ROMANSA CINTA GADIS MAFIA

ROMANSA CINTA GADIS MAFIA
Kerinduan dan penderitaan


__ADS_3

Elisa mengajak Aditya untuk duduk di taman berdua, setelah mereka sampai Aditya segera memeluk Elisa saking rindunya.


" Kamu kok semakin kurus sih? apa kamu sakit?" tanya Aditya..


" Gimana nggak kurus sejak kamu marah hari itu aku nggak selera makan tau, tanggung jawab pokoknya" kata Elisa.


" Hehehe maap ya lagian kamu kok ngomongnya gitu, aku kan jadi kesal " kata Aditya sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Elisa.


" Ya kan kita sebagai manusia nggak tahu kapan kita akan pergi dari dunia ini, kamu kan juga tahu kehidupan aku bagaimana, seakan kematian selalu dekat dengan ku, aku hanya sekedar tanya ke kamu kan" kata Elisa sendu.


" Ya aku tahu dengan jelas bagaimana kehidupan mu , kita ini sama tapi aku tidak suka ketika kamu ngomong begitu, kehidupan kita memang keras dan kejam namun aku tak mau karena alasan kematian kamu menjadi lemah dan putus asa" kata Aditya sambil menatap Elisa.


" Adit, tangan ku telah kotor , dengan tangan inilah aku membunuh banyak nyawa, dengan tangan ini lah aku dengan kejam dan tanpa perasaan mengambil secuil kehidupan dari seseorang, aku adalah orang yang sangat berdosa mungkin kematianku tidak akan bisa menebus semua dosaku" kata Elisa dan mulai menangis.

__ADS_1


" Syhuuuttt jangan berkata begitu, bukan cuma kamu yang hidupnya berlumuran darah, dan ini bukan salah mu ,ini memang sudah takdir kita hidup dalam kubangan darah , kehidupan lah yang memaksa kita melakukan nya, sudah jangan sedih aku akan selalu ada untuk mu , jangan merasa sendirian, kamu punya aku, kak James ,kak Alex dan ingat kamu punya kakek yang luar biasa, yang menyayangimu dan mencintai mu" kata Aditya sambil mengelus rambut Elisa dan membenamkan kepala Elisa di dada bidangnya ,Elisa menangis sesenggukan, ini adalah yang pertama Elisa menampilkan semua emosinya kepada Aditya.


Ternyata ada yang mendengarkan pembicaraan mereka, ya siapa lagi kalau bukan sang kakek dan kedua kakak Elisa yang membuntuti dan menguping pembicaraan mereka.


Deg....


Jantung kakek Brawijaya berdetak kencang tatkala mendengar Elisa berbicara soal tangan nya yang kotor berlumur darah karena terlalu banyak membunuh orang, kakek Elisa merasa bersalah karena dirinya lah Elisa harus memjalani takdir kehidupan yang penuh kekejaman. Air mata kakek Brawijaya pun tumpah ,dadanya sesak mendengar keluh kesah penderitaan cucunya yang selama ini dia tutupi dengan senyuman dan tawa , ternyata semua itu hanya topeng. Dan hari ini karena Aditya , sang kakek akhirnya mendengar apa yang selama ini cucunya pendam sendiri. Kakek berjalan ke arah Elisa dan Aditya yang membuat mereka terkejut karena kedatangan nya yang tiba tiba.


Mereka langsung melepaskan pelukan mereka dengan cepat.


Tanpa kata kata kakek Brawijaya langsung membawa Elisa ke dalam pelukanya. Sang kakek menangis dan memeluk erat cucunya sangat lama.


" Kakek ada apa?" tanya Elisa di dekapan kakeknya.

__ADS_1


" Maaf kan kakek cucu ku, andai saja kamu bukan cucu ku ,kamu akan punya kehidupan yang normal layaknya gadis gadis seumuran mu" kata kakek.


" Kenapa kakek ngomong gitu? aku bahagia kok jadi cucu kakek, apa kakek nyesel punya cucu kaya Elisa" kata Elisa.


" Sama sekali tidak nak, kakek bangga punya cucu yang sangat istimewa , kakek hanya merasa bersalah karena kakek kamu banyak menderita" kata kakek.


" Mungkin ini udah takdir Elisa , Elisa rela kok menjalaninya kan ada kalian yang selalu ada untuk Elisa" kata Elisa sambil tersenyum.


" Sungguh kamu adalah gadis yang sangat kuat nak, kakek sangat beruntung tuhan mengirimkan kamu ke keluarga kakek" kata kakek.


" Sudahlah kek , yuk kita masuk sebentar lagi gelap, oh iya lepaskan dulu pelukan nya kek ,,Elisa engap nih" kata Elisa.


Kakek Brawijaya tersadar dan langsung melepas pelukanya. Mereka semua kemudian masuk ke dalam mansion karena haru semakin gelap, kakek Brawijaya meminta Aditya untuk ikut makan malam bersama. Dan Aditya menyanggupinya, dia diantar kepala pelayan ke kamar tamu untuk mandi dan berganti pakaian karena Aditya masih menggunakan baju kantor. Aditya kemudian menyusul Elisa yang duduk di balkon lantai 2, di sana mereka berdua ngobrol di temani secangkir teh dan kopi beserta beberapa camilan sambil menunggu waktu makan malam.

__ADS_1


Bersambung..........


__ADS_2