Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
41.Ingin berdamai dengan keadaan.


__ADS_3

Badan Bagas terasa sakit semua. Ia tadi malam tidur di sofa ruang keluarga. Hari ini ingin bersiap ke Bandung tapi rasanya kondisi tubuhnya tidak bisa diajak kompromi. Akhirnya ia memutuskan untuk istirahat sehari lagi di rumah.


***


Pagi ini Lisa dan Sakti terlihat seperti pasangan pengantin pada umumnya. Orang tua mereka hanya berpikir mungkin, memang mereka butuh waktu untuk saling mencintai. Padahal memang hubungan keduanya tidak baik-baik saja. Lisa dari semalam mendiamkan Sakti, ia berpikir suaminya hanya menginginkan tubuhnya saja. Hanya karena sebuah ciuman yang tiba-tiba Lisa berpikir yang bukan - bukan terhadap suaminya. Tapi padahal Sakti tulus mencintai nya.


"Kau tidak libur lagi Nak?" tanya ibu Lisa.


"Sepertinya tidak Bu."


"Nanti biar ku antar kalau mau ke restoran Ayah!" Yoga sudah berangkat lebih dulu ke restoran.


"Tidak perlu Mas." Lisa menolak dengan halus.


"Aku tidak terima penolakan sayang." Sakti segera berdiri dari tempat duduknya ia berjalan menuju ke kamar untuk mengambil kunci mobil."

__ADS_1


Ibu Lisa hanya tersenyum melihat tingkah menantunya. Seperti nya tidak salah ia menjodohkan Lisa dengan Sakti.


" Ayo kita berangkat?" Sakti yang baru saja menuruni tangga langsung menghampiri sang istri dan mengajaknya untuk pergi.


Seperti biasa Lisa tidak ada percakapan di antara mereka. Sakti fokus mengemudi dan Lisa mengarahkan pandangannya ke luar jendela.


Setelah setengah jam perjalanan, mereka sampai di restoran Ayah Lisa. "Ayo aku antar ke dalam?" Sakti keluar dari mobil berinisiatif membukakan pintu mobil untuk sang istri.


"Tidak perlu Mas, aku bisa sendiri." Lisa segera keluar dari mobil.


"Tidak! kau tetap pulang bersama Mas." Sakti segera menjalankan mobilnya. Ia tidak ingin mendengarkan kata-kata menyakitkan dari sang istri. Pernikahan macam apa ini. Baru dua hari saja Lisa bersikap seperti ini. Sulit sekali meluluhkan hari istrinya. Entahlah dengan hari-hari berikutnya.


Sakti melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Ia bingung harus kemana. Ke kantor pasti Papanya akan bertanya kenapa baru dua hari sudah masuk kerja. Ke rumah apalagi? sang Mama lebih cerewet, pasti akan tahu apa yang di alami Sakti saat ini. "Aku ke rumahku saja kalau begitu."


***

__ADS_1


Lisa hanya duduk di sofa ruang kerja Ayahnya. Berkali kali Yoga menyuruhnya pulang tapi tetap saja putri kesayangannya itu tidak mau. "Ayah tahu kau masih belum bisa menerima pernikahan mu? tapi setidaknya kau bisa mencobanya nak! bersikap baiklah kepada suamimu. Hubungan apa yang kau jalani saat ini? kau terlihat tidak peduli dengan suamimu?" Yoga membuang napas kasar, anaknya ini begitu keras kepala.


" Maafkan aku Yah? "


" Kenapa kau minta maaf kepada Ayah? kau bersalah kepada suamimu bukan kepada Ayah. Belajarlah membuka hatimu Lisa? Sakti tidak seburuk apa yang kau pikirkan. Ayah sudah kenal lama mengenalnya."


"Iya Yah." Lisa sebenarnya tidak ingin bersikap seperti ini kepada Sakti. Hatinya sajalah yang belum bisa menerima nya.


"Lepaskan masa lalu, masa kini dan masa depan mu adalah Sakti." Ucapan Yoga dengan tegas kepada putri semata wayang nya tersebut.


Lisa membenarkan ucapan Ayahnya, sepertinya ia harus minta maaf kepada Sakti atas perlakuannya tadi malam. Mungkin ini saat nya ia menerima suaminya sepenuhnya. Harus berdamai dengan keadaan. Bukankah semua ini terjadi juga karena Lisa juga. Rasanya tidak adil kalau ia menyalahkan Sakti.


Catatan author :Halo readers.. maaf ya baru up date 🙏. Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan nya, semoga amal ibadah kita diterima Allah


jangan lupa like dan komen ya..

__ADS_1


Terimakasih 🙏🙏


__ADS_2