Ruang Rindu

Ruang Rindu
Episode 67


__ADS_3

"Bawaan bayi," begitulah ucap dokter Dewi saat menyebutkan kondisiku saat ini.


Makin bertambah hari nafsu makanku menurun. Aku hanya mau makan kala Mas Pras berada di sampingku, selebihnya nafsu makanku akan hilang jika dia tak berada di rumah.


Berulang kali dirinya geram menyikapiku hingga mengomel karena jengkel melihat kondisi tubuhku yang tak kunjung membaik. Tapi aku bisa apa? Inikan bukan kemauanku, tapi bawaan bayi dalam perutku yang menuntut minta diperhatikan olehnya.


Ah, tapi beda dengan kata hati dan juga isi pikiranku yang selalu mempertanyakan apa yang ada dalam hatinya hingga aku bertahan begitu lama disini. Kalau memang diriku hanya untuk pelarian semata, kenapa dirinya begitu baik memperlakukanku.


Seperti halnya pagi ini, sebelum berangkat bekerja dia akan menyempatkan diri menemaniku makan. Bukan di meja makan, melainkan di atas kasur karena kondisiku yang lemah.


"Kalau kamu terus saja sulit makan, berat badanmu akan semakin turun. Sekarang satu suapan lagi?" bujuk Mas Pras mengarahkan sendok menyuapiku.


"Dari tadi satu kali terus," gerutuku namun masih membuka mulut menerima suapannya.


Mas Pras menghela napasnya. "Lihat tubuh kamu, kian hari kurus," ucapnya yang nampak prihatin.

__ADS_1


Aku cuma diam kala Mas Pras memberi komentar padaku karena aku berfikir itu tandanya dia masih peduli meski beberapa hari yang lalu dia bilang waktu kami tinggal dua bulan lagi.


"Anna kenapa menangis?" ucapnya dan dengan segera aku memalingkan wajahku, menyembunyikan air mata yang mengalir tanpa permisi.


"Apa karena Mas terlalu banyak berkomentar?"


Aku menggeleng.


"Lalu apa karena Mas masih berada disini?"


Sungguh bukan itu, dan serta merta kini aku menoleh padanya. Menatapnya dengan mata yang masih berkaca dan mengatakan, "Kenapa Mas begitu baik?"


Aku tersenyum tipis. "Apa itu semua karena permintaan Papa?"


Mas Pras menatapku dengan kening berkerut. "Apa yang kamu bicarakan. Mas hanya melakukan tugas sebagaimana seorang suami pada istrinya."

__ADS_1


"Jika saja Papa gak menyuruh Mas buat nikahin aku, kita mungkin gak akan bersama," kataku lalu menunduk.


Sunyi, karena Mas Pras tak mengucapkan sepatah kata pun, hingga membuatku mulai sedikit penasaran dengannya. Lalu kudongakan wajahku demi menatapnya yang nyatanya dirinya juga tengah menatapku dengan sorot mata sendu. Dia mengangguk dan berucap, "Mas janji, gak lama lagi kamu bisa bebas menentukan pilihanmu."


Nafasku tercekat sebab ucapannya yang serasa menghantam tepat di ulu hatiku. Tanpa berkata lagi kini dirinya bangkit meletakkan piring makananku di atas nakas dan mengambil beberapa vitamin untuk diberikan padaku.


"Hanya ini yang bisa Mas lakukan. Kamu juga bayi dalam kandunganmu harus sehat," ucapnya saat aku menelan beberapa vitamin pemberiannya.


Sementara dirinya mulai merapikan alat makanku dengan aku yang masih saja menatap tiap pergerakan tubuhnya hingga langkahnya yang makin menjauh dan sebelum pintu tertutup Mas Pras juga sempat berucap pamit padaku. Hingga setelahnya yang terjadi adalah aku malah menangis sejadi-jadinya.


Semua seolah bercampur aduk jadi satu, keinginan untuk berpisah sudah kian dekat tapi perasaan macam apa ini yang tiba-tiba saja melesak masuk menguasai hatiku ini.


Aku merasakan rasa tak rela, apa aku gila? Kini aku menangis dan tertawa secara bersamaan, lalu mataku merosot turun dan kupandangi perutku yang sudah makin membuncit.


Dalam tangisku aku mulai mengelusi perutku seraya bergumam, "Apa yang harus Mama lakukan?"

__ADS_1


Yoookkk yang mau episode lebihhhhh


jangan lupa jempolin, komentarin juga di Votinnnnn


__ADS_2