Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Bab 57


__ADS_3

"Masa lalu terkadang datang kembali secara tak terduga. Jika dia luka, masihkah ada kesempatan menebusnya. Adakah kesempatan kedua, berbenah diri."


"Apa khabar Nina?" tanyaku dengan bahasa tubuh yang begitu jelas terbaca. Bahwa aku senang sekali dengan pertemuan itu. Kuulurkan tanganku untuk menyalaminya. Nina menyambut uluran tanganku.


"Baik-baik, bagaimana dengan kamu," Nina balik bertanya.


"Seperti inilah, boleh dibilang hidupku, kacau," ucapku jujur memancing perhatiannya.


"Kacau bagaimana, nanti kamu kuwalat berdoa yang gak-gak," serunya. Seperti dugaanku Nina sangat mudah terpancing, karena sifatnya memang suka perhatian ke orang lain.


Dan sifatnya inilah kadang membuat aku salah paham akan dirinya. Dari awal hubungan pertemanan kami karena Nina suka mendengar keluh kesahku.


"Sudah terlajur kacau, memang." Aku buru-buru membayar kemeja yang kubeli. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan berbincang dengannya setelah lama tak bertemu.


"Kamu sendirian, ya? Gimana kalau kita mampir ke sana," tunjukku pada sebuah kafe.


"Kebetulan aku tidak buru-buru, dan sedang dahaganya." kekehnya santai.


"Oke, sesekali waktunya aku curi dulu," aku berusaha mengimbangi sikap Nina, yang santai. Hanya beberapa langkah kami sudah sampai. Aku langsung memanggil pelayan, untuk meladeni pesanan kami.


"Nina, maafin aku yah, untuk cerita masa lalu kita," ucapku to the point. Karena aku memang berhutang maaf padanya. Karena Nina menghilang sejak kejadian waktu itu.


"Aku sudah memaafkan kamu kok, By. Makanya tadi aku mau menegurmu. Aku juga terlalu lebay waktu itu. Tidak memberi kesempatan padamu menjelaskan apa sebenarnya yang telah terjadi malam itu." tukasnya seraya menyeruput jus jeruk pesanannya.


"Tapi, kenapa kamu menghilang sampai aku kehilangan kontak kamu," cecarku. Seketika wajah itu berubah sendu, aku jadi heran melihat perubahan sikapnya.

__ADS_1


"Aku menghilang, bukan karena marah sama kamu. Tapi, aku dipaksa pulang untuk menikah dengan pilihan orang tuaku," ucapnya sendu.


Tulang-tulangku serasa dilolosi semuanya saat mendengar ucapannya Nina. Meski aku sudah menduga dia pasti telah menikah, tapi saat tahu kenyataannya ternyata memupus harapanku juga.


Apalagi kami sudahh terpisah tanpa kabar sama sekali, sudah sekian tahun.


"Bagaimana dengan kamu, Frita pasti sudah kamu ajak kepelaminan 'kan? Dah, berapa jagoanmu," cecarnya penuh semangat. Semakin membuatku serasa dihempaskan. Saat Nina menyebut nama Frita. Perempuan yang menjebakku malam itu di pesta ultah seorang teman sekampus.


"Pernikahan apa, aku sudah tak terhubung dengannya sejak malam itu," ucapku. Yah, Frita telah mengaku bahwa dia sengaja melakukan hal itu, untuk merusak hubunganku dengan, Nina. Pengakuannya sungguh mengagetkanku. Katanya dia lakukan itu karena sangat mencintaiku, hadeuh! Malam itu aku sangat murka, dan Frita juga menghilang sejak malam itu.


"Jadi, kamu tidak tidak pernah menikah dengan Frita?" beliaknya kaget.


"Sampai sekarang aku masih belum menikah, juga, pasti karena karma aku telah menyakitimu." ucapku, menatap Nina sendu.


"Bukan karena karma. Kamunya saja yang pemilih," sahut Nina acuh seraya menyeruput jus jeruknya.


"Gimana ada yang mau, kamu saja sibuk tak tentu arah. Sudah tau bujang lapuk, pikiran masih kayak ABG." ucap Nina sinis.


"Eh, kamu memata-matai aku ya?" seruku agak kaget mendengar ulasan Nina.


