
Di tempat lain ..........
Wanita yang menjadi perusak rumah tangga keluarga Elisa , bertemu dengan seorang laki laki di sebuah rumah makan. Mereka berdua tampak akrab dan terlihat berbicara sesuatu dengan serius, di akhir pertemuan itu, si wanita memberikan sejumlah uang kepada laki laki tersebut. Dan kemudian wanita itu pulang dengan senyuman licik di wajah nya.
Rumah ibunya Elisa......
Seperti biasa setelah mengantar adik dan juga ibu nya , Elisa akan duduk ber jam jam di depan laptop nya melihat ibu nya bekerja , dan sesekali mengurus pekerjaannya yang membutuhkan tanda tangan atau persetujuan nya. Setelah waktu menjemput adik nya tiba , Elisa pergi menjemput adik nya di sekolah. Hari ini Elisa langsung pulang ke rumah dan menyiapkan makan siang nya dengan Rafa. Setelah makan siang, Rafa di suruh tidur siang , walaupun sebenar nya Rafa enggan namun demi kakak nya yang sangat dia rindukan Rafa mengikuti semua perintah Elisa toh itu juga untuk kebaikan nya. Jangan salah walaupun Rafa baru berumur 5 tahun namun sikap nya sudah seperti anak berumur belasan tahun, dia sangat perhatian dan manja dengan Elisa , dia juga sangat pintar seperti nya dia akan sama pintar nya dengan Elisa. Tak butuh waktu lama Rafa pun sudah terlelap, Elisa memandangi wajah tampan adik nya dengan sangat inten, benar benar mirip ayah, batin nya.
Elisa berjanji akan memberikan yang terbaik kepada adik satu satu nya itu, dia akan mencurahkan semua kasih sayang nya kepada Rafa, dia tidak mau adik nya merasakan apa yang telah dia alami selama ini, dia tidak mau adiknya berubah seperti diri nya. Dia ingin adik nya tumbuh di lingkungan yang sama seperti anak anak pada umum nya. Dia ingin menjadikan adik nya penerus semua perusahaan nya yang di luar bisnis mafia nya, dia tidak ingin adik nya ikut ke dalam kelompok mafia yang dia pimpin.
Tadi siang ibu nya menghubungi Elisa dan bilang bahwa beliau mungkin akan pulang malam , soalnya lembur banyak pesanan. Jadi lah Elisa dan Rafa makan malam hanya berdua, tak lupa Elisa menaruh beberapa penjaga di sekitar ibu nya ,mereka menyamar jadi karyawan baru di sana. Namun sejak pagi perasaan Elisa tidak enak, dia terus gelisah entah kenapa, apa karena pengaruh obat, bahkan dia tadi memanggil dokter Arnold yang siap siaga jika di butuhkan, namun setelah di periksa tidak ada apa apa, semua nya stabil dan juga bukan pengaruh obat nya. Dokter Arnold menyarankan Elisa agar lebih rileks dan melakukan meditasi sebentar, dia pun menjalani semua yang di katakan dokter Arnold dengan patuh, namun rasa cemas nya tidak berkurang ,dia terus positif thinking saja.
Dan apa yang selama ini membuat nya cemas, akhirnya terjadi. Elisa melihat kejanggalan dari seorang mandor yang terus menatap ibu nya dan selalu mengamati gerak gerik ibu nya, malam itu ibu nya ingin ke toilet dan entah kenapa ibu nya hanya sendirian ke sana ,padahal biasa nya beliau minta di temani. Dan mandor tersebut mengikuti ibu nya ke toilet, Elisa pun segera bergegas ke pabrik, ibu nya dalam bahaya, dia terus memonitor ibu nya dari layar laptop yang terus dia bawa, seperti nya anak buahnya juga kecolongan. Terlihat mandor itu sedang berusaha membuka pintu toilet tempat ibu nya berada, karena suasana yang bising teriakan ibu nya tidak terdengar.
Elisa menancap gasnya dalam dalam dia tidak peduli dengan bunyi klakson dari pengendara lain nya. Dia benar benar mengemudi dengan ugal ugalan, fokus nya hanya satu yaitu ibu nya, rahang nya mengeras ,kemarahan telah menguasai nya. Setelah sampai di depan pabrik tempat ibu nya bekerja ,dia di datangi satpam yang merasa curiga dengan mobil Elisa yang melaju kencang tadi, dia memperlihatkan rekaman cctv tersebut kepada satpam pabrik.
" Sudah tidak ada waktu, sekarang buka gerbang nya atau aku hancurkan pabrik kalian, dan jangan pernah bermain main dengan ku" kata Elisa mengintimidasi.
" Tenang dulu mbak, saya akan menghubungi atasan saya dulu" kata satpam itu.
__ADS_1
" Tidak ada waktu, aish..." kata Elisa , dia mengambil ponsel nya dan menghubungi Zidan.
