Ruang Rindu

Ruang Rindu
Ketemu Kak Rey dan Bryan


__ADS_3

Senja terlihat agak kikuk di depan Ben, praupanya yang tampan dan dewasa membuat Sifa senyum-senyum sendiri.


"Masih jomblo Mas?" Sifa memasang mata genit, mengerling.


"Iya masih sendiri," jawab Ben masih fokus menatap Senja.


Naila menjitak kepala Sifa, "centil amat sih,"


"Awh! sakit tau," rintih Sifa segera mengelus jidatnya.


"Oh ya Pak Ben, apa Pak Ben mau beli es krim juga?" tanya Senja mengalihkan keduanya.


Ben tertawa kecil mendengar pertanyaan Senja, Sifa semakin mengagumi laki-laki tampah didepannya itu.


"Manis sekali," gumam Sifa dalam hati.


"Tidak, tidak. Saya bukan mau beli, tapi mengecek stok barang."


Sifa semakin terpana, Naila juga melongo. Hanya Senja yang bersikap biasa-biasa saja.


"Ja-jadi ini punya Mas Ben?" Sifa melebarkan matanya menelisik.


"Ya benar, saya ownernya." Ben tersenyum, menunjukan giginya yang putih dan rapi. Senyumnya begitu manis, membuat Sifa semakin menyukainya.


"Wah, Pak Ben luar biasa," puji Senja.


"Ah, belum seberapa." Sahut Ben merendah.


Naila hanya menyimak, tak berminat ikut nimbrung.


"Permisi," sapa seorang pelayan yang membawa tiga ice cream pesanan mereka.


Senja mengambil es krim vanilla kesukaannya, baru memegangnya saja wajah Kak Rey seketika melintas. Ia pernah membeli es krim bersama dan itu rasa vanilla.


"Pak Ben umur berapa?" tanya Sifa ikut-ikutan memanggil Pak, seperti Senja.


"25 tahun."

__ADS_1


"Belum ada niatan menikah?" Sifa berharap menjadi pendampingnya, huwahaha.


"Belum menemukan jodoh," jawab Ben tanpa melepas pandangan kearah Senja, seakan-akan Senja yang diinginkan dirinya, Senja jadi kikuk sendiri.


"Boleh tuh Pak saya dikenalkan sama orang tuanya," goda Sifa mulai kecentilan, dia tidak bisa tahan melihat pria tampan tanpa menggodanya.


Ben hanya tersenyum tipis, terkesan hanya menghargai Sifa.


"Oh ya, aku boleh bawa Senja dulu," ucap Ben membuat Sifa seketika merengut, Senja tampak kaget.


"Boleh," jawab Naila tanpa memperdulikan ekspresi Senja yang muram.


"Kalian tunggu aja disini, pesan es krim sesuka kalian. Gratiss."


Sifa hampir berdiri, tapi Naila dengan sigap menahannya. Ia takut Sifa lepas kendali lalu menari-nari membuatnya malu.


"HOREEE!" teriak Sifa bersemangat, "akhirnya bisa makan es krim gratis


"Gau usah teriak-teriak kenapa?" ketus Naila, perasaan tadi dia normal-normal aja.


"Ya sudah, kami duluan ya?" ajak Ben sekalian pamit kepada kedua teman Senja.


"Kita mau kemana?" tanya Senja penasaran.


"Jalan-jalan sekitar sini aja, aku pengen ngobrol-ngobrol sama kamu," jawab Ben memimpin di depan, Senja mengikuti.


Mereka berjalan beriringan kemudian, melewati trotoar entah tujuannya kemana.


"BTW makasih ya sudah mau nolong aku waktu itu," Senja teringat aksi heroik laki-laki itu ketika Steven kecelakaan.


"Ah, Sama-sama."


"Aku juga mau minta maaf sama Pak Ben kalau waktu itu aku minta tolong sambil berteriak dan maaf kalau sampai mengganggu aktifitas bapak sampai baju bapak terkena noda darah," Senja menunduk, Ia mengingat kejadian yang lalu itu. Karena panik Ia sampai tak sadar setengah membentak Pak Ben.


"Lupakan, aku tak menyimpan dendam."


Mereka terus mengobrol, perasaan hangat mulai merasuki Pak Ben. Entah mengapa sejak pertama dengan Senja, perasaannya jadi tak karuan. Senja memang tak secantik cewek yang menjadi kriterianya, tapi entah kenapa Ia begitu nyaman berasa di dekatnya.

__ADS_1


Mereka akhirnya duduk di sebuah trotoar, memandang kearah jalann yang ramai.


"Kamu haus gak?" tanya Ben.


"Lumayan," jawab Senja jujur.


"Kalau begitu, aku beli minum dulu ya?"


Baru saja beranjak, seseorang menghadang. Menatap nyalang pada Senja yang kini ikut berdiri.


"Bagus, bagus sekali!" ejek Bryan yang kebetulan melintas dan tak sengaja melihat Senja berduaan.


"Jadi memang benar, kalau kamu memang wanita murahan!" cemooh Bryan, Ben sudah mengepalkan tangannya. Entah mengapa Ia begitu benci mendengar ucapan yang memandang rendah Senja.


Senja hanya menunduk, matanya berkaca-kaca.


"Apa kataku, wanita ini hanya akting sok baik." sahut Senja ikut-ikutan memojokkan Senja, "Kamu hati-hati aja sama dia." Mawar menatap Ben yang geram.


"Jaga mulut kalian!" Bentak Ben tak Terima.


"Lo berani sama gue!" tantang Bryan mengepalkan tangannya.


"Gue gak kenal sama lo, dan gue gak mau ribut. Aku cuma minta berhenti hina Senja!" Ben mencoba sabar.


"Wanita murahan seperti dia tak perlu dibela!" balas Bryan menohok.


Bukk!!


Satu pukulan mendarat tepat di perut Bryan, Ia terhuyung jatuh memegangi perutnya.


"Gue udah peringatin lo ya." Ben melotot tajam, tangannya di tahan Senja.


"Sudah, jangan ditanggepin. Kita pergi aja." Ajak Senja sembari berlinang air mata.


Dari kejauhan tanpa sengaja Rey mendengar semua percakapan mereka, Rey semakin sakit hati dan membenci Senja.


"Ini yang kata Merry Senja dalam bahaya, yang ada Senja selingkuh sama lelaki lain. Sungguh menyesal aku mencintai dia!" gumam Rey pada dirinya sendiri.

__ADS_1


***


__ADS_2