Ruang Rindu

Ruang Rindu
Final


__ADS_3

Mereka berlima seketika terdiam sejenak mendengar suara tembakan yang cukup jelas, membuat pikiran-pikiran negatif mulai menggerayangi mereka.


Naila dan Sifa segera menutup mulut mereka yang menganga saking takutnya membayangkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi.


Di luar dugaan, Rey langsung lari tanpa aba-aba. Ekspresinya jelas ketakutan, sama dengan yang lain, tapi baru kali ini ditampakkannya sejelas-jelasnya.


Meski keheranan dan terkejut, Naila dan yang lain tanpa ba bi bu ba ikut berlari. Memang itu yang perlu mereka lakukan, tidak boleh ada yang terluka.


***


Di dalam gedung, tepatnya di lantai 2 tanpa sengaja Melati yang sudah mendapatkan pistol di tangannya tanpa sengaja melepas tembakan ke atas membuat plafon yang ada di atasnya seketika ambrol.


Niat hati ingin mengancam Merry yang sudah tak bisa berkutik, tanpa disangka tembakan itu terlepas.


Melati seketika saja tertimpa reruntuhan plafon, membuatnya ambruk ke lantai, pistolnyapun luput dari tangannya.


Beberapa meter darinya, Merry merunduk melindungi diri dengan menyilangkan tangannya ke atas kepala. Beruntung Ia cukup aman dan sama sekali tak terkena reruntuhan plafon yang sudah lapuk, ibarat kata di injak tikuspun langsung ambrol apalagi tembakan akan menghancurkan hampir setengah gedung.


Merry segera mendongak setelah reruntuhan beruntun berhenti, kemudian berdiri, matanya otomatis melihat Melati yang terkapar lemah ditimpa reruntuhan.


Merry segera mendekat, memastikan keadaan Melati, walaupun itu musuhnya rasanya tak tega melihatnya tak berdaya.


"To-tolong aku," rintihnya, membuat Merry semakin iba.


Merry yang merasa kasihan segera membantunya berdiri, menarik tubuh Melati dari reruntuhan yang menimpanya.


"Kau tak apa-apa?" tanya Merry prihatin.

__ADS_1


Melati hanya mengangguk, syukurlah sikapnya tak sejahat tadi.


"Terimakasih," kata Melati tampaknya tulus, tapi terkesan masih jahat.


"Ya, Sama-sama."


Merry kemudian membongkar beberapa reruntuhan, tentu saja Ia ingin melenyapkan piatol itu. Akan sangat berbahaya alat itu untuk keselamatan nyawanya.


Melati hanya menatap dengan seringai mencurigakan, entah apa maksudnya.


Setelah beberapa kali membongkar akhirnya Merry menemukan pistol itu, wajahnya langsung gembira.


"Kita buang itu." Celetuk Melati, "buang lewat jendela itu."


Tanpa kecurigaan apapun Merry menurut, memang itu tujuannya, tapi tanpa Ia duga saat Ia hampir sampai di jendela Melati menjegalnya.


"Bodoh!" katanya kemudian, memandang Merry yang mengernyit kesakitan.


"Bangun, dan naik ke lantai 3 atau kau ku tembak sekarang!" titahnya, terpaksa Merry menurut.


***


Di lantai 3,


Steven mulai bergerak-gerak, membuat Senja ketakutan, takut kalau-kalau Steven melihat aksinya yang tengah membekuk Ibu kandungnya dan salah paham. Hal itu akan sangat menguntungkan Mawat Mawar yang licik.


***

__ADS_1


Rombongan Rey dan keempat yang lain mulai memasuki pintu masuk.


Rio mulai mengisyaratkan kepada mereka untuk berkumpul, melakukan briving sebentar akan sangat berguna untuk tindakan berikutnya yang tidak asal-asalan dan terorganisir.


Sikap Rio bahkan terkesan lebih bijak dan masuk akal ketimbang Kakaknya Bryan yang menjadi asal muasal masalah ini terjadi, tentu istri pertamanya yang licik itu tak akan tinggal diam setelah Pengusirannya beberapa tahun lalu.


"Dengar aku, dengar." Ucap Rio lirih, setelah mereka berlima melingkar seperti regu pencari profesional.


"Kita bagi menjadi tiga kelompok, Aku dan Sifa akan langsung ke lantai 3, Rey dan Naila di lantai 2 dan Kak Bryan memeriksa lantai bawah, pastikan tak ada lagi penjahat yang masuk. Yang paling penting arahkan polisi yang sebentar lagi tiba dan beritahu lokasi kami."


Semuanya mengangguk setuju, hanya saja Naila dan Sifa agak keberatan mereka berpisah.


"Ada pertanyaan?" tambah Rio yang sekarang lebih mirip Intel.


Semuanya menggeleng, Naila mulai bertukar tempat dengan Sifa.


"Baik, kita akan melaksanakan itu. Sebelum itu, jika ada salah satu yang menemukan posisi Senja atau Steven segera beritahu yang lain dengan cara menelfon dan ku harap di masa pencarian kalian siap siaga dengan tombol panggil, itu tugas Naila dan Sifa. Paham?.


Semuanya kembali mengangguk, lalu mulai berpencar setelah Rio memberi aba-aba.


"Sekarang!"


Bryan langsung berlari ke sisi kiri gedung bagian bawah, sedangkan ke empat yang lain sama-sama menaiki undakan tangga berlumut dan licin.


"Hati-hati, ini licin." Rio yang berada paling depan memperingati.


Setelah sampai di undakan tangga lantai tiga, mereka berpisah. Naila dan Sifa saling melambaikan tangan sambil stay ponsel di tangannya seperti yang diinstruksikan oleh Rio tadi.

__ADS_1


__ADS_2