Ruang Rindu

Ruang Rindu
Episode 72


__ADS_3

Suara erangan disertai tubuh menggeliat membuatku serta merta meletakkan kembali ponselku ke dalam tas. Aku tersenyum menatap putriku yang matanya mulai mengerjap.


"Sayang sudah bangun?" ucapku membuatnya menoleh ke sumber suara yakni aku. Bertepatan dengan sisi pintu mobil terbuka muncul sosok Mas Pras yang membawa lagi bungkusan makanan.


"Sayangnya Papa sudah bangun ternyata, bobok siangnya nyenyak sekali?" kata Mas Pras lalu mulai mendudukan diri di kursi kemudi.


Aqila mengangguk lalu berusaha bangkit mendudukkan diri dan mulai mengucek-ngucek matanya. Dan saat aku ingin bersuara menoleh ke arah Mas Pras, kulihat dia sedang tersenyum mengamati tingkah putri kami yang memang sangat menggemaskan.


"Kenapa?" tanyanya padaku yang sadar tengah kuperhatikan.


Sejenak kami berpandangan, namun kali ini yang kurasakan hatiku malah mulai berdebar. Mulutku yang sedikit terbuka kini kukatupkan kembali, mencoba menormalkan situasi juga ingin kusampaikan ucapanku yang sempat tertunda tadi.


"A—aku biar duduk di belakang saja menemani Aqila," ucapku dengan mencoba bersikap biasa.


Mas Pras kembali menoleh ke belakang. "Aqila mau duduk depan sama Mama?" ucap Mas Pras diiringi dengan Aqila yang bangkit berdiri dari duduknya. Kali ini Mas Pras dengan sigap mengangkat tubuh Aqila lalu memindahkannya ke dalam pangkuannya.


"Aqila lapar gak?"


"Gak laper. Tadi Kila makan," sahut Aqila menjawab ucapan Mas Pras.


"Memang tadi Aqila makan apa?"


"Pisa," seru Aqila yang membuat Mas Pras menatapku.


"Cuma satu potong," sahutku cepat.


"Bener cuma satu potong?" tanyanya yang kali ini beralih menatap Aqila dan dibalasi dengan anggukan namun dibarengi dengan menujukkan dua jari ke arah Mas Pras.


Sontak hal itu membuat Mas Pras mengeram gemas. "Jadi siapa yang bener, Mama atau Aqila?"


"Ini Papa!" sahut Aqila kembali menunjukkan dua jarinya. Membuatku menatap sebal dan dengan cepat aku berujar membela. "Lagian kan makannya gak sering-sering Mas."


"Pisa enak Pa, Kila suka," celetuk Aqila dan membuat Mas Pras gemas lalu menciumi pipinya, hingga membuat Aqila tertawa cekikikan karenanya.


"Kalian ya memang kompak," ucap Mas Pras memberi tanggapan kepada aku dan putriku, yang tanpa sadar aku kini tersenyum melihat betapa dekatnya Mas Pras juga Aqila. Betapa sayangnya dia terhadap putrinya.

__ADS_1


"Mas, ngomong-ngomong sampai kapan kita berada disini?" tanyaku membuat Mas Pras menoleh.


"Sudah hampir pukul empat sore, kita langsung pulang ya?"


Sejenak aku berfikir sebelum menyetujui ucapnya, karena aku mengingat sesuatu. "Tadi pagi Mama telpon, katanya Papa sakit. Kalau misalkan Mas gak repot, boleh gak aku mampir kesana dulu?"


"Tentu, sekarang lebih baik kita langsung kesana saja."


"Mas gak ada kerjaan lagi kan?" tanyaku memastikan.


Mas Pras tersenyum tipis kemudian menggeleng. "Aqila duduk disamping Mama ya?" ucap Mas Pras dan beralih mengangkat tubuh Aqila untuk duduk di sampingku, sebab tubuh kami berdua yang sama-sama kecil membuat jok kursi muat diduduki berdua.


Lebih dari setengah jam perjalanan kami pun telah sampai di rumah orangtuaku. Tadi di jalan Mas Pras sempat membeli beberapa kantong plastik yang berisi buah tangan.


Kondisi Papa memang terlihat lemah, beliau kali ini hanya berbaring di atas ranjang dengan aku dan Aqila duduk di sampingnya.


"Kenapa Mama gak kasih kabar kalau Papa lagi sakit?" ucapku dengan memijit pelan lengan Papa.


