
Arby, pulang!
Seperti yang sudah ia janjikan sebelumnya akan pulang setelah beberapa bulan di Papua dalam satu misi kemanusian. Arby adik angkatku, pulang kerumah. Dia mau memenuhi keinginan papa untuk mengurus salah satu anak perusahaan papa yang di Jakarta.
Padahal, Papa berharap Arby mau mengurus induk perusahaan yang di Medan. Biar Papa tidak terlalu kewalahan. Namun Arby, menolak waktu itu. Entah kenapa, saat kepulangannya Arby berubah pikiran lagi. Dia ingin menuruti keinginan papa. Ada yang aneh, menurutku. Mengapa tiba- tiba Arby berubah pikiran?
"Jadi kamu serius dengan ucapan kamu. Mau bantu papa mengurus perusahaan di sini?" tanya
Papa ke Arby. Saat kami kumpul dan berbincang di ruang keluarga.
"Iya, Pa. Arby masih ingin bimbingan Papa. Kalau Arby langsung ke Jakarta, Arby takut malah kelimpungan nantinya." Sebuah alasan yang masuk akal.
"Kalau masalah bimbingan, toh akan ada yang mendampingimu di sana." jelas Papa.
"Iya, juga sih Pa. Tapi Arby ingin pelajaran langsung dari pakarnya," canda Arby, membuat papa tersenyum sumringah.
"Boleh, boleh. Asal.kamu siap saja mendapat gemblengan dari, Papa."
"Arby, siap, Pa." jawab Arby antusias.
Entah kenapa, firasatku berbicara lain. Naluriku berkata ada yang disembunyikan oleh Arby, tapi aku tetap berharap semoga tak akan terjadi sesuatu.
Aku masih mencoba berpikir positif, siapa tau memang Arby sudah sadar dan kini hendak meniti masa depannya. Diusianya yang sudah cukup matang sudah selayaknya Arby memikirkan masa depannya. Malah sudah terbilang telat, mengingat sikap santainya selama ini.
"By, baguslah kamu berubah. Sudah memikirkan masa depanmu. Selama ini mama selalu berharap akan kebahagiannmu."
"Maksud mama, biar Arby menikah, begitukah?" sela papa.
"Iya, sudah seharusnya 'kan, mengingat usianya udah mau masuk tiga puluhan," ucap mama mengingatkan. Arby tergelak mendengar ucapan mama.
"Mama udah kebelet menggendong cucu, ya. Tuh, 'kan udah ada Devan sama Mitha." elaknya saat disuruh menikah.
__ADS_1
"Ya, bedalah. Itukan cucu mama dari anak perempuan mama. Mama maunya cucu dari anak laki juga. Trus, Devan dan Mitha gak sempat mama timang."
"Mama suruh aja kak Reny menikah lagi, biar bisa menimang cucu lagi," selorohnya.
"Mama 'kan pengen cucu dari kamu, kok mengalihkan ke kakak sih," elakku juga menanggapi gurauan Arby.
"Kamu ini banyak alasan, memangnya kamu tidak ada rencana mau menikah? Ingat, umur kamu bertambah terus," timpal papa serius pula mendukung ide mama.
"Ya, iya, Arby bakalan nikah juga nanti. Tapi tunggu aku sukses dulu ah, mau makan apa nantinya anak bini gua kalo cuma ngarep belas kasihan, papa dan mama," ungkapnya realistis.
"Papa dan Mama masih sanggup ngasih makan anak cucu papa dan mama. Kalau kamu setuju, biar Mama carikan jodohmu, gimana," ucap mama ngasih saran.
"Biar Arby yang carikan, Ma. Mama dan Papa cukup berdoa saja biar jodoh Arby, cepat ketemu," ucap Arby menolak ide Mama.
"Ya, udah. Kalau gak mau mama bantu carikan, tapi mama kasih ultimatum tahun depan kamu itu harus menikah," ancam mama serius.
Arby, menggaruk kepalanya yang ketombean kali, saat mendengar ucapan mama. Sepertinya dia mati kutu mendengar ancaman mama. Dilihat dari umurnya, Arby memang udah pantas menikah, tapi gak gitu kali juga mama memaksanya. Sampai ngancam segala. Namun kalau gak diancam dia malah tenang-tenang saja, serba salah jadinya.
"Eh, mana bisa begitu. Kakak mana tau seperti apa selera kamu," tolakku spontan. Menjadi mak comblang itu'kan gampang-gampang susah. Apalagi zaman sekarang orang pada kebanyakan matre, dan lebih sering memandang fisik. Kita tidak tau dia itu tulus atau cuma modus.
"Apa salahnya sih, kamu turut bantu adikmu, carikan jodohnya. Siapa tau ada yang cocok. Keputusannya ada ditangan adikmu, toh." ucap mama setuju ide Arby.
