Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Bab 84


__ADS_3

"Reny, coba kamu periksa berkas ini. Ini adalah berkas rekanan baru kita. Nantinya, proyek ini akan papa alihkan untuk kamu tangani," ucap papa menyerahkan map coklat berisi lembaran kertas. Aku menerima berkas itu, dan membacanya sekilas.


"Ini dari perusahaan mana, Pa," tanyaku. Karena masih asing dengan nama perusahaan yang aku baca.


"Oh, ini perusahaan baru. Mereka.menawarkan kontrak kerja sama dengan kita. Jadi, biar kamu saja nanti yang menanganinya," ucap papa.


"Kalau Papa yang terus yang ngasih job sama, Reny, sama aja membuat Reny gak berkembang, Pa," protesku. Karena hampir separuh dari kontrak yang aku tangani adalah hibah dari Papa.


"Ikuti aja alurnya. Nantinya juga kamu mandiri. Jangan soksokan. Anak ayam aja disapih, induknya." Papa mengacaukan rambutku.


"Masak Reny, disamakan sama anak ayam," protesku manja. Seraya memeluk lengan papa.


"Yang samakan siapa, itu kan hanya perumpamaan." Papa menjentik puncak hidungku.


"Ya, udah, kamu pelajari aja berkas itu. Kalau kamu tertarik, bulan depan terder dibuka. Kamu ikut tendernya. Persyaratannya ada dalam berkas itu."


"Baiklah, Pa. Atas kesempatan yang, Papa, beri. Reny akan berusaha melakukan yang terbaik."


"Nah, gitu dong, itu baru putri Papa. Ingat, dalam berbisnis, satu hal yang perlu kamu jaga adalah kepercayaan. Jika kita telah kehilangan kepercayaan orang itu artinya kita akan kehilangan kesempatan emas. Seperti kita melempar batu ke air kolam, riak gelombangnya akan menyebar jauh. Seperti itulah, bila nama baik seseorang telah rusak, akan tersiar juga seluas-luasnya.


Sebaliknya juga, kita jangan pernah percaya lagi kepada orang yang pernah menghianati kita. Sekali dia berhianat, dia akan mencari celah untuk menghianati kita juga tak peduli kapan dan di mana. Jika kesempatan itu ada, dia akan terus memamfaatkan itu."


Ada banyak benarnya nasehat Papa yang kudengar hari ini. Dalam cirkel kehidupan ini banyak sekali orang-orang kita temui seperti yang di bilang papa. Di dunia bisnis, pertemanan bahkan dalam lingkup keluarga.


"Papa tidak bermaksud menakut-nakuti kamu, lo. Dunia bisnis itu memang sangat kejam. Dimana kawan bisa jadi lawan. Lawan bisa kita mamfaatkan untuk mencapai tujuan. Tergantung kita melihat peluang dan membuat strategi. Nah, jika kamu sudah paham hal itu, kamu pasti akan siap untuk terjun dan menanggung segala resikonya.


"Terimakasih ya, Pa. Reny akan ingat semua petuah papa itu." aku menyalami tangan dan mencium punggung tangan papa saat papa keluar dari ruang kerjaku.


Aku membolak balik sekilas berkas yang diberikan papa, ketika aku mendengar pintu di ketuk. Seraut wajah muncul dengan senyum khasnya. Wajah yang beberapa hari ini aku rindukan karena sedang tugas ke luar kota.


Senyumku segera mekar menyambut wajahnya yang tersembul di pintu. Aku beranjak dari kursi.

__ADS_1


"Hai, kok gak bilang-bilang kalo sudah pulang," tubuhku langsung tenggelam dalam pelukan hangatnya.


"Sengaja, ngasih suprise. Apa benar ada yang rindukan aku," ucapnya konyol. Aku menepuk lengan kokoh itu. Lagi-lagi tubuhku dirahupnya dalam pelukannya.


"Aku juga sangat merindukanmu. Serasa gila tak melihatmu dalam sehari," pengakuannya membuatku terbahak.


"Is, bucin amat," seruku. "Gimana kabar, Raisa," ucapku.


"Ya, ampun. Begini rasanya bersaing dengan anak sendiri. Aku yang ada di depan mata, malah Raisa yang dicari," protes Dion.


"Keduanya sama-sama aku rindukan. Masa cemburu dengan anak sendiri," sahutku. Menowel kedua pipinya dengan gemas.


"Makan siang, yuk. Aku kelaparan, nih."


