
Mas Pras POV
"Razka. Bangun Nak!" Pekikan itu berasal dari arah dapur.
Setiap pagi, di kala membuka mata tak ada yang namanya kata sepi di rumah ini. Anggota baru yang bertambah, makin menambah pula serentetan pekerjaan yang kalau kuperhatikan dari mulai mata terbuka hingga saat tiba waktunya terpejam. Ada saja yang dilakukan oleh istriku. Yang dari mengurus keperluan anak-anak juga tak pernah ketinggalan dengan apa yang menjadi kebutuhanku.
Seringnya aku geleng kepala tiap kali menyaksikan kegiatannya yang berjibaku dengan pekerjaan rumah tangga. Seperti halnya pagi ini, anggota keluarga kami telah berada di meja makan. Sedangkan Anna sendiri tengah sibuk mengatur bekal makanan yang hendak kami bawa untuk pergi liburan.
"Razka cepat makanannya di habiskan. Kenapa wajahnya cemberut begitu?"
Anna yang baru saja mendudukan diri di kursi sebelahku, langsung menyoroti sikap Razka yang duduk tepat di hadapannya.
Tak menanggapi, Razka masih menunjukkan raut wajah kesal dengan terpaksa memegang kembali sendok dan memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Anna menghela kemudian memulai mengambil makanannya. Tapi tak berselang Anna kembali mengeluarkan suara, "Razka makannya hati-hati, nanti bajumu kotor."
Berdecak Anna bangkit. Mengambil beberapa lembar tisu lalu mengelap wajah Razka yang belepotan juga pakaiannya yang tak sengaja terdapat bekas sisa makanan yang menempel.
__ADS_1
"Razka gak suka pakai baju ini Ma!" gerutu Razka mengomentari pakaiannya.
"Kenapa, baju yang Razka pakai itu bagus. Adik-adik Razka aja suka. Ya kan sayang?" sahut Anna yang justru meminta pendapat pada kedua adik Razka.
Anggota keluarga kami telah bertambah lagi, tepatnya kami sekarang telah memiliki dua putra dan dua putri. Usai Anna melahirkan anak ke tiga dengan penuh perjuangan karena bayi kami harus terlahir secara prematur, dan di tahun berikutnya justru kami mendapat kabar yang cukup mengejutkan sebab dokter menyatakan bahwa Anna hamil lagi.
Entah harus senang atau sebaliknya, rasa takut dalam hatiku ketika Anna menghadapi masa persalinan, seolah ingatan-ingatan kesakitan itu selalu terngiang di dalam benakku.
Aku juga tak bisa marah ketika dia mengaku selalu teledor dan lupa memakai alat kontrasepsi saat setelah kami melakukan hubungan badan.
Namun kembali lagi aku berfikir bahwa Tuhan menitipkan kepercayaan lagi untuk kami. Hingga setelah lahirnya anak kami yang ke empat dan diberi nama Andrea Putri Prasetyo, tanpa berfikir dua kali aku mengatakan kepada dokter bahwa Anna harus segera dilakukan tindakan sterilisasi.
Memang itu adalah kodrat dari seorang wanita, tapi aku sebagai lelaki juga memiliki andil sebagaimana kodratku sebagai pemimpin yang wajib untuk melindunginya.
Pun aku bersyukur dengan diberi sosok istri layaknya Anna. Tulang rusukku yang sebagaimana bila orang-orang menyebutkan bahwa tulang rusuk mempunyai sifat yang bengkok. Apabila seseorang yang telah memilikinya dan berniat untuk meluruskannya, maka tindakan yang dilakukan hanyalah sia-sia belaka.
Seperti halnya kesalahan yang dilakukannya dahulu, aku selalu berfikir bahwa manusia tak ada yang diciptakan sempurna. Bisa jadi Anna lah ujian yang Tuhan beri untukku, dan aku selalu meyakini ujian yang Tuhan beri tak akan melebihi pada batas kemampuan tiap umatnya.
__ADS_1
Mendapat balasan akan rasa yang kumiliki padanya saja rasanya itu sudah lebih dari cukup. Tapi aku justru mendapatkan hal lebih. Empat buah cinta kami lah hal yang paling membuatku tak hentinya untuk bersyukur.
"Tuh lihat, Kakak aja cantik banget," ucap Anna memuji yang mengarahkan sorot matanya pada putri pertama kami, Aqila. Baru saja dia keluar dari kamar, wajahnya nampak cantik dan mirip dengan Mamanya.
"Dea juga antik Mama," ucap putri kecil kami yang tak mau kalah.
"Iya dong putri Mama kan cantik-cantik kayak Mamanya," sahut Anna memcubit gemas pipi Andrea. "Kak Akhtar juga, gak kalah ganteng kayak Papa dan Kak Razka," sambung Anna yang kali ini memuji putra ke tiga kami.
Sifatnya yang sedikit pendiam dan lebih mengalah bila dibanding dari yang lain membuatnya tak terlalu banyak bicara. Sedangkan Kakaknya Razka dia jauh lebih impresif, dia akan dengan mudah mengutarakan apa yang tengah dia rasakan pada saat itu juga.
"Kalau sarapannya sudah selesai, sekarang kita bisa langsung bersiap," ucapku dan anak-anak pun berseru mengiyakan.
"Tunggu Mas, kita ambil foto dulu sebelum berangkat," ucap Anna cepat-cepat. Aku yang menoleh padanya sontak membuatnya berdecak. "Mumpung anak-anak masih pakai baju rapi, nanti kalau setibanya di pantai aku gak yakin sudah sekacau apa penampilan mereka," sambungnya menampilkan wajah masam.
Sudut bibirku berkedut melihat Anna dengan sikap yang seperti ini. Tanganku pun terulur mengelus puncak kepalanya lalu mengambil alih ponsel yang dia bawa, kemudian aku memberi aba-aba, "Ayo bersiap dan lihat ke arah kamera."
__ADS_1
Terimakasih teman-teman atas dukungannya yang selalu menyimak cerita Ruang Rindu hingga tiba di episode akhir. Maaf bila banyak sekali kekurangan, dan sampai jumpa di ceritaku yang lainnya.