
Panitia penyelenggara acara di rumah sakit, menyambut kedatangan kami penuh hormat. Kami diarahkan ke aula tempat acara dilaksanakan.
Untunglah kami datang agak cepat, jadi tamu undangan yang hadir belum ramai sehingga aku lebih leluasa dan merasa santai.
"Bapak dan ibu, utusan Pak Handoko, ya?" ucap seorang penerima tamu dengan hormat. Mungkin kedatangan kami sudah diwanti-wanti, sehingga sambutan mereka sangat hangat.
"Iya, saya putrinya, beliau," sahutku.
"Mari, Pak, Bu, ikut saya," ucapnya penuh sopan dan membawa kami ke ruangan khusus. Tidak berapa lama, seorang lelaki paruh baya seumuran papa, datang menemui kami.
"Maaf kalau sambutan kami ada kekurangan, harap dimaklumi. Kenalkan saya Dokter Rusdi, pengelola rumah sakit ini." Dokter itu menyalami kami dan mempersilahkan kami duduk.
"Terimakasih, Pak. Saya Tara."
"Reny." Aku menyambut uluran tangan itu. Lalu duduk di sisi Dion.
"Tolong sampaikan ucapan terimakasih saya nanti, pada Pak Handoko atas bantuannya pada rumah sakit ini.Karena bantuan itu sangat besar mamfaatnya bagi rumah sakit ini."
"Baik pak, akan saya sampaikan nanti," ucapku.
"Oh, ya. Sebelum acara dimulai, saya ingin mengajak Bapak dan Ibu jalan-jalan sebentar, melihat kondisi rumah sakit ini."
"Dengan senang hati, Pak. Kami bersedia," sahut Dion. Lalu kami berkeliling dari satu bangsal ke bangsal lain. Menyapa pasien yang memang butuh dukungan dan penghiburan.
Hatiku terenyuh, begitu banyaknya mereka yang sakit. Betapa bersyukurnya kita yang selalu sehat dan bugar.
"Oh, ya kalau bapak dan ibu tidak keberatan, menyapa pasien kami yang baru-baru ini mengalami kecelakaan. Mungkin bapak dan ibu bisa memberi penghiburan. Jiwanya sangat labil, dia telah mencoba dua kali bunuh diri, untunglah bisa diselamatkan."
"Apa tidak apa-apa jika kami menyapanya, Pak. Mengingat kami orang asing baginya." tanya Dion ragu. Aku mengiyakan tanda sependapat dengan Dion.
"Justru karena itu, Pak, sapaan bapak sama ibu akan menguatkan mereka sebagai bentuk kepedulian kepada mereka."
__ADS_1
"Ngomong-ngomong apa yang terjadi padanya, Pak, sampai mau nekad bunuh diri?" tanyaku penasaran.
"Dia kehilangan kedua kakinya, padahal dia masih muda suaminya katanya di penjara. Anaknya dua dan masih butuh perhatian. Mungkin itu yang membuatnya nekad."
Dalam hati aku berguman kasihan. Pada titik tertentu wajar bila seseorang bertindak nekad. Saat seperti itulah memang mereka butuh perhatian orang lain. Baik dalam bentuk materi atau non materi.
"Ini ruangannya, Pak, Bu. Kabarnya lainnya, ibu mertuanya juga dirawat dirumah sakit ini karena lumpuh." lanjut dokter Rusdi. Mendengar itu aku makin simpati pada wanita yang diceritakan dokter Rusdi. Terbersit di benakku untuk memberi bantuan, mungkin dengan kursi roda atau apalah. Aku lebih baik bicarakan hal ini nanti kepada Dokter Rusdi.
Pak Rusdi mendorong pintu, nampak seorang wanita tengah duduk dikursi roda. Dia tengah menikmati suasana di balik jendela kamar. Dia membelakangi arah datangnya kami, sehingga aku tidak jelas melihat wajahnya.
Dokter Rusdi menghampirinya, berbicara sebentar. Perempuan itu tampaknya tidak begitu menanggapi sapaan dokter Rusdi. Mungkin dia tengah tertidur atau asyik dengan dunianya.
Perlahan kepala wanita itu bergerak dan memutar ke arahku dan Dion. Wajahnya nampak jelas. Aku sangat terkejut saat mata kami saling pandang. Rasanya tak percaya kalau itu adalah Sarah!
Aku berusaha setenang mungkin, walau aku cukup shock melihat apa yang terpampang di depan mataku. Tak sadar aku menyebut nama Sarah. Dion yang melihat reaksiku, buru-buru memegang tanganku.
"Kamu kenapa? Kamu kenal dia, ya?" bisiknya lirih. Aku mengangguk dan susah payah menelan salivaku.
"Dia, siapa?" tanya Dion lagi lebih lirih.
