Ruang Rindu

Ruang Rindu
Satu tahun kemudian ...


__ADS_3

Luar negeri ...


Kota kecil X ...


Seorang wanita yang baru saja lulus dari universitas satu tahun yang lalu, mulai bekerja di sebuah kantor di kota itu.


Meski tak berada di kota besar, dia cukup bahagia.


Tak terasa sudah satu tahun saja dia tinggal di sana, di luar negeri yang jauh dari nama Rasta.


Sang gadis tak bisa membayangkan kehidupan tanpa Rasta, tapi dia bisa melakukannya.


Pagi ini, Rindu akan on the way ke kantor.


Sang nenek begitu bersemangat untuk menanam cabe di kebunnya.


"Nek, bukannya kemarin sudah menanam cabe? kenapa cabe lagi?" tanya sang cucu.


"Oh iya, tapi nenek memang suka cabe, jadi aku sangat ingin menanamnya di kebun belakang rumah," jelas sang nenek sambil membawa semua perlengkapan mengenai berkebun.


Sang gadis tak bisa membantu, jadi dia mencoba untuk memberikan opsi, cucu kesayangannya akan membantu nanti waktu pulang kerja.

__ADS_1


Sang nenek mau, dia meminta sang gadis untuk pergi dari rumahnya, jika telat, cucu kesayangannya akan mendapatkan masalah.


"Nek, aku pergi dulu," ucap cucunya.


"Oke sayang, nenek ke kebun dulu ya? semoga pria itu segera melamar!"


"Nenek, tak ada acara semacam itu, aku dan Adnan hanya rekan bisnis," jelas Rindu yang merasa tak memiliki perasaan apapun.


Sang bos adalah pria yang baik dari keluarga yang terhormat.


Dia hanya seorang gadis biasa saja, tinggal dengan nenek di rumah yang sederhana, ini adalah tolak ukurnya.


Tiba-tiba terdengar suara pelaksanaan Itu sudah pasti adalah mobil milik sang bos.


"Itu, kekasihmu sudah datang, bye! selamat bekerja dan selamat mencari jodoh!"


Sang nenek memang sangat senang menggoda cucunya yang masih teringat kepada Rasta.


Sang nenek paham akan hal ini, meski usianya sudah 70 tahun, setidaknya sang putra masih bisa memberikan info yang dipahami oleh sang nenek.


Kini sang nenek sudah pergi dari hadapan Rindu, dia menutup pintu rumahnya dengan rapat lalu berjalan menuju belakang rumah.

__ADS_1


Setelah itu, giliran Rindu yang harus menemui bos Adnan.


Langkahnya terlihat malas, tapi memang dia harus bertemu dengan Adnan.


Kini dia dan sang bos sudah saling berhadapan.


Sang pria memang sengaja keluar dari mobil agar bisa melihat wajah cantik Rindu yang mengenakan baju kantor warna biru tua dengan rambut yang ditata rapi.


"Kau sudah siap untuk menemaniku untuk jamuan makan bersama kolega?" tanya bos Adnan.


"Ha? kapan bos mengatakan ini? bahkan agenda kita adalah pergi ke luar kota?" tanya Rindu merasa ada yang aneh dengan perubahan jadwal dan tidak ia ketahui.


"Haha, aku baru saja mengatakannya, apakah kau tidak mendengar? aku datang kemari pagi-pagi untuk menjemputmu sebab ada beberapa beberapa yang ingin bertemu denganku. Mereka juga membawa sekretaris masing-masing, ada hal penting yang ingin disampaikan oleh mereka mengenai kerjasama yang sudah terjalin sama satu tahun ini. Mereka juga mengapresiasi seorang karyawan baru yang memiliki skill bagus seperti dirimu. Kau akan mendapatkan penghargaan dari mereka!" jelas bos Adnan memberikan informasi yang ada selalu mendadak.


Ini membuat seorang Rindu belum memiliki persiapan yang jelas.


"Hah? apa ini bos? aku hanya mengenakan baju kantor biasa tetapi bos sudah memberikan informasi yang sangat penting?"


Rindu tak bisa membayangkan jika dia akan diledek di sana.


*****

__ADS_1


__ADS_2