru yang terarahkan ke arah mereka bisa di hindari dengan mendengar suara angin yang keluar akibat tembakan.


Mereka menuju mobil Agra dengan berlari menyebabkan nafas mereka terengah engah. Agina mengulurkan tangan nya.


"Berikan kunci mobil mu!" Agina menatap tajam Agra.


"Biar aku saja yang membawa nya."


"Jangan membuang buang waktu. Cepat berikan kunci nya!"


"Kau perempuan, biar aku saja!"


"Tuan Agra yang terhormat. Kita sedang dalam bahaya, jadi lebih baik anda menyerahkan kunci nya."


"Aku tau kita sedang dalam bahaya, maka biarkan aku saja. Karena aku seorang laki laki." Agra mendorong Agina untuk menggeser ingin membuka pintu mobil.


"Biarkan saya menjalankan tugas saya tuan." Agina berkata tegas sembari menatap tajam. Agra yang melihat nya mau tidak mau menyerahkan kunci nya.


Agina mengambil nya. "Duduklah di belakang." Masuk ke dalam mobil. Agra yang tau situasi menuruti nya saja. Tidak lupa memasang saltbelt.


Saat menghidupkan mesin nya Agina mendengar suara motor yang mendekat. Langsung saja Agina menancapkan gas di iringi teriak Agra yang terkejut.


Sesuai dugaan Agina, motor itu mengejar mereka. Agina melihat ke arah kaca spion. Di hitung nya motor yang mengejar mereka ternyata ada enam. Dengan penuh kemarahan Agina menambah kecepatan laju nya tanpa memikirkan Agra yang ketakutan di jok belakang.


"Kurangi kecepatan nya!" teriak Agra. Tangan nya mencengkram kursi dengan kuat.


"Ini belum seberapa." jawab nya santai.

__ADS_1


Apanya belum seberapa, segini saja kau sudah membuatku jantungan!. Batin Agra.


Belum sempat Agra mengumpati Agina lebih lanjut. Agra di buat menjerit karena Agina semakin menambah kecepatan nya saat sudah berada di jalan raya.


Agina membawa mobil layak nya orang kesetanan tanpa memikirkan tuan nya yang selalu berteriak.


Motor di belakang mereka juga semakin menambah kecepatan saat Agina melakukan hal yang sama. Dan terjadilah aksi balap balapan sehingga menyebabkan kendaraan lain dalam bahaya.


Masing masing dari motor itu di naiki oleh dua orang. Orang yang duduk di belakang menyodorkan pistol ke arah mobil dan menembak nya.


Sebisa mungkin Agina menghindari nya membelok ke sembarangan arah. Akibat nya kepala Agra serasa di putar putar.


"Menunduk!" suruh Agina. Satu tembakan mengenai kaca belakang mobil. Untung saja Agra terhuyung ke depan tadi.


"Sial!" umpat Agra.


"Aku harus menambah kecepatan." Langsung menancap lebih dalam lagi. Agra ngos ngosan dengan mata yang keluar dari tempat nya. Sungguh rasa nya Agra seperti sedang menonton film action dan masalah nya ini kenyataan dan ia juga termasuk pemeran korban di sini.


Agra mencoba menetralkan detak jantung nya. Namun,


Prang


Kaca spion pecah akibat tembakan. Dan,


Agra di buat berteriak oleh Agina karena membelok tajam ke kanan secara tiba tiba dan hampir saja terjadi tabrakan. Tapi pengendara tadi tertinggal empat motor saja di karenakan dua dari mereka terlempar kedepan karena tidak tau Agina akan berbelok.


Sekarang bukan hanya motor tadi saja yang mengejar mereka tapi mobil polisi akibat Agina membawa mobil Agra dengan kecepatan penuh. Tapi itu hanya sebentar karena mobil polisi tidak mungkin bisa mengejar mobil sport milik Agra. Motor yang mereka juga tertinggal satu akibat kecepatan yang tidak sebanding.


Kecepatan motorku sama dengan mobil Agra. Jadi pasti mudah bagi mereka untuk mengejar nya.


Motor yang di kendarai orang yang mengejar mereka adalah milik Agina. Motor Agina yang mempunyai kecepatan seperti motor balap tentu dengan sangat mudah menandingi kecepatan mobil Agra. Agina tidak sengaja menjatuhkan kunci nya saat berlari tadi.


Tapi kecemasan itu hanya sesaat karena Agina sudah menunjukkan senyuman miring nya saat teringat sesuatu. Melirik ke arah kaca spion yang tidak terlihat motor itu lagi.


Untung saja aku tidak mengisi bensin tambahan.


Agina mengurangi kecepatan nya karena sudah merasa aman. Mobil melaju ke arah mesion utama Agra. Pagar secara otomatis terbuka karena ban mobil Agra adalah sandi nya.


Agina memarkirkan nya di halaman mesion Agra. Di lirik nya Agra yang sedang mengatur nafas nya.


"Seharusnya kau membawaku ke rumah sakit saja tadi." Agra memegang kepala nya yang terasa berputar putar. "Rasa nya jantungku ingin keluar dari tempat nya."


"Maaf membuat anda tidak nyaman." Ucap Agina seraya keluar dari mobil. Di lihat ponsel nya dan banyak sekali notifikasi panggilan tidak terjawab. Suara dering menandakan panggilan masuk dan Agina mengangkat nya.

__ADS_1


"Apa kau baik baik saja?" Seketika amarah di hati Agina padam karena suara khawatir di seberang sana.


"Aku dan tuan Agra baik baik saja!" Melirik tuan nya di balik yang terkapar di jok belakang.


"Aku tidak peduli dengan keselamatan nya." ketus.


"Ayolah Stif, jangan memulai nya lagi." Helaan nafas yang terdengar.


"Maaf, aku tidak tau akan seperti ini."


"Ini bukan kesalahanmu. Aku yang menyuruhmu mengurangi pengawal nya."


"Lalu, apa kau akan mendatangi orang itu setelah ini?"


"Aku harus memutuskan ikatan anak nya dengan Agra terlebih dahulu."


"Caranya?"


"Aku akan pergi ke club."


"Untuk apa?" suara di belakang mengejutkan Agina. Agina berbalik melihat Agra yang menyilangkan tangan nya. Agina memutuskan sambungan telepon.


"Ada urusan yang harus aku selesaikan di sana." Dilihat nya wajah Agra yang pucat.


"Untuk apa?" Entah sejak kapan Agra penasaran terhadap kehidupan Agina.


"Itu urusan pribadi, jadi saya tidak memberi tau nya," Menatap tajam Agra sebagai tanda tidak ingin di tanyakan lebih lanjut. "Bagaimana kondisi anda?"


"Aku merasa mual."


"Istirahatlah! Aku dan Ezwar yang akan mengurusi urusan kantor." Melangkahkan kaki nya namun Agra mencekal tangan nya.


"Siapa kau sebenarnya?"


"Anda tidak perlu tau. Tapi yang pasti, aku adalah orang yang akan selalu melindungi anda." Menghentak tangan nya agar terlepas. Agra memandangi punggung Agina dengan seribu pertanyaan di kepala nya.


......................


JANGAN LUPA LIKE


DAN KOMEN.


TERIMA KASIH SUDAH BACA.

__ADS_1


__ADS_2