"Benarkah? " guman Dion seakan tak percaya. sama seperti diriku juga yang tidak percaya akan kondisi Sarah sekarang. Dia sangat berbeda jauh dari yang terakhir aku lihat. Sepertinya dia tidak terurus, dan tidak peduli dengan dirinya sendiri.
Mungkin gairah hidupnya telah hilang, paska kecelakaan itu. Bukankah dokter Rusdi tadi bilang kalau Sarah telah melakukan percobaan bunuh diri.
Ah, setragis inikah kehidupan Sarah setelah perselingkuhannya dengan mantan suamiku terbongkar. Apakah semua ini karma dari perbuatannya dulu?
"Sarah, kamu kedatangan tamu, Pak Tara dan Bu Reny. Ayo, sambut mereka, mereka ingin menyapamu," ucap Dokter Rusdi mengenalkanku dan Dion. Namun, tidak ada respon balik, Sarah menatap kami dengan pandangan kosong.
"Halo, Sarah, ini aku Reny," ucapku menyapanya lebih dekat. Kusentuh tangannya perlahan, untuk menarik perhatiannya, tapi tetap tak di respon. Sekalipun dulu aku begitu benci dan jijik pada Sarah, tapi aku tak berharap dia akan alami hal seperti yang dia derita saat ini.
Karena komunikasi tidak tersambung balik, akhirnya kami keluar meninggalkan ruangan Sarah. Di pintu kami berpapasan dengan Doly adik ipar.
__ADS_1
"Kak Reny, ngapain di sini?" tanyanya heran, apalagi barusan melihat kami hendak keluar dari ruangan Sarah. Aku yang tidak menduga pertemuan ini juga kaget dan balik bertanya.
"Kamu juga ngapain di sini?"
"Ibu dirawat di sini," sahut Doly.
"Ibu, sakit apa kok sampai dirawat di sini."
"Selama ini Ibu tinggal sama Sarah, ibu jatuh sakit, sepertinya stroke. Aku hendak membawa ibu bersamaku, tapi kondisi ibu masih lemah, untuk menempuh perjalanan jauh."
"Ibu dirawat di ruang mana?" tanyaku antusias. Terus terang aku kaget mendengar khabar beruntun ini. Apa yang menimpa Sarah dan Ibu mertua membuatku prihatin juga. Meskipun aku pernah benci dan sakit hati atas perlakuan mereka. Bahkan dendamku juga membara , tapi saat melihat keadaan mereka yang tidak berdaya seperti ini, membuat hatiku teriris juga.
Mungkin saja apa yang mereka alami ini adalah karma dari perbuatan mereka selama ini.
Tubuh ibu sangat kurus, terbaring lemah di ranjangnya. Matanya tampak cekung, dilingkari warna hitam. Sungguh, membuat hatiku kasihan.
Kusentuh lengan yang tinggal kulit membalut tulang. Begitu ringkih, sepertinya beliau juga tidak mengenaliku lagi. Tapi perkiraanku salah, saat kusebut namaku, ibu langsung menangis sesegukan.
"Benarkah itu kamu, Nak Reny?" dengan susah payah beliau berucap. Aku mengganguk tanda mengiyakan. Susah sekali aku untuk membalas ucapannya. Kerongkonganku seakan tercekik.
"Maafkan, ibu nak," ucapnya terbata mencoba menggapai wajahku. Kutangkup lengan itu dan kubawa ke wajahku. Biar bagaiamana pun, seluruh sakit hatiku luruh bersama air mataku.
"Reny sudah memaafkan, Ibu," sahutku. Kulihat senyum di sudut bibirnya. Perlahan aku melihat tatapan matanya meredup, seolah mendapatkan ketenangan saat aku bilang telah memaafkannya. Senyum di sudut bibirnya begitu meneduhkan.
Perlahan aku merasakan lengan yang kupegang itu, terkulai lemah dan terasa dingin. Kupikir beliau tengah tetidur karena kondinya yang begitu lemah. Namun, aku merasa aneh karena tidak kutemukan denyut di nadinya.
"Ibu...." teriakku. Kuguncang tubuhnya perlahan, tapi tidak ada respon. Doly terkejut mendengar teriakanku.
"Ada apa dengan, Ibu," teriaknya lantas memeriksa ibu juga. Dokter Rusdi, juga memeriksa Ibu, yang ternyata telah pergi untuk selamanya.
Aku, merasa shock. Tak menduga kalau pertemuan kami adalah yang terakhir. Seolah Ibu hanya menungguku dan ingin bertemu denganku untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
Padahal kedatanganku bukan untuk berurusan dengan beliau. Tapi pertemuan yang secara kebetulan ini menjadi jalan baginya untuk pergi. Pergi setelah beliau meminta maaf padaku.
"Turut berduka cita, Reny," bisik Dion saat kutumpahkan tangisku dalam pelukannya. *****