Ruang Rindu

Ruang Rindu
Pak Ben


__ADS_3

Semenjak kejadian itu, tepatnya setelah Steven kecelakaan. Senja benar-benar tak pernah kembali ke rumah Bryan atau Papa Hendra, Ia juga tak pernah bertemu dengan keluarga mertuanya itu. Ia sudah tak punya muka sekedar memelas untuk dikasihani, sudah cukup dan tak perlu memperpanjang masalah.


Ada perasaan lega, tapi ada juga perasaan sedih. Lega karena bisa lepas dari Bryan dan kontrak yang menyulitkan hidupnya, sedih karena Ia sudah terlanjur sayang dengan Steven. Sayang dengan kedua mertuanya, nyaman dengan semua keluarga dari mertuanya yang menerimanya dengan baik.


Senja tak bisa melakukan pembelaan apapun, toh tak ada yang percaya padanya. Surat perjanjian kontrak itu sangat jelas sebagai bukti bahwa Ia melakukan pernikahan bukan dasar ketulusan, tapi karena adanya perjanjian. Tapi di balik itu, Ia iklas menikah tanpa adanya niat yang telah disebutkan oleh Bruan. Kini, Ia hanya pasrah dengan nasibnya, tak ada yang tahu bahwa Ia terpaksa melakukan kontrak itu demi menyelamatkan nyawa Ibunya. Ia juga tak tahu jika yang tertuang dalam perjanjian itu adalah pernikahan, karena Ia tak pernah membaca sebelumnya.


Hari-harinya masih sulit Ia terima, rentetan kejadian itu membuatnya tak berani keluar rumah.


Banyak tetangga yang mencibir dirinya karena berita yang beredar, mereka tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hanya Ibunya dan kedua sohibnya yang tak pernah menyalahkan dirinya, walau mereka tak tahu tentang kontrak itu. Ia juga siap dibenci jika kedua sohibnya sudah tahu tentang kontrak itu, Ia tak akan menyalahkan sikap mereka setelah tahu, lambat laun Ibu dan kedua sohibnya akan tahu tentang perjanjian kontrak yang merusak tatanan hidupnya. Ia hanya menunggu waktu hingga semua membencinya, sungguh sulit baginya menerima kenyataan yang begitu pahit.


Sinar matahari merambat melalui celah tirai jendela membuat Senja silau, kemudian mengerjap pelan sembari mengucek matanya yang masih mengantuk.


Ia bangun, membuka jendela kamar lalu merentangkan otot-ototnya dengan gerakan ringan.


Senja mensugesti dirinya untuk bangkit, tak akan ada habisnya memikirkan apa yang terjadi di belakang, yang perlu Ia lakukan sekarang membuat mentalnya kembali kuat.


Aku pasti bisa!


Senja meraih segelas air putih di atas meja nakas, duduk lalu meminumnya.


Drrt.. Drrt...


Handphone miliknya bergetar, Senja segera meraihnya dari atas bantal.


Kedua alisnya saling bertaut, keningnya juga mengkerut setelah melihat banyak sekali pesan dari seseorang.


"Pak Ben," lirihnya.


Senja langsung membuka aplikasi whatsapp.


"Pagi Senja ☺"


"Kebentulan hari ini aku libur, apakah boleh main ke rumahmu?"


Seketika Senja meletakkan handphone miliknya, kedua tangannya memegangi kepala.


"Bagaimana ya?" tanyanya pada diri sendiri.


"Aku bingung harus bales apa? tak mungkin aku menolaknya, dia adalah orang yang membantu disaat Steven kecelakaan. Pak Ben juga sangat baik, tak ada salahnya aku menerima tawarannya."


Senja berdebat dengan dirinya sendiri, memutuskan apa yang akan dipilihnya.


Senja meraih ponselnya kembali, membuka percakapan di whatsapp, akhir-akhir ini Pak Ben sangat peduli padanya.

__ADS_1


"Boleh Pak, silahkan." balas Senja singkat lalu menutup aplikasi.


Senja segera menyambar handuk, niatnya mau mandi sebelum Pak Ben datang.


Baru menginjak pintu, Senja segera kembali. Mengambil ponselnya dan membuka aplikasi whatsapp untuk ketiga kalinya.


"Eh, Bapak gak usah dateng. Kita ketemuan di taman kota aja Pak, saya naik taksi jangan di jemput, " tulis Senja di halaman chat.


Beruntung masih centang satu, yang berarti belum terlambat. Ia segera menghapus chat sebelumnya, lalu pergi mandi.


