
Ayah Rindu mengatakan bahwa seorang Rasta adalah pria yang gigih dalam memperjuangkan seorang gadis, hingga dia yakin, Rindu akan terkesan dengan apa yang dilakukan oleh Rasta.
“Oh, oke. Aku akan melihat kegigihannya. Ayah, maafkan aku karena sudah menyalahkan ayah. Aku yakin sulit bagi ayah bertahan dengan ibu yang suka pergi malam dan tak bisa diam di rumah, namun aku merasa dia seperti aku yang suka pergi ketika banyak masalah, bedanya aku hanya pergi ke rumah Erin.”
“Haha, ya kau sedikit mirip dengam ibumu. Ibumu itu masih sangat kecil ketika kami menikah, mungkin kami labil, dan puncaknya waktu itu. Maaf ya? tapi kau tenang saja karena kami sudah berdamai,” jelas sang ayah yang merasa bahwa tak ada masalah lagi dengan mantan istrinya.
“Iya yah, aku malas pulang ke rumah sebab ada suami ibu yang baru, sepertinya masih muda. Aku tak suka dengan model pria seperti itu. Ayah, aku tinggal di rumah nenek saja ya?” pinta sang putri.
“Kau mau pergi ke luar negeri? jangan sayang, Rasta akan hancur, hehe.”
“Aku tidak peduli ayah, aku sudah sakit hati dengannya, kenapa dia sama seperti pria lain.”
“Sudahlah sayang, kalau jodoh tidak akan kemana, kau ingin ke rumah nenek? ayah akan pesankan tiket,” ucap sang ayah yang langsung membeli tiket via online.
Beberapa menit kemudian …
“Ayah sudah pesankan untukmu, hari ini pukul 07.00, satu jam lagi kau bisa pergi.”
“Ayah, kau maasih sangat baik, maaf aku telah menyakiti hatimu.”
__ADS_1
“Ya tak masalah.”
.
.
.
Halte bis dekat kampus …
“Aku tidak bawa uang, mana bisa naik bis. Uangku yang hanya beberapa sudah habis aku gunakan menghubungi ayah lewat telepon umum. arggggg!”
“Heh batu, kenapa kau ada di sini?aku sudah menghubungimu tapi tak ada balasan. Aku tidak bisa menjadi orang yang akan menjadi pasangan pura-puramu, ada urusan yang ada di luar.”
Sang gadis ternyata tak bisa datang, kebetulan sekali bertemu dengan seorang Rasta di sana.
“Terserah kau saja, aku sudah hancur untuk saat ini!”
Rasta bahkan tak memandang wajah manisan.
__ADS_1
Hingga si manis harus duduk di sampingnya dan memberikan semangat.
“Aku bisa membantumu, kau mau kemana batu?” tanya sang gadis.
“Aku mau ke rumah Erin, antar aku manisan!” ucap Rasta penuh harap.
“Iya, aku akan mengantarmu. Kau tidak perlu merasa sedih, jika kau bisa mendapatkan gadis manis selain aku, aku ikhlas namun gadis itu pasti kadar manisnya tak sama denganku.”
“Banyak bicara, mana mobilmu. Aku ingin ke rumah Erin bukan untuk mendengarkan ceramahmu.”
“Ya, siap! tapi ceritakan dulu seperti apa gadismu itu!”
Hingga satu hal yang tidak bisa di hindari Rasta, ada seorang gadis yang merasa sangat kecewa ketika harus melihat Rasta berada dekat dengan gadis yang terlihat seperti model.
“Ayah, kenapa kita harus lewat sini?” ucap Rindu yang memilih untuk tutup mulut akan penglihatan mengenai Rasta yang sedang bersama seorang gadis yang tidak dia kenal.
Kebetulan sang ayah tak melihat itu, jadi dia hanya mengatakan hal yang umum saja.
"Jalan utama macet nak, ayah tak bisa lewat," jawab sang ayah.
__ADS_1
*****