
Saat makan malam Elisa tak kunjung bangun dari tidur nya, sang ibu sangat khawatir dengan keadaan putri nya ,beliau pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar utama. Sang ibu melihat putri nya tidur dengan nafas yang memburu dan juga sangat pucat bahkan bibir nya membiru, ibu nya Elisa pun panik dan segera memanggil Zidan di lantai bawah, Zidan yang mengerti maksud teriakan ibu bos nya itu pun segera menghubungi dokter yang berada di klinik di sekitaran rumah besar itu. Sang dokter pun datang dengan tergesa gesa dan langsung memeriksa dan menangani Elisa.
Dokter tersebut menyuruh Zidan untuk ke klinik dan mencari para perawat yang sedang bertugas untuk membawakan tabung oksigen,juga alat Elektrokardiogram , cairan infus dan juga beberapa obat. Tak lama kemudian datang lah 2 perawat di ikuti Zidan yang membawa semua hal yang tadi di sebutkan oleh dokter. Kemudian dokter dan dua perawat tadi memasang jarum infus di tangan Elisa dan juga memasangkan alat Elektrokardiogram dan menyuntikkan beberapa obat.
Malam itu bisa di bilang Elisa mengalami masa kritis , detak jantungnya menurun dengan sangat cepat, juga kekurangan cairan ,dan sesak nafas ,jika terlambat di tangani nyawa nya tidak akan tertolong ,beruntung ibu nya menemukan Elisa lebih awal, jadi nyawa nya bisa tertolong. Ibu nya di paksa oleh Zidan untuk istirahat saja di kamar nanti Rafa malah masuk ke sini dan menjadi khawatir, biar Zidan dan juga dokter di temani 2 perawat menjaga Elisa sampai pagi ,karena keadaan Elisa yang masih dalam masa kritis. Ibu Elisa pun mengalah dan memilih untuk menidurkan Rafa ,yang ketika masuk ke kamar nya sudah ribut dan rewel karena di tinggal sendiri.
Keesokan pagi nya, Elisa belum siuman namun dari alat Elektrokardiogram menunjukkan detak jantung Elisa sudah kembali normal. Dokter pun kembali memeriksa keadaan Elisa ,kemudian para perawat menyuntikan beberapa obat di lengan dan juga infus Elisa.
Sementara itu......
Aditya telah bangun dari tidur nya dan melakukan ritual mandi nya seperti biasa, setelah berpakaian dengan rapi, dia menuju ke ruang makan untuk makan bersama ayah dan ibu nya yang telah terlebih dahulu berada di sana.
" Pagi pa, ma" sapa Aditya sambil duduk di kursi nya, sementara pelayan menyajikan sarapan kepada tuan muda nya.
" Ya pagi" kata ayah nya singkat.
" Pagi ,sayang gimana tidur mu ? nyenyak?" tanya ibu nya.
" Lumayan ma" kata Aditya sambil mengunyah makanan nya dan setelah nya tidak ada lagi percakapan .
Setelah sarapan Ayah nya Aditya langsung berangkat ke kantor sedangkan Aditya duduk duduk santai menikmati secangkir teh di ruang keluarga di temani ibu nya.
" Apa kamu yakin akan mencari Elisa nak?" tanya ibu nya.
" Iya ma, Adit harus memastikan sesuatu" kata Aditya.
" Mama sih nggak masalah kamu mencintai nya nak, namun tidak tahu dengan ayah mu, kamu lihat sendiri kan dia jadi dingin dan cuek setelah kamu berkata ingin menemui Elisa" kata ibu nya.
" Ma Aditya sudah dewasa ,Adit punya hak untuk menentukan siapa yang akan menjadi pendamping hidup Adit sampai tua, Adit lelah hanya di kekang oleh ayah" kata Aditya.
__ADS_1
" Mama tahu perasaan mu nak, maafkan mama yang tidak berdaya dan tidak bisa menolong mu dari kekangan ayah mu, namun jangan pernah membenci ayah mu nak, dia begitu hanya untuk kebaikan mu" kata ibu nya.
