Ruang Rindu

Ruang Rindu
Bagas dan Rasta.


__ADS_3

Rindu menuruti apa yang dikatakan oleh Erin karena dia tidak menjawab pertanyaannya, dia berjalan menuju mobil yang di dalamnya ada Rasta.


Rindu kini sudah berada di samping mobil, lalu segera masuk ke dalam mobil, dia duduk di jok belakang.


"Rin?" sapa Bagas.


"Ya," jawab Rindu.


"Oh, aku kira Erin."


"Bukan, aku Rindu."


Rindu masih bermain ponsel, tanpa banyak berpikir Rindu ingin menelepon Rasta.


Namun, panggilan itu tidak ada jawabannya.


"Ih Rasta dimana sih, aku kan mau bilang sesuatu padanya," gerutu Rindu.


Rasta yang merasa tersanjung lalu meraih ponsel di dashboard mobil.


Benar saja, Rindu membuat panggilan telepon padanya.


Dia juga mengirimkan pesan chat.


"Ras, kau ada dimana? ketemuan yuk, ada pria bernama Bagas, dia sangat menyebalkan!"


Pesan itu terkirim.

__ADS_1


Si Rasta sang senang, dia merasa aneh dengan hal ini, tapi Rasta cukup terhibur.


"Aku sedang bersama keluarga di desa, maaf ya, sinyal kadang sulit."


Rasta membalas pesan itu, lalu dengan cepatnya terkirim, sebab hanya berdekatan saja.


Rindu meresponnya dengan biasa saja, dia kembali bermain tetris.


Rasta, ingin mengetes seorang Rindu.


"Kau sudah punya pacar?"


"Belum."


"Oh, kau tidak ingin memiliki pacar?"


"Malas, apalagi ada orang yang suka telat sepertimu, aku jadi malas dekat dengan seorang pria!"


Rasta minta izin sebentar untuk masuk ke dalam rumah, dia ingin menelpon Rindu.


Kebetulan Rindu tak masalah jika dia pergi, tetapi Erin sudah mencegah kepergiannya.


"Mau ke toilet?"


"Iya, bentar. Aku kebelet."


"Oke, daripada nanti kau ngompol."

__ADS_1


Rasta berjalan masuk ke dalam rumah Erin, dia sengaja masuk ke dalam kamar mandi, pakai kamuflase agar bisa menelpon Rindu.


Dia membuat panggilan kepada Rindu.


"Rindu, maaf aku baru saja mendapatkan sinyal. Kenapa? apakah ada orang yang mengganggumu?"


"Syukurlah, ada orang bernama Bagas, dia itu sangat menyebalkan dan terlambat. Dia adalah tipe pria yang paling aku benci, bagaimana bisa selalu telat padahal sudah mengatakan akan tepat waktu. Huh, hidup di dunia itu memang serba salah. Oh ya, kau ada di mana? berada di atas genting?"


"Haha, aku tidak ada di atas genting tetapi di atas menara!"


"Haha, apakah separah itu sinyal di desamu?"


"Iya, di desaku memang tidak ada apapun. Makanya Papa dan Mama, memilih untuk pindah ke kota lalu mereka berdua membuat adik."


"Haha kau sangat kocak membuatku tertawa saja!"


Rasta merasa senang karena Rindu nyaman dengannya, dia tidak pernah menyangka jika akan mendapatkan surprise ini.


Rindu berbicara dengannya meskipun belum sepenuhnya paham jika orang yang berbicara adalah Rasta, Rasta dan Bagas adalah orang yang sama.


Percakapan kembali berlangsung selama beberapa menit lalu, sang pria pura-pura sinyalnya sudah hilang.


Alhasil panggilan telepon itu terputus.


"Hm, Rindu adalah gadis yang sangat manja dan baik, aku tidak akan melepaskannya tetapi dengan identitas Rasta! identitas Bagas hanya sebagai kamuflase, biasalah usaha untuk seorang pria mendapatkan gadis! aku kembali mengetesnya lagi, jika dia memang menyukai Rasta pasti dia tidak mau memberitahukan apapun kepada Bagas. Haha, aku memang cerdas dalam menjerat seorang gadis yang sangat cantik! ye, punya aku mendapatkan teman gadis yang sangat pro terhadapku. Hm, meskipun ada gadis lain juga yaitu Cahaya."


Sang pria terlalu lama di toilet dan mendapatkan panggilan telepon dari Erin.

__ADS_1


"Cepat Rasta!"


*****


__ADS_2