Ruang Rindu

Ruang Rindu
Pertandingan sesungguhnya.


__ADS_3

Kini dua orang itu telah melakukan perlombaan dengan sangat luar biasa.


Stand Rasti begitu cepat memasak, sedangkan di stand Rasta, cukup lama memasak karena ada beberapa kendala.


Sedangkan Erin hanya menyemangati Rasti saja, ini sangat menyebalkan.


"Heh, Rin. Aku juga temanmu, kenapa kau lebih memilih membela dia?"


Rasta kesal, dia tidak percaya jika seorang Erin ternyata tidak berada di pihaknya.


"Aku merasa kau menjadi seorang penjahat karena satu hal, yaitu lebih memihak gadis galak itu," ucap Rasta penuh emosi.


"Ye syirik aja ya? bilang aja kau merasa tersaingi," jelas sang gadis.


Dia memang dari dulu tidak mau kalah.


Hingga perlombaan kembali di lanjutkan.


.


.


.


Waktu penjurian ...


Erin dan Restu terlihat bergaya seperti orang yang profesional dalam penjurian.


Mereka mengenakan topi koki serta baju koki, khusus untuk Restu, hanya memakai kemeja putih dan topi dari kertas.


"Wah kalian berdua sudah seperti dua orang yang sudah sangat jago memasak," ucap Rasta.


"Memang kami sangat jago kak," jawab sang adik.

__ADS_1


"Ih, anak kecil sok banget."


Hampir saja Rasta menjewer telinga adiknya, tetapi langsung dicegah oleh Erin.


"Heh! sudah tua harus mengalah dengan anak kecil. Aku mau tahu, rasanya bagaimana nasih goreng ini. Namanya apa?" tanya Erin.


Dia malas untuk berkelahi dengan seorang sahabat yang tidak tahu diri seperti Rasta.


Harusnya dia marah dengan Rasta karena telah membuat Rindu menjadi semakin kesal, padahal kan fokusnya ingin membuat Rindu menjadi lebih baik.


Pada kenyataannya tidak seperti itu.


Rasta menjadikan semuanya tidak kondusif.


.


.


.


Erin memberikan penilaian khusus untuk keduanya.


Lidahnya memang tidak akan salah.


Erin menikmati dua sendok nasi goreng milik Rasta.


"Ras, aku tidak pernah mengetahui kau memiliki satu hal yang bisa di banggakan," cetus Erin.


"Ras itu apa?" tanya Erin.


Gadis itu tidak tahu jika Rasta sedang menyamar menjadi Bagas.


"Bukan Ras, tapi Bagas!" bisik Restu.

__ADS_1


"Oh, ternyata dia memiliki rencana yang lebih bagus dariku, okelah."


Erin mulai melanjutkan perannya yang sangat luar biasa itu. Dia akan memanggil Rasta dengan nama Bagas.


"Bagas, nasi goreng yang kau buat terlihat sangat enak dan begitu sedap. Apakah boleh di coba," tanya Erin.


"Ya, coba saja. Itu kan memang tugasmu untuk icip-icip," jawab Rasta.


Erin menyendok nasi goreng itu lalu menyantapnya.


"Wah ada cabe, sensasinya membakar. Pete juga ada. Wah tak ku sangka kau mengambil Pete itu, katanya tak suka?" cetus Erin menggoda Rasta.


"Heh, juri tengil, tidak ada kerjaan. Kau menyiapkan sendiri ada pete di meja, ya aku masak lah ya. Tinggal campur apa susahnya," ujar Rasta yang merasa kesal.


Rindu menhan tawa ketika Rasta dan Erin terlibat perbincangan yang cukup intens karena satu hal, yaitu pete.


"Suka-suka juri, ayo coba asisten juri, tuan muda Restu," pinta Erin.


Dia mempersilahkan Restu seperti seorang anak raja saja.


"Baik bunda ratu Erin, aku akan menikmati dengan senang hati," jawab Restu sok dewasa.


Restu juga menyendok nasi goreng itu, setelahnya memasukkan ke dalam mulut.


"Wah, kakak ini sangat enak, cabe dan pete adalah perpaduan yang sangat lezat!"


Sang adik yang notabene suka cabe dan pete tak henti makan nasi goreng itu, dia seperti doyan.


Rasta merasa senang karena dia pasti akan menjadi pemenang, mengingat sang adik menyukai masakannya.


"Adikku memiliki selera yang cukup bagus tentang masakan, dia jarang berbohong. Aku adalah pemenang yang sesungguhnya," batin Rasta penuh dengan kemenangan.


*****

__ADS_1


__ADS_2