
Rasta memilih untuk sarapan dulu karena perutnya sangatlah, dia menikmati makanan yang sudah dimasak oleh Mamanya, masakan sang Mama memang sangat lezat dan membuatnya selalu ingin menambah nasi padahal nasi hanya satu piring.
Dia menerima segalanya dengan ikhlas.
Rasta hanya makan secukupnya lalu meminum segelas air putih, setelah itu dia menelpon Erin.
"Rin, aku akan ke rumahmu, kau tidak pergi kan?" tanya Rasta.
"Hm, apakah kau sedang bercanda? aku selalu di sini, dan selalu di rumah ketika sabtu dan minggu. Kau tidak perlu sok berpura-pura lupa, kau ada janji padaku untuk membuat rindu jalan-jalan!"
"Haha, aku menelpon kau hanya untuk itu memang, apa kau lupa jika aku kalah kemarin. Aku akan tancap gas menuju rumahmu!"
"Jangan lupa mandi dulu, kau itu tampan tetapi suka lupa mandi!"
"Haha, kenapa kau selalu mengingatkan tentang hal itu, siap! aku akan mandi dan on the way rumahmu."
"Ya, itu lebih baik."
Sang pria membiarkan piring, dan sendok berada di meja, dia biasanya mencuci itu semua tetapi sedang malas.
Dia hanya ingat ingin jalan-jalan dengan Rindu.
Saking semangatnya, dia bahkan sampai tersandung kursi.
"Astaga! ih kenapa kursi ada di sini!"
Rasta bahkan menyalahkan kursi yang sudah beberapa tahun lalu memang ada di situ.
Dia seberapa bangkit dan berjalan menuju kamarnya.
.
.
__ADS_1
.
Beberapa menit kemudian ...
Kamar Rasta ...
"Aku sudah siap, aku sangat tampan memang. Erin tidak salah pilih, aku akan mendapatkan simpati dari Rindu, aku ingin mengetes dia, apakah akan menceritakan permasalahannya dengan semua laki-laki? atau hanya dengan Rasta seorang! haha, aku sangat percaya diri!"
Rasta masih berada di depan sampaikan membanggakan dirinya sendiri, bahkan lupa jelas sudah jam 10.00.
Erin menelpon berulang-ulang tapi tidak ada jawaban.
Hingga Rasta menyadari bahwa penggilan itu, lalu menjawabnya.
"Halo Erin!"
"Halo apaan, cepat ke rumahku karena sudah lewat jam 10.00!"
"Haha, maaf Rin. Oke, aku on the way.
Kebiasaan sekali pria ini, dia menjanjikan sesuatu pasti lupa.
Sang pria lalu keluar dari kamar.
Dia kunci mobil yang ada di rak kecil dekat dengan televisi, dia tidak menemukannya.
Seluruh ruang tamu sudah di jelajah tetapi tidak ada kunci mobilnya.
Saat sang pria kembali mencari, menemukan kertas lagi.
"Mobilmu Papa bawa, kau pakai mobil Papa."
Si pria kembali kesal karena kedua orang tuanya sungguh keterlaluan.
__ADS_1
"Astaga Papa! mobil Papa kan kotor, dia baru saja datang ke proyek, aku tidak menyangka Papa sangat jorok! dia tidak segera mencuci mobilnya!"
Sang pria mengira bahwa mobil sang Papa tidak layak pakai, dia pasrah dengan apa yang terjadi.
Rasta masih bisa bersabar dan akan mencuci mobil dulu, dia akan datang ke bengkel temannya.
Langkahnya cukup gontai, dia keluar dari rumah, tak lupa mengunci pintu utama.
Dia berjalan menuju garasi, tak disangka di sana ada penampakan mobil klasik yang sangat bersih.
"Haha, penyakit Papa pandai nge-prank."
Rasta sangat gembira karena dia bisa menggunakan mobil yang sangat bagus milik sang Papa.
Segera saja dia naik mobil, lalu perlahan pergi meninggalkan rumahnya untuk menuju rumah Erin.
.
.
.
Sepanjang perjalanan dia mendapatkan teror pesan chat dan panggilan telepon dari Erin, dia sadar akan kesalahannya.
Namun, mau bagaimana lagi dia?
Bersabar adalah kuncinya.
"Aku sebenarnya tidak mau telat tapi mobil tidak ada, maaf Rin, aku sudah setengah jalan, kau tunggu sebentar ya!"
Rasta mengirimkan pesan suara, lalu meletakkan ponsel di atas dashboard mobil.
*****
__ADS_1