"Kamu lagi hamil besar begini, Mama takut malah jadi pikiran," sahut Mama. "Lagian Pras juga sering kesini lihat kondisi Papa kamu. Memastikan apa saja yang diperlukan, kadang kalau lagi gak sibuk nganterin check-up ke rumah sakit."


"Papa sakit sejak kapan?"


"Belum Pa, lusa pemeriksaannya," ucapku mengelus perutku.


Kulihat kini pintu terbuka menampilkan sosok Mas Pras yang tadi sempat ijin sebentar mengambil barang bawaan yang tertinggal di mobil.


"Mas, hari ini boleh gak aku nginep sini?" ucapku meminta ijin padanya, sebab sudah lama sekali aku tak tinggal disini semenjak menikah.


Mas Pras mengangguk kemudian berjongkok di depan Aqila. "Malam ini tidur di tempat Kakek sama Nenek ya?" ucapnya pada putriku.


Aqila pun mengangguk antusias menanggapi ucapan Mas Pras.


Hingga malam tiba tak banyak yang kulakukan sebenarnya disini, hanya tadi aku menyempatkan diri menemani Papa makan di kamar beliau. Dan usai Papa istirahat aku pun memutuskan untuk masuk ke kamar.


Ada Mas Pras juga Aqila disini berada di atas kasur milikku, yang sebenarnya ukurannya tak begitu besar jika dibandingkan dengan yang ada di rumah Mas Pras.

__ADS_1


Usai pintu tertutup aku menghampiri mereka lalu duduk di tepian ranjang. "Mas tidur disini?" tanyaku padanya.


"Kamu keberatan aku berada disini?" tanyanya membuatku sedikit tersentak.


"Bukan begitu maksudku," sahutku cepat. "Hanya kasur disini tak sebesar yang ada di rumah juga gak ada sofa, kamarku kecil," sambungku mengungkapkan alasannya karena sudah beberapa bulan ini kami pisah ranjang.


"Gak mungkin Mas tidur diluar," cicitku.


"Kalau begitu kita bisa tidur bertiga disini?"


Mataku mengerjap.


"Ayo naik," ucapnya dengan menepuk kasur disisinya sementara Mas Pras menggeser tubuhnya untuk memangku Aqila.


"Mama!" sambut Aqila saat aku mulai naik ke atas ranjang, duduk bersebelahan dengan Mas Pras. Ikut menyandarkan punggungku pada pada sandaran ranjang.


"Aqila belum ngantuk?" tanyaku padanya yg sibuk memainkan ponsel milik Mas Pras.


"Kila lihat kaltun," sahutnya dengan memperlihatkan film kartun yang dia tonton.


"Mana coba Mama lihat," kataku dengan Aqila yang mencoba bangkit berdiri dari pangkuan Mas Pras. Namun aku tersentak sebab terlihat langkah kakinya yang tidak stabil membuat tubuhnya hampir terjatuh dan dengan spontan Mas Pras menarik tubuh Aqila hingga tak sempat menindih perutku.


Hingga kini yang kurasakan adalah jantung berdebar, sedikit rasa takut dan kelegaan bercampur jadi satu.


"Lain kali lebih hati-hati, ada adik di dalam perut Mama," ucap Mas Pras yang serta merta membuatku menoleh padanya.


Aqila terlihat mengangguk menanggapi ucapan Mas Pras, kemudian merangkak pelan dengan Mas Pras yang memeganginya. Lalu menuju ke arahku untuk mengelus disertai memberi kecupan pada perutku. "Maaf in Kakak ya Dik," ucapnya dengan nada mengeja.


Seperti hal kebiasaannya, Aqila memang sering melakukan hal itu. Mengelus, mencium juga menempelkan telinganya seolah mendengar apa yang ada di dalam sana. Seperti kali ini yang dia lakukan yakni memeluk perutku dengan sambil berseru, "Adik tendang-tendang Ma!"


Aku pun menanggapi dengan tersenyum dan mengelus kepalanya. Namun hal tak terduga kini terjadi, Aqila bangkit berseru pada Mas Pras dengan memberitahu apa yang baru saja terjadi.


"Papa, Adik!"


Yang terjadi sekarang justru jantungku berdebar kuat sebab tangan kecil Aqila membawa tangan milik Mas Pras untuk mendaratkannya di perutku, meski tanpa gerakan tapi mampu membuat rongga di dadaku menyesak.

__ADS_1


To be Continue


Sampai sini dulu deh.... kedepan bakal ada yg lebih manis, jadi jangan lupa Jempol, komentar juga di Vote


__ADS_2