Ruang Rindu

Ruang Rindu
Wartawan


__ADS_3

Lima belas menit kemudian, rombongan yang membawa ketiga gadis tiba. Rupanya mereka masih belum sadar, Rio yang memang menunggu kedatangan mereka menjadi lebih curiga kalau ketiga gadis itu harusnya sudah sadar.


Ais yang berada di sampingnya tampak syok melihat pemandangan itu, berbeda dengan Rio yang cengar cengir melihat ketiga gadis itu di gotong dengan susah payah.


"STOP!"


Ais mengambil paksa ponsel laki-laki yang sedang merekam ketiga gadis dengan tampang mencurigakan, Ais audah melihatnya dari awal ke Rumah sakit tadi.


Tadi belum ada kesempatan dan perkiraannya belum tentu benar, tapi sekarang sudah jelas dia merekam demi keuntungan pribadi dan merugikan orang lain.


Bagaimana kalau sampai ketiga gadis terekam dalam posisi tak senonoh, atau bajunya terbuka?


"Kembalikan!" teriak laki-laki berambut pirang itu marah.


Rio kemudian mendekat mendengar keributan yang terjadi, satu polisi juga ikut mendekat.


"Simpan ponselmu dan jangan merekam saat kondisi seperti ini, bayangkan jika itu adalah keluargamu! apakah kamu akan terima jika keluargamu terkena musibah dan di rekam?"


Ais membalik tubuhnya setelah memberikan ponsel itu pada seorang laki-laki yang sekarang tengah terdiam, tak tahu apakah karena marah ? atau karena memikirkan apa yang dikatakan Ais.


Lengan Rio ikut ditarik menjauh oleh Ais, membiarkan polisi itu membereskan tindakan tak seharusnya.

__ADS_1


"Kamu hebat." Rio mengacungkan jempolnya ketika mereka sampai di ruang operasi, Ais hanya mesem.


"Terimakasih."


Mereka duduk di kursi tunggu di dekat ruang operasi, Rey masih belum duduk semenjak mereka tiba disana.


Rio semakin yakin untuk meninggalkan perasaannya pada Senja, melihat begitu besarnya cinta dari seorang Rey.


Di sebelah Rey, ada Kakaknya Bryan yang juga berdiri menunggu, mereka tak saling sapa atau saling pandang.


Rio mengerti sebenci apa Rey pada Bryan yang telah menyeret Senja dalam urusan pribadi keluarganya, terseret dendam Mawar yang membara dan membayakan.


Rio tak enak sendiri melihat pemandangan ganjil, sangat canggung. Rio kemudian memalingkan pandangannya dan mengobrol dengan Ais tentang laki-laki tadi.


Rey memperlihatkan sikap sopannya, menunduk sebentar dan mengangguk.


"Iya Om, terimakasih." Jawab Rey kemudian, wajahnya pucat, tegang dan terlihat sangat letih.


"Baiklah kalau begitu, jangan lupa terus berdoa dalam hati untuk keselamatan Senja."


"Iya Om, sekali lagi terimakasih."

__ADS_1


Sebelum pergi Om Hendra menatap jijik kepada Bryan anaknya sendiri, setelah mengetahui semua kebenaran dan sumber masalahnya, membuat Om Hendra sangat kecewa. Apalagi dengan tindakan Bryan yang tidak bersikap baik dengan Senja, malah sengaja memberinya rasa sakit dengan kehadiran Mawar dalam rumah tangga mereka.


"SENJA! Senja, Senja!" Seorang perempuan paruh baya berlari sambil terus berteriak-teriak memanggil nama Senja.


Om Hendra yang berniat pergi langsung membalik badan dan mencegat Ibu itu.


"Ibu tenang, tenang Bu. Istigfar, tarik nafas dan keluarkan perlahan.


"Dimana anak saya, dimana!" teriaknya histeris, air matanya berlinang membasahi pipinya yang mulai keriput.


Ais dan Rio segera menghampiri, juga Rey.


Ais langsung memeluk Ibu itu, menenangkannya, memberi tahu kebenaran yang amat pahit di telinga Ibu itu dengan suara pelan sekali.


"Ibu tenang ya, do'akan Senja baik-baik saja. Senja sedang dioperasi karena tertembak."


Setelah membisikkan itu, Ais merasa berat dan Ibu itu merosot jatuh.


"Ibu Senja pingsan!" teriak Rio panik, memanggil Suster yang kebetulan lewat.


"Sus, tolong. Bantu kami!"

__ADS_1


Suster itu mengarahkan Rio dan Reyyang menggotong Ibu Senja ke sebuah ruangan yang kebetulan juga sedang kosong, dekat dengan ruangan operasi.


"Bagaimana Sus?" tanya Om Hendra setelah Suster itu memeriksa manual sebentar.


__ADS_2