" Zidan segera beli pabrik X sekarang juga, jika mereka menolak hancurkan cepat kau hubungi bos nya" perintah Elisa yang membuat satpam terkejut, dan mau tak mau membiarkan Elisa masuk bersama nya menyelamatkan ibu nya Elisa yang akan di lecehkan.
Elisa melajukan mobil nya sampai belakang pabrik, dia turun bersama satpam tersebut, kedatangan nya yang tiba tiba di sana ,membuat beberapa karyawan pabrik menoleh dan memperhatikan nya. Elisa tidak peduli dan dia pun membuka jok belakang yang terdapat semua senjata yang selalu di gunakan nya entah itu selama misi militer maupun ketika berada di mafia nya. Elisa mengambil pedang kesayangan nya dengan cepat, sang satpam hanya melongo melihat semau senjata yang ada di jok belakang mobil Elisa.
Ada seorang kepala produksi yang menghadang langkah Elisa, dia melihat Elisa membawa pedang panjang, menjadi takut ada yang terluka.
" Eh eh siapa yang membiarkan nya masuk, pak satpam kenapa anda malah membiarkan mbak ini masuk ,bawa senjata lagi, cepat usir dia" kata nya kepada pak satpam.
" Minggir jangan halangi jalan ku, atau kau hari ini aku bunuh" kata Elisa garang.
" Tidak ada waktu, jika anda terus saja menghalangiku maka kamulah yang akan bertanggung jawab atas kehormatan seorang perempuan yang di renggut" kata Elisa sambil menatap tajam kepala produksi itu.
" Apa? kenapa aku yang tanggung jawab" kata kepala produksi itu protes.
" Maka nya minggir , aku mau menyelamatkan ibu ku ,minggir" kata Elisa sambil mendorong kepala produksi tersebut.
Elisa terus berjalan menuju ke tempat ibu nya berada, Elisa emosi melihat ibu nya sedang memberontak dari dekapan pria itu, kondisi ibu nya acak acak.an . Semua karyawan pabrik di bagian belakang menghentikan aktivitas mereka dan mengerumuni tempat kejadian.
__ADS_1
" HENTIKAN SEKARANG JUGA ATAU AKU POTONG TANGAN MU" teriak Elisa dengan suara keras nya yang membuat semua orang kaget termasuk mandor itu dan ibu nya.
Elisa telah mengeluarkan pedang dari sarung nya, terlihatlah pedang yang berkilat dan ada noda darah yang telah mengering, dia acungkan pedang nya kepada mandor itu, anak buah yang menyamar pun telah memposisikan diri mereka mengepung mandor itu. Sang mandor ketakutan dan segera melepaskan ibu nya Elisa. Sang ibu langsung berlari ke arah putri nya, di sana beliau langsung di urus oleh teman teman nya. Sementara Elisa dengan kemarahan seorang bos mafia mendekati mandor itu yang kini telah di lumpuhkan oleh anak buah nya sekaligus di hajar sampai babak belur.
" Siapa kamu ,dengan berani nya menyentuhkan tangan kotor mu kepada ibu ku?" tanya Elisa ,sang mandor hanya terdiam sambil menahan sakit di tubuh nya.
" Siapa kamu berani nya mengusik keluargaku hah! kau telah memilih orang yang salah untuk di ganggu" kata Elisa.
" Apa kamu tahu siapa aku sebenar nya ?" tanya Elisa sekali lagi, mandor itu hanya tertunduk lemah dan menggeleng pelan.
" Maka dengar kan ini, mungkin karena ini kota kecil ,kalian tidak tahu siapa aku ,namun jika di antara kalian ada yang masuk ke dunia mafia, pasti kalian akan sangat tahu siapa aku" kata Elisa sambil mengedarkan pandangan nya ke semua karyawan pabrik yang sedang menyaksikan kejadian itu.
" Seperti nya tidak ada, dan kamu apa kamu tahu hukum di dunia mafia? dan apa kamu tahu apa yang akan terjadi kepada siapa saja yang berani mengusik keluarga seorang Elisa?" kata Elisa sambil menjambak rambut laki laki itu agar menatap mata nya.
" Tidak ada seorang pun yang lolos dari pedang ku ini, kamu lihat pedang ku masih berlumur darah, dan hari ini kamu adalah nyawa selanjut nya yang akan aku bunuh, oh tapi aku tidak akan membiarkan kamu mati dengan tenang, kalian bawa orang ini ke markas kita di kota J, dan laksanakan apa yang harus kalian lakukan " kata Elisa sambil melepas dengan kasar jambakan pada rambut laki laki itu ,dan menyuruh anak buah nya membawa laki laki itu ke markas.
" Eh tapi tunggu dulu, ada pertanyaan terakhir yang ingin aku tanyakan, apa kamu di suruh orang atau kau bekerja sendiri ?" tanya Elisa.
Laki laki itu hanya menggeleng tanpa mau bersuara sedikitpun, dia sudah cukup ketakutan dengan tatapan Elisa yang mengintimidasi nya, dia juga takut dengan ancaman Elisa.
__ADS_1