Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
40. I'am Alone.


__ADS_3

Setelah sekian detik, Sakti melepas ciuman nya. Tanpa sepatah kata pun Lisa langsung pergi meninggalkan Sakti, ia berjalan cepat menuju kamar mandi.


Sakti membuang napas kasar. Lagi lagi Lisa menghindari dirinya. "Semangat Sakti sabar mu unlimited." Sambil mengepalkan tangan kanan nya ke udara. Ia menyemangati dirinya sendiri. Aneh memang, sudah sah tapi istrinya tidak mau di sentuh. Bukan soal bercinta yang Sakti pikirkan, tapi hanya sekedar ciuman dan pelukan saja Lisa selalu menghindar. Sakti segera bangun dari tempat tidur. Ia mengambil ponsel yang terletak di nakas samping tempat tidur dan segera memesan makanan lewat aplikasi warna hijau yang ada di ponselnya.


Lisa terdiam sambil memegang bibirnya yang di cium oleh suaminya. Ada rasa ingin marah dan benci tapi bukankah halal untuk Sakti melakukan ini. Lisa berpikir Sakti hanya menginginkan sentuhan fisik dengan nya untuk menyalurkan hasrat saja. Tapi kenyataannya, Sakti begitu mencintai dirinya. Dan Lisa tidak tahu akan hal itu. Hati yang belum bisa mencintai sepenuh hati kepada pasangan hidupnya selalu ada keraguan dan ketakutan seperti apa yang di alami Lisa.


"Kemana Mas Sakti?" Lisa mengedarkan seluruh pandangannya ke penjuru kamar. Ia tidak melihat suaminya. Lisa segera turun ke bawah untuk mencari suaminya.


"Ternyata kau disini Mas?" Lisa langsung mendudukkan dirinya di samping suaminya. Sakti sedang menonton tv di ruang keluarga.


"Iya sayang, kau lapar? tunggu sebentar Mas sudah pesan makanan, mungkin sebentar lagi datang."


"Iya makasih." Lisa mengakui kalau Sakti adalah pria yang sabar dan begitu pengertian. Tapi kenapa hatinya belum bisa tergerak sedikitpun. Hatinya di penuhi dengan rasa bersalah, suami yang baik dan penyayang di depan mata. Tapi hati nya masih terpaut dengan pria lain.


Setelah pesanan Sakti datang mereka makan dengan diam. Tidak ada yang bersuara hanya bunyi sendok yang yang menggema di ruangan.


Setelah selesai makan Sakti segera mengajak Lisa untuk pulang ke rumah Yoga. "Aku pikir kita akan menginap disini Mas?" Lisa bertanya sesaat setelah mereka duduk di dalam mobil.


"Kau ingin menginap disini?" Bukannya menjawab pertanyaan Lisa, Sakti malah bertanya balik.


"Bukan begitu, aku pikir ini kan sudah malam Mas. Lagi pula semua juga sudah tersedia disini Mas."


"Mungkin satu minggu lagi kita akan pindah sayang, Mas sangat sibuk nanti. Jadi aku khawatir kalau kau sendirian di rumah. Aku sudah minta tolong Mama untuk mencarikan orang untuk membantumu mengurus rumah, tapi belum dapat sampai sekarang. Mas tidak mau kau di rumah sendirian kalau Mas ke luar kota ataupun ke luar negeri.


Tangan kiri Sakti menggenggam erat tangan Lisa. "Sayang Mas tahu kau belum bisa menerima pernikahan ini. Tapi percayalah Mas tulus kepadamu. Dan pernikahan ini bukan mainan untuk ku, jadi belajarlah menerima ku."


Sakti mengecup lembut tangan Lisa ada cairan yang menggenang di kedua sudut nya.

__ADS_1


Lisa hanya menangis ia tidak menjawab suaminya. Ia benci situasi saat ini, Sakti memaksa dirinya. Bukankah sejak awal tahu kalau dirinya tidak mencintai Sakti. Bukankah kalau seperti ini terus mereka hanya akan saling menyakiti. Ia langsung menarik tangannya dari genggaman Sakti. Ia arahkan pandangannya ke luar jendela supaya Sakti tidak melihat air matanya.