" Aku tahu namun tidak semua yang diputuskan ayah baik untuk ku bu, ada hal hal yang orang tua tidak boleh ikut campur , seperti hal nya cinta, dia datang dari tuhan yang menciptakan kita, ayah tidak bisa memutuskan kepada siapa aku mencintai dan kepada siapa aku harus menikah, ayah harus tahu itu" kata Aditya.
" Mama pernah dengar alasan ayah mu tidak setuju kamu dengan Elisa, ayah mu tidak mau kamu menikah dengan seorang mafia nak" kata ibu nya.
" Lalu kenapa jika Elisa adalah mafia? dia memang sudah membunuh banyak orang ,namun yang dia bunuh adalah orang yang pantas mati, dia juga membenci narkoba dan obat obatan terlarang, jadi dia akan menghukum mati anggota nya yang ketahuan memakai atau mengedarkan barang haram itu, bahkan dia sering membantu kepolisian menangkap dan menggagalkan berbagai penyelundupan ma" kata Aditya tidak terima.
" Tapi nak, identitas mafia di kenal masyarakat identik dengan kejahatan, narkoba pokok nya hal hal negatif, mungkin ayah mu berpikir seperti itu juga" kata ibu nya.
" Karena ayah tidak mengenal siapa Elisa, dia menjadi pemimpin mafia Dewa kematian sejak usia nya 14 tahun, bayangkan ma gadis sekecil itu sudah memimpin ribuan bahkan ratusan ribu orang, dan mama tahu setiap pergantian pemimpin pasti ada saja yang akan memberontak, tapi Elisa kecil berhasil menggagalkan nya dan membuat semua anggota nya takut kepada nya, dia memang di kenal kejam, berhati dingin dan brutal ,jika dia tidak punya semua itu ,dia akan mati sejak awal, masa kecil nya dia habiskan dengan mengenal senjata, memikirkan strategi, membunuh dan hal hal keji lain nya" kata Aditya.
" Ceritakan tentang nya nak, mama semakin penasaran " kata mama nya.
" Dia lahir di kampung karena ayah nya memilih kawin lari dengan ibu nya dan kabur ke kampung di mana keluarga ibu nya tinggal, sejak lahir dia tidak terlalu di perhatikan , dari TK hingga lulus SMA ,dia selalu diperlakukan tidak baik oleh orang tua nya, dia sering di pukul dan di maki jika melakukan kesalahan, hingga Elisa lulus SMA dia di jemput oleh kakek nya dan di bawa ke mansion, seminggu kemudian Elisa dan kedua kakak angkat nya berangkat ke Rusia untuk kuliah dan juga mencari pendukung untuk nya bertahan di mafia, dan di sanalah kami bertemu, awal mula aku bertemu dengan nya ,dia sangat judes dan juga cuek , ternyata kami satu kelas ,kau tahu bu ternyata dia gadis paling jenius di dunia saat itu dan mendapatkan berbagai penghargaan," kata Aditya.
" Jadi cari Elisa nggak?" tanya Meyra.
" Astaga ,kamu ngage.tin deh Mey, ya jadi lah" kata Aditya sambil memegang dada nya.
" Hehehe ya maap , ya udah ayok " kata Meyra.
" Iya bentar ganti baju dulu aku" kata Aditya sambil beranjak dari duduk nya.
Tak berapa lama Aditya pun kembali dengan pakaian casual namun rapi yang menambah nilai ketampanan nya.
" Yuk" ajak Aditya.
Mereka berdua menaiki mobil dan segera mobil itu melaju membelah jalanan menuju tempat di mana Elisa berada. Sedangkan orang yang ingin di temui baru saja sadar dari tidur nya, dan sekarang baru di suapi bubur oleh ibu nya, baru juga beberapa sendok, Elisa sudah tidak mau memakan nya, kata nya pahit dan juga perut nya mual, dan ibu nya tidak memaksa nya yang penting perut terisi walau sedikit dari pada tidak terisi, setelah itu Elisa meminum obat nya di bantu oleh ibu nya. Sang adik senantiasa duduk di ranjang samping kakak nya sambil memijat lengan kakak nya, setelah dia mendengar kondisi kakak nya, dia memaksa ibu nya untuk menjaga kakak nya, ya Rafa adalah bocah laki laki yang sangat perhatian dan juga penyayang, dia juga protektif dan posesif sekali dengan kakak nya.