"Iya, deh Ma. Nanti Reny akan liat-liat kali aja ada yang cocok," akhirnya aku mengiyakan saja.
"Nah, gitu dong kak, akan aku hargai nanti pilihan kakak."
"Jangan terlalu berharap, ya. Mending kamu cari sendiri, pas dengan selera dan pilihanmu," ujarku.
"Iya, dong. Keputusannya ada di tanganku, tapi gak salah kalau kakak turut campur memilihkan," serunya ngotot. Ini anak kok maksa banget. Perasaan seperti aku aja yang cari jodoh. Aaah, di okekan ajalah, siapa tau nanti Dion bisa bantu nyariin juga.
"Oke, kakak akan bantu, tapi gak janji ya," ucapku juga akhirnya sambil bercanda. Tujuanku biar Arby tidak terlalu berharap padaku.
__ADS_1
*****
Siang ini, aku bermaksud ke kantor papa, sekalian bertandang juga nanti ke ruangan Arby. Kantorku hanya berjarak 1000 meter dari kantor papa. Dengan santai aku menyetir avanzaku. Ketika aku keluar arena parkir, aku melihat bibi Elis jalan tergopoh memasuki area kantor. Matanya nanar memandang sekitar seolah takut ada yang memergokinya.
Untuk apa Bibi Elis datang ke kantor papa. Mengingat hubungan mereka yang makin memanas sejak terbongkarnya rahasia beliau, yang mengakui Arby adalah anak kandungnya. Bibi Elis tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya setelah memeras Arby, dan berujung dengan perginya Arby ke Papua.
Lantas, Bi Elis mau menjumpai siapa? Sedemikian tak tahu malunyakah bibi hingga berani muncul di kantor.
Rasa ingin tahuku yang begitu dalam, aku akhirnya memutuskan mengikuti langkah bibi Elis. Instingku menuntunku ke ruangan Arby. Pasti bibi Elis ke sana. Mungkin saja dia ingin bertemu Arby, karena beberapa bulan ini Arby pergi.
Dugaanku benar, saat aku melihat bibi Elis telah berada ruangan Arby. Mereka berbincang agak serius. Aku berdiri di balik pintu, hendak mendengarkan percakapan mereka. Untungnya pintu tidak terkunci rapat. Jadi aku masih leluasa mendengar percakapan itu.
"Bagaimana, apa ommu tidak mencurigaimu sama sekali." tanya bibi Elis setengah berbisik.
"Tidak, ma. Mama tenang ajalah. Semua aman terkendali." sahut Arby menenangkan bibi Elis. Aku mengernyitkan keningku karena heran. Percakapan itu cukup akrab, tidak seperti sikap Arby sebelumnya yang membenci bibi Elis ibu kandungnya sendiri.
"Jadi si Handoko itu, juga tidak curiga kalau kamu bukan Arby yang asli?"
Deg! Serasa disambar petir di siang bolong aku terkejut mendengar pernyataan itu. Kalau dia bukan Arby, lantas dia siapa?
"Bagus, pamanmu memang tidak tau kalau Arby punya saudara kembar. Mama sengaja memisahkan kalian karena mama tidak sanggup mengasuh kalian berdua. Kamu harus pandai memikat hati pamanmu itu. Jangan sampai mereka curiga."
"Justru Mamalah yang harus lebih hati-hati, tak seharusnya mama datang menemuiku kemari. Gimana kalau mama bertemu dengan om Handoko atau Reny. " dengus Arby agak kesal atas kecerobohan ibunya.
"Kamu tenang ajalah Luke, mama tidak sebodoh itu. Mama sudah memastikan kalau semuanya aman. Pastikan saja kamu bisa mengambil hati pamanmu. Setelah itu, baru kamu singkirkan Reny. Reny adalah pewaris syah dari dari semua kekayaan pamanmu. Mama tidak ingin semua rencana itu terbongkar. Juga keberadaan Arby yang sesungguhnya."
Astaga, terbuat dari mana hati Bibi Elis sedemikian teganya hendak menghancurkan hidup saudaranya sendiri. Betapa serakahnya bibi Elis hendak menguasai yang bukan hak miliknya, sampai mengumpankan anaknya sendiri.
Kakiku gemetaran saat mendengar rencana jahat bibi Elis. Apa yang harus aku lakukan, ternyata di rumahku telah dimasuki seorang serigala berwujud manusia. Yang siap mengahancurkan kehidupan kami. Apakah papa dan mama akan percaya padaku jika aku menceritakan apa yang barusan aku dengar itu.
Sebenarnya aku masih ingin lebih lama lagi mendengar pembicaraan mereka. Tapi ponselku tiba-tiba berbunyi. *****
__ADS_1