***


Malam ini Bagas bersiap untuk pergi ke cafe menemui Lala dan Adam. Setidaknya ia masih punya teman untuk berbagi cerita.


Lala sedikit berlari saat masuk ke dalam cafe, karena ia dan suami terlambat setengah jam dari waktu yang mereka tentukan.


"Kau sudah lama menunggu? maaf aku terlambat." Ucap Lala sambil duduk di bangku panjang yang berhadapan dengan Bagas.


"Baru setengah jam." Bagas tertawa melihat kelakuan Lala.


"Maaf tadi macet."


"Bukan macet, kau lah yang dandan terlalu lama sehingga kita telat." Adam yang dari tadi diam ikut menimpali. Karena memang tadi Lala lah yang membuat mereka terlambat.


Adam langsung memeluk Lala. Ia begitu gemas saat melihat Lala yang merajuk seperti anak kecil.


"Ck, kalian kalau mau pamer kemesraan di rumah saja. Disini ada jomblo yang hatinya baru patah."


"Eh... Maaf." Ucap Lala tidak enak hati dengan Bagas.


Adam dan Bagas hanya mengobrol seputar pekerjaan. Sepertinya Lala mulai bosan dengan obrolan ke dua pria yang sedang bersamanya.


"Kau ke Bandung untuk menghindari Lisa bukan? sekarang ia tidak bekerja lagi kenapa kau tidak pulang kesini lagi saja?" Pertanyaan tiba-tiba Lala membuat Bagas diam seribu bahasa.


Adam menyenggol lengan sang istri. Saat ia melihat perubahan wajah Bagas. Adam yang mengerti perasaan Bagas paham betul akan sikap temannya tersebut.

__ADS_1


" Aku harap kau juga bahagia Bagas! jangan kau siksa dirimu dengan masih berharap kepada Lisa. Kalian sama-sama saling mencintai tapi kalian tidak di takdir kan bersama."


"Bukankah takdir bisa berubah Adam? hatiku serasa tersayat saat aku melihat dia menangis seperti itu. Aku terlalu bodoh tidak memperjuangkan nya."


"Aku tahu tapi dia sudah punya suami kau jangan macam-macam ya?" Lala merasa ucapan Bagas seperti ingin berbuat sesuatu.


"Aku tidak akan menyakiti orang yang aku cintai La, pikiranku masih waras untuk melakukan hal yang tidak tidak."


makanlah


"Syukurlah aku pikir kau akan..."


"Tidak La." Bagas memotong ucapan Lala.


"Baiklah aku percaya padamu."


***


Bagas sudah tiba di depan rumahnya. Ia rasanya enggan sekali untuk masuk kedalam rumah. Rasanya mengingatkan akan kepedihan. Rumah tempat kita pulang, tempat melepas lelah. Tapi Bagas hanya seorang diri di dalam rumah itu. Sebatang kara diabaikan tidak diinginkan dan di buang. Pikirannya kembali ke beberapa tahun lalu. Ia yatim piatu, begini kah akhirnya? apakah Ia akan tetap sendiri.


Di bukanya pintu rumah. Berjalan pelan menuju ruang keluarga. Sepi kosong dan hampa seperti dirinya saat ini. Apakah Ia tidak pantas mendapatkan keluarga? apakah aku tidak pantas merasakan cinta? pertanyaan itu muncul terus di benak nya.


Bagas bersimpuh di lantai ruang keluarga. Ia sandarkan tubuhnya di sofa. "Pada akhirnya semua sama seperti dulu, I'am Alone." Bagas berucap pada dirinya, dan cairan bening keluar dari kedua sudut matanya. Hanya angin malam yang dingin dan kegelapan yang menemani pria itu.


Catatan author : Halo readers... Maaf baru up date ya.. karena beberapa hari ini kerjaan sibuk banget 😔. Tadi malam aja aku nulis malah ketiduran saking capek nya 🤭.


Terimakasih yang sudah menyempatkan diri membaca karyaku 🙏.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ya..


__ADS_2