
Merry gemetaran, secara dia adalah anak manja yang kerjanya shoping. Tak pernah mengalami hal-hal seseram atau semenakutkan saat ini.
Orang itu keluar, Merry segera bersembunyi di balik patung harimau. Merry mengintip sedikit, menyalahkan kamera pinselnya dan mulai merekam.
Ide itu tiba-tiba muncul, apalagi Ia sempat melihat siaran langsung kemarin. Dia adalah selebgram, ada ratusan ribu pengikut di akunnya. Wajahnya yang cantik, kaya dan glamor menjadikannya idola banyak orang.
Ia memulai siaran langsung, Ia tak mungkin bisa melawan penjahat dengan kuku-kukunya yang cantik, Ia malah takut patah.
Ia mengintip sedikit, samar-samar Ia melihat sosok perempuan yang mirip dengan Merry, Ia yakin itu adiknya Merry.
Ruangan itu terlalu terbuka, tak ada celah lagi untuk bersembunyi, orang itu pasti menemukannya sebentar lagi.
Suara langka kaki itu semakin mendekat, jantung Merry seperti di pompa begitu cepat. Ia terus mengayunkan panselnya,
"Sial, tak ada sinyal," gumamnya.
Merry tak akan mengira Ia akan berada pada posisi yang sulit, bahkan Ia hanya sendirian. Steven tak mau mempercayai atau mengikuti saran dan ajakannya.
Merry mulai pasrah, Ia akan ketahuan dan Ia tak akan tahu Ia akan hidup atau mati. Ia bersandar dengan ekspresi pasrah, matanya terus menatap ponselnya yang terus berputar-putar, tanda tak ada sinyal.
Lima langkah lagi jarak Merry dan orang itu,
BRUKK!!
__ADS_1
Tiba-tiba ada suara gedebuk dari ruangan dimana orang itu tadi keluar, orang itu segera berbalik, kembali ke ruangan tadi.
Merry menghela nafas lega, akhirnya Ia tidak ketahuan.
"LEPASKAN!!" teriak seseorang marah di balik ruangan, Merry langsung terperanjat kaget. Ia kenal suara itu, itu suara Senja.
Merry segera berdiri, mengendap-endap menuju ruangan yang terdengar ada suara Senja.
Ruangan itu hanya berjarak 20 meter dari tempatnya bersembunyi, Ia mengendap hati-hati tanpa menimbulkan suara sekecil apapun.
Akhirnya Ia sampai di depan pintu ruangan yang terbuka sedikit, pintu itu sudah bolong-bolong dan lapuk. Sehingga Ia dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di dalam.
Merry seketika membungkam mulutnya, Senja terikat dan terjatuh di lantai bersama dengan tali yang mengikatnya. Ia melihat jelas perjuangan Senja melepaskan diri.
"Apa! lepaskan, jangan mimpi. Aku tak akan membiarkanmu keluar hidup-hidup."
Mawar dan adiknya langsung tertawa besar, menertawakan Senja yang merintih kesakitan, dengan ekspresi marah.
"Oke, kalian boleh bunuh aku! tapi lepaskan Steven."
Merry segera mengarahkan kameranya ke arah ruangan, kebetulan sinyal sudah ada. Sedangkan Mawar dan Melati tertawa besar lagi.
Merry mulai sibuk membalas berbagai komentar yang masuk, followernya yang banyak memudahkannya menyebarkan sesuatu lebih cepat.
__ADS_1
"Situasi berbahaya, tolong share sebanyak-banyaknya agar polisi tahu."
Setelah mengetik balasan dan share lokasi, Merry kembali menatap ke dalam ruangan. Ia menyipitkan matanya, mengarahkan ke ujung ruangan dan betapa Ia terkejut ada anak kecil disana.
"Itu tak akan terjadi, kau harus membayar sakit hati kakakku," sahut Melati memandang sinis ke arah Senja.
"Dan kami tak akan menuruti kemauanmu, Steven adalah aset berharga untuk membalas keluarga Bryan. Dengan anakku, aku bisa menguasai harta mereka. Biar mereka tahu rasa sakit hatinya aku di usir dari rumah mereka." Mawar menimpali, nadanya penuh amarah dan dendam.
Mawar dan Melati langsung mengarahkan pandangan kepada Senja yang tak berdaya, tanpa mereka sadari ribuan orang tengah menyaksikan kejahatan mereka.
"Aku mohon Mawar, aku mohon." Senja mulai menangis.
"Bersiaplah untuk mati, ambil pistolnya Melati." Titah Mawar.
"Baik, kak."
Mawar segera membuka laci meja tua, ada pistol kecil di sana. Melati segera menyerahkan pada Mawar, kakaknya.
"Ada kata-kata terakhir yang mau kau ucapkan?" Mawar mengarahkan pistol tepat ke kepala Senja.
Merry semakin kebingungan, Ia tak tahu harus berbuat apa. Apakah Ia akan diam saja dan menyaksikan Senja di tembak dan mati?
Merry semakin bingung, waktunya tidak banyak untuk berfikir. Hanya beberapa detik saja.
__ADS_1
***