***


Di taman kota,


Pak Ben sudah duduk menunggu di sebuah kursi, memainkan ponselnya sambil sesekali tertawa. Senja dari kejauhan segera menghampiri.


"Eh, Senja. Apa kabar?" sapa Pak Ben tersenyum ramah.


"Baik Pak Ben, anda sendiri bagaimana?" Senja tersenyum manis, membuat Pak Ben terpana sesaat.


"Oh, yah seperti yang kau lihat," Pak Ben beranjak sambil sesekali tersenyum, wajahnya terlihat sangat gembira.


"Apa kau mau es krim?" Pak Ben menunjuk dengan dagunya seorang pria yang menjajakan es krim keliling.


Senja duduk, menatap Pak Ben yang setengah berlari menjauh. Tak ada perasaan apapun yang ia tanamkan, Ia menganggap sikap Pak Ben adalah karena memang beliau orang baik.


Tak ada sedikitpun ide untuk menjalin hubungan, tak akan ada yang mau dengan dirinya yang kini sudah benar-benar tak ada harganya.


Masih asik melamun, seseorang datang. Tapi bukan Pak Ben.


"Senja!" panggil orang itu dari arah belakang, membuat Senja menoleh.


"Mau apa lagi kamu?" ketus Senja melihat Merry orang yang merusak semua hidupnya berdiri di depannya.


"Jauhi Bryan!" balas Merry tegas.


"Apa kau tak tahu bahwa itu sudah terjadi, bukankah kamu yang membongkar tentang kontrak itu?" Senja membalas dengan pedas, Merry sampai ternganga melihat Senja yang mulai berani melawan.


"Apa?!" Merry memasang muka bingung, wajahnya terlihat kesal dan marah walau seharusnya Senja yang marah.


"Sudah puas sekarang?" Senja melotot, "aku harap kau tak akan mengurus kehidupanku lagi, pergi!!" usirnya.


Merry benar-benar membuat hidup-Nya berantakan, memaksanya menikah dengan Bryan dan terakhir Merry juga yang membuatnya dibenci oleh mertuanya gara-gara surat kontrak itu ada di tangan Mawar yang jelas-jelas membenci kehadirannya ditengah hubungannya dengan Bryan.

__ADS_1


Merry mendengus kesal, Ia seperti kalah telak tak bisa melawan. Pelototan Senja membuat nyalinya ciut, lalu pergi, tepat semenit sebelum Pak Ben datang dengan dua icecream ditangannya.


"Apa kau sangat menyukai Vanilla?" tanya Pak Ben, Ia masih ingat di tokonya Senja memesan rasa Vanilla.


"Ya, karena itu ice cream pertama yang pernah dibelikan ayahku," Senja mengingat momen bersama ayahnya tempo dulu, matanya seketika berair.


"Begitu rupanya," Pak Ben menggigit ujung icecreamnya, diikuti oleh Senja yang cepat-cepat menyeka air matanya.


Drrt.. Drrt...


Senja membuka tas mungilnya, mengambil ponselnya.


Apa sih maunya si Merry


Senja membuka pesan chat dari Merry dengan perasaan sangat kesal, Ia sangat membenci saudara tirinya itu.


"Jauhi Bryan!"


Senja segera menyipitkan matanya, bukankah ia sudah jauh sejauh-jauhnya dengan laki-laki itu? segatal itukah Merry sampai sebegitu menginginkan Bryan? laki-laki yang tak akan pernah mencintainya.


"Apa kau tak kuliah?" tanya Pak Ben, membut Senja segera membalik ponselnya.


"Iya Pak Ben, dengan beasiswa FULL," jawab Senja apa adanya, tak mau bertele-tele.


"Wow luar biasa, kau hebat." puji Ben, sorot matanya berbinar.


"Pak Ben terlalu memuji, Pak Ben juga hebat masih muda tapi sudah jadi owner."


Pak Ben tak menjawab, Ia yakin ini sulit untuk disangkal.


Senja menatap kearah jalan, kenangan bersama Kak Rey kembali memutar di otaknya.


Drrt... Drrt...


Ponselnya kembali bergetar, membuyarkan lamunannya. Ia yakin ini pasti si Merry.


Sebuah pesan anonim, tanpa nama membuat ketakutan itu kembali membuat tubuhnya gemetaran.


Dengan tangan yang gemetar, Senja memberanikan diri membuka pesan itu.


"Saatnya permainan kedua dimulai!"


Escrem miliknya seketika terjatuh, berhasil membuat Pak Ben keheranan. Keringat dingin mulai menjalar di tubuhnya, kejadian yang menimpa Steven dengan ancaman yang sama masih melekat di otaknya.

__ADS_1


***


__ADS_2