"Hem, kamu ini memang pintar, berpura-pura. Siapa sih yang tidak kenal kamu. Pewaris tunggal pengusaha sukses, "Na Mora". Masih berkelit juga ngaku bujang lapuk." cebik Nina .


"Berarti kamu telah ketinggalan berita, besti. Aku hanya anak adopsi. Aku punya kakak kandung, yang telah hilang 30 tahun lalu."


"Oh, ya? Kok gak viral, beritanya?"

__ADS_1


"Karena kakakku tidak ingin khabar itu di publish, dan jadi santapan media sosial."


"Kamu merasa terancam, ya? Dengan kehadiran kakakmu?"


"Jujur, awalnya iya. Tapi, setelah melihat dan bertemu kak Reny. Sepertinya dia bukan orang yang akan menggeser posisiku. Nyatanya, dia baik dan lembut. Aku saja yang merasa menyesal telah menyia-nyiakan hidupku selama ini. Bisa di bilang aku anak ya g tidak tau diri. Selalu menyusahkan mereka dan tidak memikirkan masa depanku. Tapi dibalik semua sikapku, aku hanya ingin melindungi mereka," ulasku mengalir begitu saja.


Entah kenapa aku bisa curhat pada Nina dan bisa serileks ini berhadapan dengannya. Mungkin karena sikapnya juga yang santai. Jadi komunikasi diantara kami bisa mengalir begitu saja.


"Masih banyak waktu untuk berbenah diri, jangan sia-siakan kesempatan yang ada ditanganmu. Seharusnya kamu bekerja keras jika ingin melindungi mereka, bukan menghancurkan diri sendiri seperti ini. Sehingga orang tua kamu malah salah paham." ucap Nina menasehatiku setelah aku cerita tentang masa laluku dan siapa orang tuaku yang sebenarnya.


"Aku sangat marah dengan mereka, tidak bisa menerima apa yang telah mereka lakukan padaku. Rasanya sangat menyakitkan."


"Kamu harus bertahan, dan mengubah pandanganmu itu. Sejak sekarang, kamu harus mengubah tabiat jelekmu itu. Ada baiknya, kamu cerita saja sama orang tua angkatmu, kalau kamu telah mengetahui siapa orang tua kandungmu, By. Aku yakin, orang tua kamu akan bijak menangani masalah ini."


"Makasih ya, Nina, kamu masih sudi mendengar curahanku, dan memberi nasehat padaku. Andai bisa memutar ulang waktu yang lalu, kuingin mengubah apa yang terjadi pada kita."


"Jangan menyesali masa lalu, By. Semua itu memang sudah digariskan untuk kita lewati. Menataplah ke depan, kamu akan temukan banyak hal yang lebih berharga dari pada sekedar meratapi yang telah berlalu."


"Ah, kamu masih bijak seperti dulu, Nina. Aku jadi malu berhadpan dengan kamu."


"Seseorang menjadi bijak, karena dia telah melewati banyak ujian dalam hidupnya. Hal itu bisa berlaku pada siapa pun. Jadi, kamu juga harus bisa seperti itu. Mampu memilah setiap masalah, dan menakarnya sesuai porsi masing- masing. Percayalah, Arby, kebaikan itu akan datang, bila kita juga membuka hati kita untuk berbuat hal yang baik juga. Aku tidak bermaksud mengguruimu, tapi aku lakulan ini karena kita dulu adalah sahabat. Oh, ya waktuku sudah habis nih, lain kali kita ngobrol lagi. Makasih ya, traktirannya." ucapnya ringan sementara aku belum bisa mencerna ucapannya barusan.


Banyak hal yang hendak aku pertanyakan lagi padanya. Terutama tentang hidupnya. Tapi aku telah begitu egois, pertemuan kami hanya membahas soal hidupku. Semua terjadi begitu saja, mengalir seperti air.


Aku menatap punggung Nina, yang menghilang di kejauhan. Niatku untuk mengantarnya pulang, dia tolak halus. Padahal aku ingin gunakan kesempatan itu untuk mendengar cerita tentang dirinya.

__ADS_1


"Jika masih ada kesempatan, kita pasti akan bertemu lagi, By. Untuk saat sekarang cukup sampai di sini kita bertemu," ucapnya penuh misteri sebelum beranjak dari kursi. Aku tercenung dengan semua ucapannya, dan berharap untuk bisa lagi bertemu dengannya.***


"


__ADS_2