"Ayo, bentar ya," aku membereskan berkas yang sempat aku baca tadi.


"Kamu lagi banyak kerjaan, ya?" ucap Dion menelisik berkas yang aku.masukkan ke amplop.


"Gak begitu kenal sih. Itu perusahaan baru. Tapi setahuku citra perusahaan itu agak buruk. Kok, bisa- bisanya Om, Handoko berurusan dengan perusahaan itu."


"Kata Papa, sih mereka mengajukan kerja sama. Papa menyerahkannya padaku. Gitu, aja," ucapku sedikit heran dengan reaksi, Dion. Sepertinya Dion lebih tau banyak dari yang dia ungkapkan.


"Hati-hati saja, Ren. Bukan hanya dengan perusahaan itu. Tapi dengan setiap orang, saat menjalin kerja sama."


"Iya, Papa juga tadi sudah menasehatiku. Aku senang sekali berada di antara dua lelaki yang begitu peduli samaku."


"Huum, tapi ini bukan saatnya untuk bicara bisnis. Perutku sudah keroncongan sedari tadi," ucapnya menirukan salah satu iklan obat. Aku, terkekeh melihat gayanya.


"Oke, kita sekarang isi bahar bakar dulu. Sebelum membahas tentang banyak hal," ucapku lalu kugandeng lengannya keluar dari ruangan.


"Salah satunya, tentang kita. Iya, kan?" deliknya dengan kerjap mata menggoda.

__ADS_1


"Siap, Bos!" seruku.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Dion begitu kami tiba di cafe langganan kami, yang khusus menyediakan makanan seafood. Mulai dari yang dipanggang, kukus atau di goreng.


"Aku mesan yang di kukus saja, deh." Tunjukku pada salah satu foto di buku daftar menu. Sepertinya sangat menggugah seleraku saat melihat sambal pelengkapnya.


"Tumben pesan yang di kukus. Biasaya, yang dipanggang. Diet, ya?" seru Dion.


"Badan udah kurus begini, buat apalagi pake diet segala." cebikku. Dion terkekeh mendengar jawabanku.


Sambil menunggu pesanan kami, kami ngobrol tak tentu arah. Aku masih penasaran dengan sikap Dion, tentang perusahaan yang kami bahas tadi. Tapi untuk mengungkitnya lebih jauh, aku merasa enggan juga, karena waktunya yang tidak tepat.


"Hem, rasa laparku telah terpuaskan," ucap Dion sambil mengelus perutnya usai makan.


Aku hanya tersenyum melihat polah Dion yang terkadang seperti anak kecil saja. Sikap Devan malah lebih dewasa.


"Napa, senyum-senyum dari tadi," ucap Dion membuyarkan lamunanku. Sambil memasukkan sepotong puding coklat ke mulutnya.


"Melihat polahmu, yang kadang lebih dari anak.kecil," sahutku anteng. Tanpa kuduga, Dion ngakak keras sampai air matanya keluar. Terang aja sikapnya menarik perhatian orang banyak. Aku jadi risih ketika beberapa.mata memandang ke arah kami dengan heran.


"Ih, kira- kira dong ngakaknya. Tuh, liat semua orang pada ngeliatin kesini," bisikku jengah.


"Masa bodoh, orang lagi senang. Iri, bilang bos!" bisiknya seraya tersenyum nakal padaku. Aku cuma bisa mengatupkan gigiku perlahan, pura- pura marah menanggapinya.


"Ya, suka-sukamulah," cebikku. Aku berusaha menahan senyum, agar kelihatan lagi serius marahnya. Namun, saat melihat mata jenaka Dion tawaku terhambur juga, malah lebih keras dari tawa Dion, barusan. Mata Dion mendelik heran.


Kembali para tamu di cafe itu, melihat ke arah kami. Ada yang ikutan senyum, tapi lebih banyak yang mencibir, mungkin iri atau benar-benar terganggu dengan tingkah kami.


"Sudah, nanti kita kena boikot, lo." Dion berusaha meredakan tawaku. Alih-alih tawaku terhenti, aku justru semakin merasa lucu. Karena gerak mimik Dion bukannya mau menenangkanku, tapi justru menyentil sisi rasa humorku. Mati-matian aku menahan tawaku. Sampai perutku terasa kejang, bahkan air mata keluar dari sudut mataku.


Dion memang selalu mampu membuatku tertawa dan serius pada waktunya. *****

__ADS_1


__ADS_2