
Sudah satu minggu sejak , Elisa di operasi, keadaanya telah berangsur angsur membaik dan Elisa pun sudah berkeliaran kesana kemari meski selalu di marahi kedua kakaknya atau Aditya, namun emang dasarnya bocah, nggak bisa diam barang sebentar. Dan semenjak Elisa terluka, dia merasakan ada yang salah dengan jantungnya, namun dia belum peduli, dia juga belum menanyakan perihal kesehatanya paska operasi kepada dokter Arnold yang seminggu ini menetap di villa nya memantau keadaan Elisa. Dan baru baru ini Elisa merasakan sakit yang luar biasa di dadanya, rasanya sesak ,sakit sekali dan rasanya mau pecah, ketika itu Elisa berada di kamarnya,jadi tidak ada yang melihat keadaanya, serangan itu terjadi selama 1 jam dan Elisa mati matian menahan rasa sakit yang terus menderanya, ya serba salah sih, dia mau menekan dadanya tapi lukanya belum kering jadi dia hanya bisa menggigit bibir dan mencengkram sesuatu sambil memejamkan matanya berharap bisa menahan sakitnya dan berharap agar segera berlalu. Setelah rasa sakitnya reda, Elisa berusaha bangkit dari tempat tidurnya, wajahnya yang pucat dan banjir keringat membuat Elisa mencuci wajahnya terlebih dahulu sebelum turun, walaupun wajahnya di sapu air namun wajah pucat nya tidak bisa hilang, ah bodo amatlah, batin Elisa.
Waktu makan malam pun tiba , beruntung serangan sakit yang mendera Elisa telah berlalu, jadi Elisa bisa turun untuk makan malam bersama. Di meja makan sudah ada kedua kakaknya, Aditya, Meyra ,dan dokter Arnold, Elisa berjalan riang seolah tidak terjadi apa apa sebelumnya, namun wajah Elisa yang lebih pucat dari sebelumnya membuat semua yang melihatnya menatap tajam kepada Elisa.
" Kenapa? apa ada yang salah dengan ku? " tanya Elisa sambil memeriksa tubuhnya kalau kalau ada yang salah.
" Apa yang terjadi denganmu sebelumnya? wajahmu lebih pucat dari yang tadi siang? apakah kamu kesakitan? bagian mana yang sakit?" kata James khawatir.
__ADS_1
" Eeeenggg tidak kok, aku baik baik saja, mungkin aku kurang istirahat kak hehehe" kata Elisa sambil nyengir.
" Oh makanya jangan keliaran mulu, tahu sakit ,masih aja ngeyel keluyuran,hadeh" kata James menasehati adek kesayangan nya.
" Iya Elisa, dengerin apa kata James, kamu harus istirahat ,lihat wajahmu sangat pucat , kakak tahu kamu masih merasakan sakit di lukamu, mau kamu menutupinya serapat apapun kakak tahu itu, kalau kamu merasa sakit , bilang ya!" kata Alex menambahi.
" Seorang kakak punya ikatan batin dengan adiknya, walaupun kita beda darah, tapi aku dan James sudah mengurus mu selama beberapa tahun ini, jadi kami tahu jika kamu sedang kesakitan, makanya sekarang saatnya kamu belajar untuk terbuka, kamu tidak sendirian lagi dimana kamu menahan semua rasa sakit sendiri, sekarang ada kakakmu , kami akan selalu ada di sampingmu, mengerti" kata Alex sambil menatap lurus ke mata Elisa.
__ADS_1
" Hmmm iya kak, aku tahu sekarang aku punya kalian dan juga Aditya dan Meyra serta semuanya yang mendukungku, tapi aku butuh waktu untuk membiasakan diri untuk terbuka, maafkan aku kak," kata Elisa yang kemudian tersenyum lebar ke arah kedua kakaknya .
" Ya sudah mari kita makan" kata Alex menyudahi acara ngobrolnya.
Selama makan, Aditya diam diam terus menatap Elisa, dia sangat khawatir dan cemas dengan kesehatan Elisa, dan tanpa sengaja tatapan mereka bertemu ,Aditya segera memalingkan wajahnya ,dia malu karena ketahuan oleh Elisa ,karena dia terus menatap Elisa. Elisa pun tersipu malu selalu di perhatikan Aditya, agaknya Elisa mulai menerima cinta dari Aditya, buktinya sekarang setiap Elisa di tatap oleh Aditya , Elisa merasakan suatu perasaan aneh yang campur aduk, jantungnya berdetak kencang dan serasa ada yang menggelitik di perutnya. Ya, benih benih cinta telah mulai tumbuh di antara keduanya, ya berawal dari pertemuan menjengkelkan , kesan Elisa kepada Aditya adalah cowok menyebalkan yang mengganggunya setiap hari, dan sekarang menjadi teman perjuangan dan orang spesial yang menempati hati Elisa.
Bersambung................
__ADS_1