__ADS_1
Selang beberapa jam ,Aditya sampai di depan gerbang rumah besar Elisa, di sana dia di cegat oleh beberapa penjaga. Aditya mengatakan bahwa mereka teman dari nona muda Elisa, dan ingin menjenguk nya. Para penjaga tidak percaya, mereka menyuruh Aditya dan Meyra untuk menunggu, sementara mereka menghubungi Zidan untuk meminta izin.
" Hallo ,tuan Zidan ,ini ada yang mengaku sebagai teman nona muda, apakah di bolehkan masuk?" tanya salah satu penjaga kepada Zidan melalui panggilan suara.
" Siapa nama nya?" tanya Zidan.
" Tuan Aditya dan juga nona Meyra" kata penjaga itu.
" Sebentar aku akan lapor ke nona muda dulu" kata Zidan.
Zidan pun menuju kamar utama untuk menanyakan kepada Elisa apakah Aditya dan juga Meyra boleh masuk. Elisa berfikir sebentar, mungkin inilah saat nya mereka tahu yang sebenar nya. Sedangkan ibu nya ,beliau telah mengetahui perihal penyakit Elisa sejak beliau sudah berada di mansion beberapa hari, ibu di beritahu oleh kakek, saat itu ibu nya syok dan juga langsung menangis mendengar penyakit putri nya yang setiap saat bisa mengambil nyawa putri nya.
" Biarkan mereka masuk, mereka harus tahu hingga mereka bisa menikah tanpa merasa bersalah pada ku, dan aku sudah rela jika mereka bersama" kata Elisa mantap, ibu nya memandang nya meminta penjelasan.
" Ah iya ,ibu akan bertemu dengan seseorang yang pernah mengisi hari hari putri ku bu, dia sangat tampan, namun Elisa akan melepaskan dia untuk sahabat ku Meyra, dia pantas bahagia dan juga mendapat seseorang yang bisa menemani nya sampai tua" kata Elisa sambil tersenyum, sementara Zidan sedang menghubungi penjaga untuk membiarkan Aditya dan juga Meyra masuk.
" Ibu ,bantu Elisa duduk" kata Elisa ,dan ibu nya langsung beranjak menegakkan bantal di belakang punggung putri nya agar dia bisa bersandar karena tubuh nya memang masih lemah.
Aditya sampai di depan rumah mewah nan besar bak istana, dia pun turun dan langsung di sambut oleh kepala pelayan dan mengantar mereka berdua menuju kamar utama ,di mana Elisa berada. Ketika pintu terbuka, terlihatlah seorang gadis dengan wajah pucat dan kurus, di hidung nya terpasang alat bantu pernafasan, jarum infus menancap di punggung tangan nya dan sedang tersenyum ke arah Aditya dan juga Meyra.
Seketika air mata Aditya langsung luruh dan dia agak berlari mendekati Elisa kemudian memeluk nya. Dia tak menyangka gadis yang selama ini dia rindukan ,sekarang dalam keadaan yang mengenaskan ,sungguh hati nya sangat terluka dan sakit sekali. Dia menangis sesenggukan di dalam pelukan Elisa.
" Kenapa jadi begini? kenapa kamu malah menyembunyikan semua nya dari ku, kenapa sayang?" tanya Aditya dengan deraian air mata.
" Aku tak mau kamu khawatir pada ku, dan juga aku mau mendapat seseorang yang akan selalu ada untuk mu sampai kamu tua" kata Elisa santai, namun hati nya menahan gemuruh kesedihan dan kerinduan yang amat besar.
" Tapi aku hanya mencintai mu, aku tak mau wanita manapun menggantikan dirimu dan tak akan ada yang bisa menghapus nama mu di hati ku" kata Aditya.
" Aku tahu ,tapi aku nggak mau jadi egois dan memaksakan untuk menikah dengan mu, Dit umurku tidak lama lagi dan aku nggak mau kamu nanti lebih tersakiti lagi dengan kepergian ku, dan pergi nya aku bukan sekedar pergi satu tahun, sepuluh tahun tapi pergi nya aku itu untuk selama nya, maka dari sekarang aku memutuskan lebih baik kita akhiri saja sebelum semua nya terjadi" kata Elisa sambil menahan sesak di dada nya.
__ADS_1